
Di dalam Istana Pearlhall
Ketika Paduka Kaisar, Kaisar Mikael dan Raja Ralph berbicara untuk beberapa saat, kemudian mereka pergi, bahkan Tabib kerajaan juga keluar, di dalam hanya menyisakan Ivonne.
Sebelum Kaisar Mikael pergi. Dia memandang Ivonne dengan tatapan penuh makna, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Istana begitu hening, tirai pun tertutup erat, bahkan angin tidak bisa berhembus masuk.
Ivonne berdiri di samping ranjang. Untuk sesaat, tidak tahu harus berbuat apa.
Paduka Kaisar yang tadinya masih menutup matanya, tiba-tiba membuka matanya, dengan dingin menatap kemudian berkata dengan tegas: “Berlutut!”
Ivonne perlahan berlutut, postur berlutut ini, baginya, lebih mudah dibandingkan duduk, lagipula, efek sup golden purple sekarang sudah habis, sekujur pori-pori di tubuhnya menunjukkan rasa sakit.
“Apa kamu tahu dosa apa yang kamu perbuat?” Tanya Paduka Kaisar dengan dingin.
Ivonne tahu Paduka Kaisar tidak akan benar-benar menghukumnya. Setidaknya, saat ini tidak akan, selama dia masih memiliki rasa penyesalan di dunia ini, maka Ivonne adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya memiliki kesempatan untuk hidup.
Jadi, dia mendongak, dengan jujur berkata: “Aku tahu.”
“Apa dosamu?”
“Keterampilan medisku tidak bagus tapi memaksa melakukannya.” Ivonne menghindari tanggung jawab berat.
Paduka Kaisar dengan dingin berkata:
“Dengan mengatakan kalimat keterampilan medismu tidak baik maka kamu telah menilai Tabib di Istana ini semuanya melakukan malpraktik.”
Ketika Ivonne mendengar kalimat ini, dia mersa lega, Paduka Kaisar percaya akan keterampilan medisnya, kalau begitu semuanya mudah untuk dibicarakan.
Benar saja, Paduka Kaisar kemudian dengan dingin berkata: “Kemarilah dan duduk, bicarakan mengenai penyakitku, hidup atau mati, jika mati maka kapan, jika hidup bisa hdup berapa kama?”
Ivonne perlahan berdiri dan berkata: “Aku masih tidak berani memutuskan, mohon Paduka Kaisar bersedia untuk mengijinkanku melakukan pemeriksaan padamu.”
“Kalau begitu apa lagi yang kamu lakukan? Kemari dan periksalah.”
Paduka Kaisar melihat Ivonne yang tidak tahu sejak kapan mengeluarkan sebuah benda yang aneh, menggantungnya di telinganya, tersenyum dan berkata, “Sekarang, mari kita dengarkan bunyi detak jantung terlebih dulu…”
Untuk sesaat, bibir Paduka Kaisar berkedut dan dengan marah berkata: “Benda apa ini? Apa ingin membekukanku?”
Ivonne melepas stetoskop, kemudian meletakkannya di telinga Kaisar, dengan pelan berkata: “Ssst, Paduka Kaisar dengarkan dengan cermat.”
Wajah murka Paduka Kaisar perlahan menghilang, ada kebingungan di matanya, hening sesaat, dia kemudian berkata: “Ini adalah detak jantungku!”
Ivonne mengangguk, “Ya, kedengarannya tidak begitu sehat, tapi, dalam beberapa jam, sepertinya Dewa Kematian masih tidak akan mengambilnya.”
__ADS_1
“Kurang ajar!” Paduka Kaisar menatapnya dengan dingin.
Ivonne bergegas ingin melakukan pose berlutut, “Maaf!”
“Sudahlah, untuk apa berlutut? Duduk!” Kaisar mendengus, untuk apa meminta maaf?
Ivonne tersenyum, “Tidak berani duduk.”
Paduka Kaisar meliriknya sekilas dengan datar, “Bagaimana kamu bisa terluka?”
Ivonne terpaku.
Paduka mengetahui dirinya terluka?
“Kamu sesekali meringis kesakitan, apa kamu kita aku tuli? Tanganmu yang menempel di dahiku itu sudah terasa panas, sangat panas, apa yang terjadi?” Kata Paduka Kaisar dengan datar.
Ivonne teringat hari-hari gelap di kediaman Raja Ronald, kesedihan dan kemarahan menjadi satu, pada akhirnya, dia hanya berkata engan ringan: “Terjatuh, lukanya meradang, jadi demam.”
“Apa kamu bisa mengobati dirimu sendiri?” Suara Paduka Kaisar sudah tidak begitu galak lagi.
Ivonne mengangguk, “Aku punya obat.”
Mendengarkan tata cara berbicaranya Paduka Kaisar mengerutkan kening, bagaimana bisa seorang Putri bersikap tidak tahu aturan seperti ini?
“Setelah makan obat maka beristirahatlah, aku ingin tidur!” Paduka Kaisar menutup matanya, kemudian melepas stetoskop itu.
Ivonne menyimpan stetoskop, kemudian bersembunyi di samping untuk mencari kotak obat, ketika kotak obat dibuka, dia kembali tercengang, ini… bagaimana bisa ada botol infus di sini?
Ivonne tersenyum pahit, dia sudah tidak berpikir lagi, mengambil obat penurun panas dan obat anti-inflamasi kemudian menelannya, lalu membawa botol infus.
Paduka Kaisar tidak tertidur, ketika mendengar langkah kaki, dia mengerutkan kening, “Kenapa datang lagi? Bukankah menyuruhmu untuk beristirahat?”
“Infus terlebih dahulu, nanti baru tidur.” Ivonne dengan hati-hati mengeluarkan botol infus itu, takut Paduka Kaisar merasa botol itu aneh dan tidak mau diinfus.
Paduka Kaisar benar-benar merasa aneh, tapi, dia tidak punya tenaga untuk bertanya, dengan datar melirik sekilas, kemudian berkata: “Cepatlah.”
Ivonne tidak begitu mahir dalam menginfus, tapi tidak sulit untuk menemukan pembuluh darah Paduka Kaisar, dengan mudah dia menusukkan jarum.
Setelah diinfus, Ivonne mendongak, melihat Paduka Kaisar sedang menatapnya.
Ivonne tesenyum, “Tunggu ketika Paduka sembuh, aku akan menjelaskannya.”
Jika sekarang ingin dirinya membuat alasan, dia benar-benar tidak bisa menemukannya.
Paduka Kaisar berkata: “Yang terbaik adalah penjelasan yang masuk akal.”
__ADS_1
Ivonne terus tersenyum, dia hanya bisa mencoba yang terbaik.
Menginfus tidak lama, Ivonne takut seseorang akan datang, jadi setelah botol ini selesai, dia kemudian menyimpannya.
Paduka Kaisar membuat sedikit suara mendengkur, sudah tertidur.
Ivonne lelah, lapar dan sakit, tapi dia tidak bisa duduk, tidak bisa berbaring, dan juga tidak ada yang bsia dimakan, bahkan dia juga tidak mendapatkan minum.
Dia melihat secara diam-diam, tidak ada seorang pun di Istana ini, Paduka Kaisar tidak akan bangun dalam satu jam ini, Ivonne kemudian berdiri di depan meja, menangkupkan tubuhnya ke meja, menyandarkan kepalanya dengan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal, meringkuk seperti marmut.
Tadinya Ivonne ingin berbaring seperti ini untuk menghilangkan kelelahan dan rasa sakit, tapi siapa tahu, dia benar-benar tertidur.
Kasim Artur kembali untuk beristirahat sejenak, tapi dia tidak bisa tenang akan Paduka Kaisar, mendengar bahwa hanya Permaisuri Raja Ronald yang melayani Paduka Kaisar, jadi dia bergegas datang.
Begitu dia masuk, dia melihat Ivonne tidur dengan posisi yang aneh, dia mengerutkan kening, apa ada orang yang merawat orang lain seperti ini? Permaisuri Raja Ronald ini memang tidak dapat diandalkan, dan lagi posisi tidur ini benar-benar jelek.
Ketika ingin membuat suara, dia malah mendengar Paduka Kaisar menekan suaranya dengan pelan dan berkata: “Jangan berisik.”
Kasim Artur berjalan mendekat dengan berhati-hati, merapikan selimut Paduka Kaisar, ada beberapa keraguan.
Paduka Kaisar dengan pelan berkata: “Pergi dan berikan dia sedikit makanan.”
Kasim Artur bahkan merasa lebih aneh lagi, Permaisuri Raja Ronald merawat orang sakit seperti ini, tapi Paduka Kaisar tidak hanya tidak marah, tapi juga menghadiahinya makanan?
Dia tidak bertanya, kemudian pergi keluar dalam diam.
Ivonne tidur hingga lengannya mati rasa, kemudian perlahan-lahan bangun.
Menyadari bahwa dirinya tertidur, punggungnnya merasakan dingin, bergegas menoleh ke arah ranjang di belakang, melihat Paduka Kaisar masih tertidur, dia menghela nafas lega.
Ivonne mengeluarkan kotak obat, kemudian mengambil termometer dan menyisipkannya di mulutnya sendiri, mendengar suara langkah kaki yang berasal dari luar, dia sangat terkejut hingga bergegas menutup kotak obat dan menyembunyikannya di balik lengan bajunya, berbalik badan dan melihat Kasim Artur datang dengan membawa makanan.
Kasim Artur melihat ada benda aneh di mulut Ivonne, tertegun sejenak, “Permaisuri, kamu …”
Ivonne tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya, menurunkan termometer itu salah, tidak menurunkannya juga salah, jadi dia hanya bisa menatap Kasim Artur dengan canggung.
Tapi Paduka Kaisar yang semula “tidur” kemudian membantunya, “Masih tidak bergegas menyiapkan makanan? Jika masih mengulur waktu, sepertinya dia juga akan memakan sepatuku.”
“Baik!” Kasim Artur tersenyum, meletakkan makanan di atas meja, “Ternyata kelapara? Permaisuri cepatlah makan.”
Ivonne benar-benar lapar, benar-benar amat sangat lapar, dan lagi bukan hanya lapar, tapi juga haus, tenggorokannya bagai akan terbakar.
Ketika melihat Kasim Artur membawa semangkuk sup, Ivonne sudah tidak mempedulikan untuk menjaga sikapnya, dia melepaskan termomternya kemudian mengambil sup dan langsung meminumnya, setelah semangkuk sup turun ke perutnya, membuka mulutnya dengan nnyaman, kemudian dia bergegas makan.
Kasim Artur melihatnya sambil mengerutkan alisnya, lapar juga tidak bisa kehilangan identitasnya seperti ini bukan? Dan lagi ini masih di hadapan Paduka Kaisar.
__ADS_1