Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 127. Apa Kamu Merindukanku?


__ADS_3

Rendi kemudian menyelinap masuk ke rumah, pergi ke ruang akuntan, ingin mengambil barang yang dibutuhkannya.


Orang yang bertugas di ruang itu adalah adik sepupunya, mendengar Rendi menginginkan seribu lembar kertas, matanya melebar, “Begitu banyak? Kamu harus pergi ke gudang untuk mengambilnya. Mintalah kuncinya pada Tuan Yanto dan ambil sendiri.”


Rendi hanya bisa pergi mencari Yanto.


Yanto kebetulan datang untuk memeriksa tagihan, mendengar Rendi ingin mengambil seribu lembar kertas, dia kemudian bertanya, “Untuk apa kamu meminta begitu banyak kertas?”


Wajah Rendi sangat memelas, “Tuan Yanto, kamu harus membantuku kali ini.”


“Kenapa?” Yanto bertanya dengan bingung, dia belum pernah melihat Rendi yang ingin menangis seperti ini.


“Yang Mulia menghukumku untuk menyalin seribu kata kesopanan, keadilan, integritas dan rasa malu, kesopanan dan keadilan aku bisa menulisnya, tapi bagaimana cara menulis integritas dan rasa malu?”


Yanto mengangkat alisnya, “Aneh, kamu sudah pasti tidak bisa menulis integritas dan rasa malu. Kamu juga tidak memiliki rasa malu, mengapa kamu bisa menulis kesopanan dan keadilan? Apa kamu memilikinya?”


Rendi menghentakkan kaki, “Kamu masih menertawaiku? Aku sudah menyedihkan seperti ini, kamu tidak membantuku, jangan berharap aku akan membantumu di kemudian hari.”


Yanto tertawa, “Kapan kamu membantuku?”


“Suatu hari pasti akan ada hari di mana kamu membutuhkan bantuanku.” Rendi berkata dengan benci.


Yanto tersenyum, mengambil kunci dan pergi bersamanya, “Ayo pergi, ke gudang untuk mengambil kertas, tapi kamu harus memberitahuku mengapa kamu dihukum oleh Yang Mulia.”


Rendi berjalan sambil mengeluh, “Aku mengendarai kereta kuda pulang, ketika sampai, aku membuka tirai dan mempersilahkan Yang Mulia dan Permaisuri untuk turun dari kereta kuda. Siapa tahu di dalam begitu panas, Yang Mulia dan Permaisuri keduanya berkeringat, kerah leher Permaisuri terbuka, aku melihatnya sekilas, Yang Mulia langsung memarahiku.”


Yanto terpaku, menghentikan langkahnya, “Benarkah?”


Rendi berpikir Yanto tidak percaya padanya, berkata dengan menekankan nada bicaranya, “Tentu saja itu benar, sebenarnya aku tidak melihat apa-apa, Yang Mulia, lalu marah. Yang Mulia semakin aneh akhir-akhir ini, kamu tidah tahu, hari ini terjadi sebuah kasus, kasus yang begitu menyedihkan, hampir saja sekeluarga dibunuh, Yang Mulia malah tersenyum, bukankah itu keterlaluan?”


“Benarkah?” Yanto berpikir.


“Ya, tidak hanya Permaisuri saja yang berubah, tapi sekarang bahkan Yang Mulia juga berubah.” Rendi menghela nafas, “Tapi Permaisuri berubah menjadi lebih baik, Yang Mulia berubah menjadi jahat.”


Yanto mengulurkan tangan dan menjitak kepalanya, “Dan kamu berubah menjadi bodoh.”


Rendi melotot sekilas padanya, “Tidak bisa seperti itu juga, dulu aku juga bodoh.”


“Bagus jika kamu tahu!” Yanto tersenyum, “Ayo pergi, salin hukumanmu.”


Yanto berada dalam suasana hati yang baik, Rendi bodoh, dia tidak bodoh, apa yang terjadi di dalam kereta kuda, Yanto tahu.


Ini adalah hal yang baik, dan lagi Permaisuri sekarang dipandang oleh Kaisar dan juga Paduka Kaisar, itu sangat baik, dengan watak Permaisuri sekarang, memang cocok untuk menjadi nyonya rumah dari kediaman ini.

__ADS_1


Ronald dan Ivonne juga masuk ke dalam, Ivonne sudah makan malam di Kediaman Indra, tapi Ronald masih belum makan.


Ronald mengantarkan Ivonne kembali ke Paviliun Serenity, kemudian ada pelayan yang memanggil Ronald kembali ke Paviliun Eternity untuk makan malam.


Ronald menatap sekilas pada Ivonne, “Sudah makan?”


“Sudah.”


Ronald menjawab sekilas, “Apa kamu ingin makan lagi?”


Ivonne tidak ingin makan lagi, tapi dia mendengarkan pelayan memanggil Ronald kembali ke Paviliun Eternity untuk makan, Ivonne sepertinya tidak pernah pergi ke Paviliun Eternity, dan lagi, Bibi Linda berkata Ronald tidak memiliki selir pelayan, itu benar-benar sulit dipercaya, orang-orang di sini, menyukai hal seperti ini.


“Ya, aku juga tidak makan kenyang di kediaman Indra.” Ivonne tersenyum.


Ronald mengulurkan tangannya padanya, Ivonne tersenyum melirik ke arah Bibi Linda dan Letty, kemudian berkata, “Begitu banyak orang, tidak terlalu baik bukan?”


Ronald benar-benar sangat berubah hari ini, berinisiatif untuk dekat dengannya, dan tidak takut orang lain melihatnya.


Ronald meraih tangannya dan berkata, “Memang kenapa jika banyak orang? Jika banyak orang tidak boleh bergandengan tangan?”


Wajah Ivonne memerah, dengan patuh mengikutinya.


Bola mata Bibi Linda dan Letty sudah hampir keluar, apa matahari hari ini terbit dari barat? Yang Mulia dan Permaisuri begitu saling mencintai?


Usianya terlihat sekitar 15 sampai 19 tahun, penampilannya menyegarkan, perilakunya tenang dan mantap, memiliki kualitas bagus sebagai pelayan dari keluarga besar.


Beberapa dari mereka sangat menghormati Ivonne, mereka sangat teliti dalam menyajikan makanan.


Ivonne secara khusus mengamati sikap mereka terhadap Ronald, tidak ada tindakan intim dan sejenisnya, hanya ada rasa hormat terhadap majikannya.


Diam-diam Ivonne menghela nafas lega.


Tidak peduli apa itu selir pelayan atau selir, Ivonne benar-benar tidak punya cara untuk berbagi pria dengan wanita lain, dia lebih rela tidak menginginkannya.


Ketika Ronald melihat Ivonne memasuki pintu sudah menatap para pelayan di dalam ruangan, pandangan matanya berubah-ubah, pada akhirnya, Ronald mendengar Ivonne menghela nafas pelan, Ronald tidak bisa menahan tawa.


Ivonne dengan bingung menoleh menatapnya, “Apa yang kamu tertawakan?”


Ronald memandangi wajah Ivonne yang bersih dan cantik, di dahinya ada bekas luka merah muda, bola matanya jernih, bulu matanya lentik, bibir merahnya sedikit bengkak, senyumnya sedang menggantung di bibirnya, seperti mawar yang sedang merekah.


Ronald memperhatikannya dan hatinya bergejolak.


Sangat ingin melemparkan orang ini langsung ke atas ranjang.

__ADS_1


Ivonne menghindari pandangan membara Ronald yang seakan ingin memakan orang itu, menundukkan kepalanya untuk makan, masih memikirkan masalah itu di dalam hatinya, mengapa Ronald tiba-tiba bersikap seperti ini padanya?


Setelah beberapa saat, Ivonne meletakkan sumpitnya, bergegas mendongak, menatapnya dengan hati-hati, “Katakan dengan jujur, apa karena aku memiliki tongkat kerajaan, kamu berpikir dengan bersikap baik padaku, maka aku tidak akan menggunakan tongkat kerajaan itu padamu?”


Ronald tidak berdaya, sup di dalam mulutnya, tidak tahu harus menyemburkannya atau menelannya.


Dengan tidak mudah menelan sup itu, Ronald menatap Ivonne, memutuskan untuk membicarakannya baik-baik.


Para pelayan diusir keluar, memerintahkan mereka untuk menutup pintu.


Ivonne masih sangat waspada, menatap Ronald dengan melototkan matanya.


Ronald masih menatapnya, perlahan, “Ketika aku menciummu, apa yang kamu rasakan?”


Ivonne mengulurkan tangannya dan menekan dadanya, “Detak jantungku sangat cepat.”


“Selain itu?”


Ivonne berpikir sejenak, “Aku tidak tahu, tidak bisa diungkapkan.”


Ronald mengangguk, “Aku juga tidak tahu mengapa aku ingin melakukan itu, tapi pada saat itu, aku ingin menciummu, ingin memelukmu, ketika kembali bekerja, aku seharian memikirkan mengenai apa yang terjadi di taman itu, berpikir hingga hampir gila.”


Kalimat terakhirnya itu, suaranya itu ditekan rendah, suara itu sangat serak, pandangan matanya semakin lama semakin dalam.


Otak Ivonne kosong.


Apa ini adalah pengakuan?


Bibir Ivonne kering, untuk sesaat Ivonne tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, kedua tangannya juga tidak tahu harus diletakkan di mana.


“Jadi, apa kamu memikirkanku di kediaman Indra hari ini?” Ronald bertanya dengan lembut, dia juga tidak pernah tahu bahwa dia bisa menggunakan nada yang begitu lembut seperti itu.


Ivonne dengan jujur berkata, “Aku sangat sibuk di Istana hari ini …”


Ivonne menatapnya, di pandangan mata Ronald sepertinya perlahan tertutup oleh rasa kecewa.


Ivonne menjilat bibirnya, memutuskan untuk berbohong, “Tapi ketika aku sudah santai, aku juga memikirkannya.”


“Benarkah?” Mata Ronald perlahan memancarkan sinar.


“Benar!” Ivonne berkata dengan nada yakin.


Ronald duduk lebih dekat, menatap mata Ivonne, suaranya merajuk, “Apa yang kamu pikirkan? Memikirkan adegan di taman? Memikirkan ketika aku menciummu?”

__ADS_1


Dari jarak dekat, bibirnya hampir menempel di telinga Ivonne, suhu nafasnya yang panas terpapar, membuat Ivonne tanpa sadar bergidik sesaat.


__ADS_2