Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 156. Alasan


__ADS_3

Ronald memegangi kepalanya, berushaa fokus sebisa mungkin, mengangkat tangannya yang tidak bertenaga, bergumam dengan tidak jelas, “Orang-orang yang tidak berhubungan, semuanya keluar!”


Bibi Vera dan Ria bergegas keluar sekalian menutup pintu.


Ronald menatap Ivonne dengan ekspresi sedikit emosional, “Kamu … kamu tidak bisa marah.”


Ivonne berkata, “Aku tidak marah.”


“Kamu bohong!” Ronald mengingat apa yang terjadi malam sebelumnya, aneh jika Ivonne tidak marah!


“Kamu mabuk!”


Ronald menepuk meja, “Aku tidak mabuk.”


Ivonne menatap telapak tangan Ronald, tangannya sudah merah dan bengkak, “Sudahlah, aku tidak marah.”


“Kamu pasti marah, aku tidak percaya padamu.” Ronald menuduh, melampiaskan emosinya mumpung sedang mabuk, “Kamu yang terus bertanya, aku sudah berkata tidak ada tapi kamu terus bertanya.”


“Baik, aku salah, tidak seharusnya aku bertanya.” Ivonne tidak memperhitungkan dengan Ronald, selama dua hari terakhir Ivonne juga merasa tidak nyaman.


Ronald mulai terus mencecar, “Kamu boleh bertanya, tapi tidak bisa terus menanyakannya, aku sudah berkata tidak ada tapi kamu masih tidak percaya dan masih ingin menanyakannya.”


Ivonne sudah tidak bisa menahannya, “Jika aku tidak terus bertanya maka kamu juga tidak akan mengatakannya.”


“Aku sudah mengatakan tidak ada!” Pandangan mata Ronald penuh dengan dendam.


Ah, Ronald ternyata sedang mengeluh, “Tapi faktanya kamu melakukannya!”


Ronald berkata dengan marah, “Tidak, karena kamu menertawakanku jadi aku berkata ada.”


Ivonne tercengang, “Apa maksudmu? Apanya kamu berkata ada karena aku menertawakanmu? Jika aku tidak menertawakanmu maka tidak ada?”


“Tidak ada!” Ronald berkata dengan sungguh-sungguh, pandangan matanya masih penuh dengan tuduhan.


“Aku ingin tahu detailnya!” Ivonne menatap Ronald.


Ronald menyusutkan lehernya, meski mabuk tapi Ronald masih tidak bisa menahan panas di wajahnya, “Yang pasti memang tidak ada.”


Ivonne melipat tangannya, “Baik, aku percaya kamu tidak.”


“Kamu tidak percaya!” Ronald mengamuk, memicingkan matanya menatap Ivonne, “Wanita pembohong!”


Ivonne menghela nafas, sudahlah, karena sudah tidak bisa menahan lagi Ivonne menggebrak meja dan melotot dengan marah, “Sebenarnya ada atau tidak!”


Ronald menggaruk kepalanya, “Tidak ada!” Kenapa tiba-tiba begitu galak?


“Setiap pangeran pasti melakukannya, itu adalah aturan di istana, kamu yang mengatakannya.” Ivonne bertanya dengan tegas.


Ronald terpaku untuk sesaat, “Ibu menghabiskan banyak uang dan juga membujuk Ayah.”


“Kenapa?” Ivonne terpaku.


Ronald memalingkan wajahnya dengan canggung, “Pelayan itu terlalu jelek.”


Ivonne menatap Ronald, hampir tidak bisa mempercayai telinganya sendiri, “Terlalu jelek? Bukankah kamu berkata tampang dan tubuhnya sangat bagus?”

__ADS_1


“Itu yang dipikirkan Ayah, tapi aku merasa terlalu jelek.” Ronald menjelaskan.


Ivonne sedikit tidak bisa mempercayainya, “Tapi kamu ingat namanya adalah Pear.”


“Mengobrol selama tiga hari di kediamanku, siapa yang tidak bisa ingat?” Ronald merasa dirinya sudah akan muntah darah, kepalanya terlalu pusing dikarenakan sangat marah bahkan matanya ini sudah berbayang.


Ivonne sebenarnya tidak terlalu peduli mengenai hal ini, tapi bagaimana mungkin seorang remaja berdarah panas yang diperintahkan untuk melakukan hal itu malah hanya mengobrol saja dan tidak melakukannya?


“Bukankah kamu berkata dia jelek, apa itu karena kamu memiliki Clara di hatimu pada saat itu?” Tanya Ivonne.


“Aku tidak pernah memikirkannya.” Kata Ronald tapi ekspresinya sedikit aneh.


Ivonne menatap Ronald, “Jadi malam sebelum aku terluka, itu adalah saat pertama kalinya kamu melakukannya denganku? Katakan dengan jujur, aku tidak akan marah.”


Ronald menggelengkan kepalanya, “Bukan!”


Ivonne segera bangkit dan berbalik badan ingin pergi keluar.


Ronald bergegas bangun, “Kamu berbohong lagi, kamu sudah berkata tidak akan marah.”


Ivonne mengulurkan tangan ingin membuka pintu, Ronald bergegas menghampiri tapi karena langkahnya terhuyung Ronald tersandung dan jatuh ke lantai, tapi Ronald masih tidak lupa untuk menjelaskan, “Pertama kali itu adalah ketika Ratu memaksa kita melakukannya.”


Oh benar juga.


Ivonne bergegas menoleh dan membantu memapah Ronald, “Aku bukan marah, aku ingin melihat apa Letty sudah selesai membuat sup pereda mabuknya atau belum, aku sudah berkata aku tidak marah.”


Ronald menundukkan kepalanya dan menggigit pergelangan tangan Ivonne.


Enggan menggunakan terlalu banyak tenaga tapi juga tidak mau kehilangan harga dirinya, giginya itu menggigit Ivonne tapi tidak meninggalkan bekas gigitan yang dalam.


Mata Ivonne melembut, “Baik, kita tidak akan bertengkar lagi.”


“Peluk!” Ronald menarik Ivonne masuk ke pelukannya, seluruh tubuh Ronald ditekan di tubuh Ivonne, mereka berdua terjatuh.


Ivonne tertawa, “Ini di lantai, ayo pergi ke ranjang.”


Ronald menekan Ivonne di bawah dan tidak bergerak sama sekali.


“Ronald, bangun!” Ivonne menepuk punggung Ronald.


Suara dengkuran terdengar di telinga Ivonne.


Ivonne menjatuhkan kedua tangannya dengan lemah, bagus, Ronald tertidur!


Pada akhirnya, mau tidak mau Ivonne harus memanggil Rendi untuk memindahkan Ronald.


Ivonne menggosok punggungnya, pria itu begitu berat.


Sup pereda mabuk itu juga tidak bisa diminum, ditepuk dengan cara apapun Ronald tidak bangun jadi Ivonne hanya bisa membiarkannya tidur.


Memakai piyama, Ivonne berbaring di dada Ronald, apa mungkin tidak ada? Mengatakan pelayan itu jelek? Benar-benar sombong.


Ivonne tersenyum, meskipun kredibilitasnya tidak tinggi, tapi Ronald mungkin berbohong karena Ronald takut dirinya marah, tapi tidak peduli bagaimanapun bisa dilihat Ronald benar-benar peduli padanya.


Ivonne benar-benar sudah tidak mempedulikannya lagi.

__ADS_1


Tapi apakah benar-benar tidak ada?


Memikirkan pertanyaan ini, Ivonne mengantuk, menguap, kemudian perlahan-lahan dia tertidur.


Tidur hingga tengah malam, Ivonne merasa ada sepasang tangan yang sedang menggerayanginya, ada sesosok tubuh yang menekannya.


Ivonne membuka matanya, sebelum sempat berbicara bibirnya sudah dibungkam, seperti nyala api yang dengan cepat membakarnya.


Ivonne kembali memejamkan matanya, tidak ada tenaga untuk melawan, dirinya terlalu mengantuk.


Bibir Ronald meluncur turun menuju tulang selangka, kemudian kembali bergerak ke bawah dan berhenti di depan dadanya, Ivonne mengambil napas, seluruh sel di dalam tubuhnya bergejolak.


Ivonne memeluk punggung Ronald yang kokoh, mendesah dengan ringan dan nyaman, merasakan api hangat yang menyebar di bawahnya.


Gerakan Ronald sama sekali tidak lembut, Ronald bergerak dengan liar dan gila, ketika Ronald memasukinya, Ivonne masih merasa sedikit kesakitan, tapi itu hanya sedikit, dengan cepat seiring dengan gerakan Ronald, yang tersisa hanyalah gairah saja.


Orang yang mabuk pada dasarnya tidak terlalu bisa berpikir, hanya bisa bergerak seiring dengan keinginannya saja.


******* yang dihasilkan di kamar bahkan membuat Becky merasa malu dan menyusut ke dalam rumah anjingnya sendiri.


Setelah itu, pikiran Ronald sudah sedikit tersadar, mungkin dikarenakan berkeringat sekujur tubuh jadi memancarkan bau alkohol.


Ronald memeluk Ivonne, bibir Ronald masih bergerilya di telinga Ivonne.


Ivonne kelelahan dan berkata, “Cepat tidur.”


“Tidak mau tidur, tidak mengantuk!” Ronald bergumam, “Kamu mengabaikanku selama dua hari, aku harus menebusnya kembali.”


Ivonne melepaskan tangan Ronald, membuka matanya untuk menatap Ronald, “Benar tidak tidur?”


“Tidak tidur!” Pandangan mata Ronald begitu dalam.


Ivonne tersenyum dengan nakal, berbalik badan dan menekan Ronald, menempelkan seluruh tubuhnya di atas tubuh Ronald, “Baik!”


Pandangan mata Ronald semakin menggelap, menatap Ivonne dengan penuh harap.


“Kenapa tidak?” Ivonne masih bergumul pada masalah ini, tapi Ivonne juga memberinya rasa manis, bibir Ivonne bergerilya di samping telinga Ronald.


Ronald berkata, “Aku memiliki penyakit.”


“Penyakit apa?” Ivonne terkekeh, menghmebuskan nafas pelan di samping telinga Ronald, membuat Ronald sedikit gemetar.


“Bukankah aku harus minum obat ketika melakukannya pertama kali denganmu?” Ronald berkata pelan, sepertinya itu adalah hal yang sangat memalukan.


“Itu karena kamu tidak tertarik padaku, kamu yang mengatakannya.” Kata Ivonne.


Ronald memeluk Ivonne, “Aku juga tidak tertarik pada pelayan jelek itu.”


“Benarkah?”


Ronald dengan jujur berkata, “Karena itu Ibu mengira aku memiliki penyakit, menghabiskan uang untuk menyogok Bibi dan pelayan itu dan menyembunyikan hal ini di hadapan Ayah.”


Ivonne bingung, “Mengapa harus menyembunyikannya? Bukankah bisa memberitahu Ayah secara langsung?”


Ronald berkata dengan datar, “Jika pangeran memiliki penyakit di bagian itu maka sudah dipastikan tidak ada kemungkinan untuk memiliki keturunan.

__ADS_1


__ADS_2