
Ada kolam air panas di kediaman Ronald.
Tapi kolam air panas ini cukup aneh, tidak ada air yang mengalir di musim panas, hanya ada di musim semi, gugur dan dingin.
Sebelumnya, di kolam ini sama sekali tidak ada air, tapi Yanto melaporkan dua hari yang lalu bahwa mata airnya mulai mengeluarkan air, jadi kolam air panas ini juga sudah mulai terisi air.
Karena Ivonne terluka sebelumnya jadi Ronald tidak membawanya kemari, ditambah Ronald juga disibukkan oleh kasus yang ditanganinya.
Hari ini, semuanya sudah jelas, dan lagi sekujur tubuh mereka berdua benar-benar bau, yang terbaik adalah membersihkan badan mereka dengan air panas yang mengalir.
Kolam air panas ini terletak di belakang Paviliun Eternity, ada dua sumber mata air dan letaknya berdekatan, kolam yang dibangun juga tidak terhitung besar, sekitar seluas setengah ruangan yang besar.
Ivonne melirik sekilas kolam air panas itu yang ternyata diberi nama, “Kolam Hantu”.
Ivonne tertawa, “Mengapa dinamakan Kolam Hantu? Nama ini tidak sesuai dengan pemandangannya.” Ivonne sama sekali tidak memiliki kesan pada kolam air panas, sepertinya Ivonne yang asli juga tidak tahu.
Benar juga, pemilih tubuh asli ini sudah menikah begitu lama bahkan tidak pernah datang ke Paviliun Eternity, jadi sudah pasti dia tidak tahu.
“Karena kolam ini penuh dengan keanehan, ketika hujan turun di musim panas, di kolam ini malah sama sekali tidak ada mata air yang mengalir keluar, ketika musim gugur dan dingin yang kering, di kolam ini malah mengalirkan air, menurutmu apa ini bukan kolam hantu?” Ronald berkata sambil tertawa.
Ronald mengambil pakaian dari tangan pelayan kemudian menutup pintu, Letty dan Ria menunggu di luar.
Ada sebuah lemari pakaian di samping kolam air panas itu dan juga ada sebuah tirai penghalang, Ronald menaruh pakaian bersih itu di atas tirai penghalang, di dinding ada sebuah mutiara yang tertanam jadi tidak perlu lilin atau lentera sudah cukup untuk menyinari.
Hanya saja cahayanya itu tidak cukup terang, terutama ketika kabut air panas menyelimuti, suasana di sekitar makin terlihat kabur.
Di sini sangat romantis dan nyaman.
Ivonne kemudian bertanya, “Ini adalah tempat yang bagus, tidak tahu berapa banyak wanita yang kamu bawa ke sini?”
Ronald membuka pakaian Ivonne, “Hanya ada beberapa, apa aku perlu mengatakannya dengan jelas padamu?”
Ronald melihat luka di bahu Ivonne, luka itu sudah tertutup sepenuhnya, seharusnya tidak masalah jika berendam air panas.
Ivonne berkata, “Baiklah, katakanlah, aku akan mendengarkan.”
Mata Ronald menatap lurus, “Baik, masuk ke dalam air dulu, aku akan mengatakannya padamu perlahan-lahan.”
“Apa yang kamu lihat? Aku akan mencongkel matamu.” Wajah Ivonne panas dan berkata dengan galak pada Ronald.
Mata Ronald menggelap, “Apa kamu rela?”
Ronald merentangkan kedua tangannya dan berkata, “Buka pakaianku.”
“Apa tanganmu cacat? Apa orang yang sedang terluka ini harus melayanimu?” Ivonne berkata dengan marah, tapi kedua tangannya sudah naik ke kerah leher Ronald.
“Bisa tidak? Buka sabuk terlebih dulu.” Ronald membungkuk dan mencium bibir Ivonne, tidak menyentuh Ivonne selama beberapa hari, dirinya sudah tidak sabar.
__ADS_1
Tadinya dia hanya berencana untuk mencium sekilas, tapi ketika bibir mereka bersentuhan, api gairahnya seketika menyala, Ronald memeluk Ivonne dengan erat seakan ingin menekannya masuk ke dalam tubuhnya.
Ivonne dicium hingga terbuai oleh Ronald, tubuhnya lemas dan napasnya menjadi terengah-engah.
Tapi Ivonne akhirnya mendorong Ronald dengan rasional, “Tubuhku bau, aku akan membersihkan tubuhku dulu.”
“Tidak, lagipula tubuhku juga bau.” Bibir Ronald sudah bergerak ke tulang selangka Ivonne dan terus bergerak turun.
“Jangan.” Ivonne tidak memiliki kekuatan untuk menolak, malah seakan Ivonne menginginkan tapi juga menolak.
Namun ketika teringat mereka baru saja menyentuh mayat dan juga seluruh tubuh mereka berbau mayat, Ivonne seketika berpikiran jernih, “Lepaskan dulu, aku tidak bisa berkonsentrasi, otakku penuh dengan bayangan mayat itu.”
Ronald dengan enggan melepaskan Ivonne, ketika mengungkit mayat, Ronald benar-benar kehilangan minatnya.
Ronald menanggalkan pakaian Ivonne dengan hati-hati, kemudian melepas pakaiannya sendiri baru keduanya masuk ke dalam air.
Air hangat dengan bau belerang melingkupi mereka, Ivonne hanya merasa seluruh tubuhnya dari atas kepala hingga kaki seketika merasa rileks.
Ivonne menghela nafas dengan nyaman.
Ronald mendekatkan tubuhnya kemudian dan berputar ke belakang tubuh Ivonne untuk mencuci rambut Ivonne.
Rambut Ivonne hitam dan halus, ketika digerai dan basah karena terkena air, rambut itu tampak seperti satin berwarna hitam, begitu lembut dan halus saat disentuh.
Ronald mengambil sampo untuk mencuci rambut Ivonne, menggosoknya dengan lembut, memasukkan jari-jarinya di antara rambut Ivonne, menekan ujung jarinya sedikit lebih keras ke kepala Ivonne, Ivonne menghela nafas dengan nyaman, jika Ronald tidak bekerja di Jingzhaofu, sepertinya dia bisa menjadi orang yang melakukan pekerjaan keramas.
Terutama karena Ronald mencuci rambutnya, hal ini benar-benar membuatnya terkejut.
Lagipula dari hari pertama Ronald muncul dalam hidupnya, dia itu begitu sombong, kejam dan juga dingin.
Siapa yang menyangka dia adalah pria yang di luar terlihat keras tapi berhati lembut?
“Sebutkan wanita-wanitamu itu!” Ivonne berkata sambil memejamkan matanya.
“Tidak ada, hanya bercanda!” Ronald berkata sambil tertawa.
Ivonne berkata, “Aku tidak percaya padamu, itu bukan pertama kalinya bagimu.”
Wajah Ronald memerah, tapi untungnya Ivonne memunggunginya jadi Ivone tidak melihatnya.
“Siapa yang berkata bukan?” Kata Ronald dengan lemah.
Ivonne berbalik dan menatapnya, “Aku yang berkata bukan, aku benar-benar penasaran dan tidak akan benar-benar cemburu, kamu, ceritakan bagaimana saat pertamamu.”
Ronald menghindari tatapan mata Ivonne, “Kenapa kamu menanyakan ini? Apa bagusnya menanyakan ini?”
“Aku hanya penasaran, aku ingin mendengarnya, cepat katakan.” Ivonne melingkarkan kedua tangannya di leher Ronald dan berkata dengan nada yang agak manja.
__ADS_1
“Tidak!” Ronald memutar tubuh Ivonne dan terus mencuci rambutnya.
Ivonne menghela nafas, “Tadinya kupikir di antara suami dan istri harus bisa jujur satu sama lain, tidak kusangka masih ada yang kamu sembunyikan dariku.”
Ivonne mengambil langkah maju ke depan, menjaga jarak dengan Ronald, “Aku akan mencucinya sendiri, tidak perlu merepotkanmu.”
Ronald memeluk Ivonne, mencondongkan kepalanya di lekuk leher Ivonne, “Marah?”
“Tidak, aku hanya merasa di antara kita tidak cukup jujur, aku sudah memberitahumu segalanya, bahkan mengenai kotak obat juga, tapi kamu bahkan tidak ingin memberitahuku hal ini.” Suara Ivonne sedikit sedih.
“Bagaimana bisa hal itu sama?”
Ivonne berkata, “Aku sudah mengatakan aku tidak akan marah.”
“Kalau begitu kamu berjanji.” Ronald membalikkan tubuh Ivonne, “Kamu berjanji tidak akan marah padaku dan juga tidak boleh cemburu.”
“Aku janji!” Ivonne mengangkat tangannya dan membuat tanda untuk bersumpah.
Ronald menarik tangan Ivonne turun, memeluknya kemudian berkata, “Baiklah, aku akan memberitahumu, sebenarnya tidak ada yang perlu dibicarakan, setiap pangeran ketika mencapai usia 16 tahun akan ada orang yang mengajarkan mengenai kegiatan di ranjang. Dan juga akan dipilih seorang pelayan pengajar dengan penampilan dan kualitas yang bagus untuk dikirim ke tempatku dan dibimbing oleh Bibi.”
Ivonne kemudian bertanya, “Siapa nama pelayan itu?”
“Pear!”
Ivonne mendengus, “Pear, tidak heran kau sangat menyukai buah pir, ternyata karena alasan ini.”
“Mananya dikarenakan hal ini?” Ronald berkata dengan marah, “Jika tidak menyebutkannya, aku sudah lama melupakan pelayan yang bernama Pear itu.”
“Lalu bagaimana setelahnya dengan pelayan yang bernama Pear itu? Tidak mengikutimu keluar dari Istana?” Tanya Ivonne.
“Tidak, hanya melayani beberapa hari di kediamanku kemudian dia dibawa pergi.” Kata Ronald.
Ivonne menjawab sekilas, perlahan-lahan melepaskan tangan Ronald, “Beberapa hari? Seberapa bahagia dirimu beberapa hari itu?”
“Aku sudah tidak ingat.” Ronald menatap wajah Ivonne yang tiba-tiba berubah menjadi acuh, Ronald mengerutkan kening, “Kamu sudah berkata tidak akan marah.”
“Aku tidak marah, siapa yang marah?” Ivonne mengulas senyum tajam, matanya memicing, “Jangan berpikiran terlalu banyak, aku benar-benar tidak marah, bukankah itu hanya pelayan untuk mengajarimu saja? Itu hal normal.”
“Lalu untuk apa kamu menghindar?” Ronald menarik Ivonne kemudian mendekatkan bibirnya, Ivonne menundukkan kepalanya dan menghindari Ronald, “Tunggu sebentar, aku akan mencuci rambutku dulu.”
Ivonne menyelam masuk ke dalam air, rambutnya melayang di permukaan air untuk waktu yang lama, sama sekali tidak bergerak.
Ivonne sangat marah seakan dirinya sudah akan meledak.
Beberapa hari? Mengapa tidak pergi mati saja? Apa perlu beberapa hari untuk mengerti akan hal itu? Sekali saja sudah cukup, tidak, bahkan tidak perlu satu kali karena hal ini adalah naluriah.
Tidak perlu seorang pun untuk mengajarinya.
__ADS_1