
Ivonne tertidur.
Kemudian Ivonne berpikir sekian lama, mengapa dia bisa menangis hingga tertidur di sebelah Ronald, Ivonne merasa itu mungkin dikarenakan bau desinfektan di tubuh Ronald. Bau ini membuatnya merasa nyaman.
Ketika terbangun keesokan harinya, diirnya penuh dengan energi.
Berpandangan pada mata Ronald yang hitam kelam. Ivonne perlahan-lahan melepaskan tangannya, sedikit canggung mengatakan, “Pagi!”
“Kamu meneteskan air liur ketika tidur tadi malam, mengotori lengan bajuku.” Ronald berkata dengan datar.
“Maaf!” Ivonne tidak berpikir bahwa tidurnya bisa begitu kotor, dia merasa malu.
Ronald memejamkan matanya. Kembali ke ekspresinya yang acuh.
Ivonne bangun, Yanto dan Rendi sudah tidak ada di sini, tapi mereka sudah meletakkan air untuk membersihkan diri, Ivonne menggosok giginya, mencuci mukanya, merapikan rambutnya kemudian pergi keluar. Bibi Vera dan pelayan wanita berjaga di luar, melihat Ivonne keluar, Bibi Vera membungkuk dengan hormat, “Permaisuri, Paduka Kaisar memberi perintah, jika Anda sudah bangun, ingin Anda pergi ke sana untuk merawatnya.”
“Aku akan mengobati luka Raja Ronald terlebih dulu, oke?” Ivonne bertanya.
“Ada Tabib Istana yang akan merawatnya.”
“Tapi …”
Bibi Vera tersenyum dan berkata, “Perkataan asli Paduka Kaisar adalah, Ronald tidak akan mati, ada tabib Istana, suruh Ivonne segera kemari.”
“…” Ivonne hanya bisa kembali berkata pada Ronald, “Aku harus pergi untuk merawat penyakit, ingat ketika tabib Istana mengobati lukamu jangan bersikap tidak sabar, harus mengoleskan obat.”
Ronald mengerutkan kening, “Sejak kapan aku tidak sabar? Pergilah, benar-benar sangat cerewet.”
Bagus, Kakek dan cucu sama saja. Tidak menghormati Dokter.
Di jaman ini, yang menjadi Dokter sama sekali tidak dihormati.
Ketika datang ke Istana Pearlhall, Ivonne melihat Oscar dan Clara menunggu di luar Istana.
Ketika Oscar melihatnya, dia kemudian bertanya, “Bagaimana keadaan Kak Ronald?”
“Lumayan.” Jawab Ivonne, dia memandang ke arah Clara, ada kebencian yang terlintas di mata Clara, kebencian yang tidak disembunyikan.
Ivonne tidak mempedulikannya, mengikuti Bibi Vera masuk ke dalam, tapi masih tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada Bibi Vera, “Mengapa mereka di sini dan tidak masuk ke dalam?”
Bibi Vera dengan samar berkata, “Raja Oscar bisa masuk, sedangkan Permaisuri Clara? Sepertinya tidak diizinkan untuk masuk, tapi Permaisuri Clara adalah anak berbakti, menunggu di luar hingga Paduka Kaisar memanggilnya,.” “Ternyata begitu.” Ivonne tidak tahu apa yang terjadi, tapi, ini tidak ada hubungannya dengannya.
Dirinya belum memasuki Istana, dia sudah mendengar teriakan kemarahan Paduka Kaisar, “Bawa pergi, bawa pergi, apa-apaan itu? Meminum itu seharian, apa kesenangan hidup sebagai manusia? Lebih baik mati.”
__ADS_1
Kasim Artur menghela nafas dan berkata, “Paduka Kaisar tidak bisa seperti ini.”
Ivonne bergegas ke sana dan berkata, “Apa yang kamu minum? Bisakah aku mencobanya?”
Kasim Artur melihat Ivonne datang, dirinya menghela nafas lega, “Baguslah Permaisuri datang, Paduka sedang mengamuk.”
Lucky juga mengangkat kepalanya dari ranjangnya, menggonggong dua kali ke arah Ivonne.
Ivonne dengan senyum mengambil mangkuk obat itu dan meminumnya kemudian berkata, “Ada licorice, tidak pahit, rasanya manis.”
Ivonne melihat ke arah Paduka Kaisar, ketika dia duduk, bahkan terlihat lebih kurus, matanya sangat dalam, pipinya tidak berdaging, raut wajahnya juga sangat buruk.
Paduka Kaisar sekarang mendongak menatap Ivonne, wajahnya masih menunjukkan rasa tidak sabar, sebenarnya, tidak peduli bentuk wajah maupun parasnya, Ronald sangat mirip dengan Paduka Kaisar, Ivonne merasa, jika Ronald sudah tua juga pasti seperti ini, sangat jelek.
“Aku tidak percaya, kamu minum lagi, obat ini pahit.” Kata Paduka Kaisar.
Ivonne menyesapnya lagi, “Tidak pahit!”
“Minum lebih banyak lagi!” Kata Paduka Kaisar dengan licik.
Ivonne duduk, mengambil sendok dan mengaduknya dengan pelan, kemudian menyuapkannya ke mulutnya, dengan tegas mengatakan, “Minum obat atau disuntik?”
Ingin menjebaknya?
Paduka Kaisar sangat tidak suka disuntik, jadi dia hanya bisa minum obat dengan patuh.
Ivonne tersenyum dan menyerahkan mangkuk obat pada Kasim Artur, Kasim Artur menghela nafas lega, “Permaisuri, kamu benar-benar tidak boleh meninggalkan Istana Pearlhall.”
Setelah itu, Kasim Artur membawa mangkuk dan berjalan keluar.
Ivonne tersenyum di depan ranjang, “Paduka Kaisar, obat sudah diminum, tapi tetap masih harus disuntik”
Ada kemarahan yang berkumpul di mata Paduka Kaisar, hendak memaki, Ivonne dengan tenang berkata, “Sepertinya Paduka terlihat sangat kesal, harus menambah satu suntikan untuk menenangkan amarah.”
Mulutnya yang besar itu tiba-tiba menutup, tidak bersuara, dengan marah menatap ke arah Ivonne.
Tidak berapa lama, Paduka Kaisar kembali berteriak marah, “Bukankah kemarin-kemarin menyuntik di bagian tangan? Mengapa sekarang harus melepas celana? Apa kamu tidak tahu malu? Apa kamu tidak tahu bahwa pria dan wanita tidak boleh bersentuhan?”
“Ada beberapa suntikan yang memang harus dilakukan di bagian pinggul.” Ivonne melepaskan udara yang ada di dalam jarum suntik, obat di dalamnya terpancar keluar, Ivonne memegang jarum, “Jika bekerja sama, aku akan melakukannya dengan pelan.”
Walaupun Paduka Kaisar tetap memaki, tapi dia masih bekerja sama, dia masih ingin hidup.
Dia bahkan tidak bertanya kepada Ivonne apa gunanya suntikan itu.
__ADS_1
Setelah selesai disuntik, Kasim Artur masuk, Paduka Kaisar mendongakkan pandangannya, dengan datar bertanya, “Apa orang itu masih di luar?”
“Ya.” jawab Kasim Artur.
Ivonne tahu yang dimaksud adalah Oscar dan Clara, meskipun dia bertanya-tanya mengapa Paduka Kaisar tidak menemui mereka, tapi dia tidak berani bertanya.
Paduka Kaisar memejamkan matanya, “Suruh mereka pergi.”
Ivonne melihat ke arah Lucky, luka Lucky sudah tidak memiliki masalah serius lagi, kemampuan penyembuhan diri anjing itu sangat kuat, jika memberikan obat yang benar, tidak berapa lama dia sudah sembuh.
Hanya saja, Lucky masih tidak bisa keluar untuk sembarangan melompat dan beraktifitas.
“Patuh tidak?” Ivonne mengelus kepala Lucky, mulai berbicara dengan Lucky.
Lucky menggonggong, seperti seekor anjing husky.
Ivonne tertawa, “Benarkah? Kasim Artur tidak memberimu makan daging? Kamu sedang terluka, masih tidak boleh makan daging, masih untung ada susu kambing untuk diminum.”
Kasim Artur memandangnya dengan aneh, “Hei, Permaisuri Ivonne, kamu benar-benar mengerti atau hanya menebak? Lucky benar-benar mengadu?”
Ivonne berkata, “Aku tidak mengerti, tapi anjing itu mengerti hati manusia, terkadang dari gonggongan dan pandangan matanya bisa melihat apa yang diinginkannya.”
“Jadi kamu dapat mengetahui bahwa kami tidak memberikan daging dan hanya memberikannya susu kambing?”
Ivonne tertawa, “Aku menebak, karena perutnya kosong, dan ada bau susu kambing di tubuhnya.”
Paduka Kaisar berkata pada Kasim Artur, “Dia itu bukan anjing, bagaimana mungkin bisa mengerti bahasa anjing? Kamu benar-benar bodoh.”
Ivonne tersenyum pahit, dia benar-benar memahaminya, Lucky juga bersikap seenaknya seperti Paduka Kaisar.
Hati Ivonne tiba-tiba terpaku, Lucky ada di istana ini, dia melihat semua orang yang keluar masuk, tentu saja melihat Geri mengganti obat itu.
Ivonne perlahan-lahan menggendong Lucky, berbisik di telinganya, “Apa kamu tahu siapa yang mengganti obatnya?”
Lucky menggonggong 3 kali, sedikit emosional.
Ivonne mendengarkan, tapi dia malah tertegun.
Lucky berkata itu bukan Geri.
“Lucky kamu tidak diperbolehkan berbohong, apa kamu benar-benar melihatnya?” Ivonne tidak mempedulikan Kasim Artur dan Paduka Kaisar yang memandangnya dengan aneh yang sedang dengan serius bertanya pada Lucky.
Lucky menjadi lebih emosional, dia kembali menggonggong tidak kali, ternyata masih merupakan orang itu.
__ADS_1
Ini tidak mungkin, orang itu tidak perlu melakukan hal yang berbahaya seperti ini, jika benar-benar adalah orang itu, bukankah Geri hanya dijadikan kambing hitam untuk pengalihan saja?
Ivonne hanya merasa bahwa masalah di Istana ini semakin lama semakin dalam, seperti tanaman merambat yang kusut, perlahan melilit lehernya, membuatnya sedikit tidak bisa bernapas.