
Apa-apaan Cecil itu? Peter begitu bodoh hingga bisa menyukainya, untungnya Peter masih belum berbicara dengan Ibunya.
Peter benar-benar marah, hati kecilnya ini benar-benar rapuh.
Cecil benar-benar tercengang, apa yang terjadi pada pria itu? Menanyakan dia siapa pria itu malah tidak berkata apa-apa, malah pria itu pergi dengan marah, kenapa? Apa Cecil tidak boleh bertanya?
Ivonne bertanya, “Peter kenapa? Terlihat sedikit marah.”
Cecil terkejut, “Peter? Dia itu Peter? Kepala pengawal di Istana itu?”
“Wakil kepala, kalian pernah bertemu, ketika kamu datang ke kediamanku dia juga ada di sana.”
Cecil baru teringat, dirinya memang pernah melihatnya.
Tapi pada saat itu hatinya begitu kacau, mana mungkin mengingatnya?
Hanya saja orang ini juga berhati sempit, bukankah Cecil hanya tidak ingat dia itu siapa, apa perlu marah seperti itu?
Sepertinya semua pria memang sama, berpikir setiap orang harus mengenalnya karena dirinya begitu hebat.
Kereta kuda kembali ke kediaman, Ivonne makan dan istirahat di bawah pengawasan ketat Letty dan Bibi Vera.
Kediaman Ronald ini digunakan untuk memelihara babi, Ivonne sekarang adalah babi yang berada di genggaman Ronald.
Mengenai hal-hal di luar kota, setelah Ronald mengendalikan situasi, dia kemudian memasuki Istana untuk melaporkannya pada Kaisar Mikael.
Kebetulan Gilang juga berada di Ruang kerja kerajaan, mendengar ada masalah yang terjadi terkait aktivitas pembagian bubur yang diselenggarakan oleh Clara, wajah Gilang seketika menjadi suram.
Kaisar Mikael kemudian berkata, “Tangani korban yang terluka lebih dulu, kemudian baru cari tahu kebenarannya, lakukan apa yang harus dilakukan.”
Ronald kemudian berkata, “Baik.”
Ronald undur diri kemudian Gilang mengikuti.
“Yang Mulia!” Gilang berjalan bersamanya.
“Ada masalah apa?” Tanya Ronald.
Gilang menghela nafas pelan, “Terjadi masalah seperti ini, aku juga sangat marah, Permaisuri Clara benar-benar sangat ceroboh dalam melakukan pekerjaan.”
__ADS_1
Ronald kemudian berkata, “Kecelakaan sulit untuk dikendalikan, hanya saja meskipun itu adalah niat baik tapi juga perlu dipersiapkan sepenuhnya, kecelakaan kali ini sebenarnya sebagian besar alasannya karena waktu tidak terkontrol dengan baik, sudah ada orang yang mengantri begitu awal, bubur itu juga sudah selesai dimasak, semua orang menunggu dengan perut kelaparan, menunggu terlalu lama jadi mudah menyebabkan kerusuhan, ditambah tidak ada cukup orang di tempat kejadian untuk menjaga ketertiban.”
Gilang kemudian berkata, “Yang Mulia juga tahu sifat Clara, dia itu berhati baik hanya sayangnya tidak punya pengalaman.”
“Ya!” Raut wajah Ronald tidak bisa ditebak.
Gilang mengerutkan kening dan menghela nafas berkata, “Hal yang begitu baik seperti ini mengapa bisa menjadi seperti ini? Benar-benar niat baik menjadi hal yang buruk, karena Yang Mulia diminta untuk menyelidiki masalah ini maka tolong Yang Mulia menyelidikinya dengan baik, lagipula kesalahan itu sudah terjadi, hanya saja Yang Mulia juga tahu bahwa hatinya itu baik.”
Ronald mengangguk, “Ya.”
Gilang sudah membicarakan hal ini dan Ronald juga tidak menyatakan apa-apa, dia tahu banyak bicara juga tidak ada gunanya, “Yang Mulia, aku masih memiliki urusan, aku undur diri dulu.”
“Selamat jalan!” Kata Ronald.
Gilang baru mengambil dua langkah tapi tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memandang ke arah Ronald, ada cahaya redup di pandangan matanya yang dalam itu, “Yang mulia, persahabatan sedari kecil itu sangat berharga, aku tahu bahwa Yang Mulia adalah orang yang memandang penting akan hal itu, hutang atas perbuatan sebelumnya harus dibayar, di kemudian hari sudah tidak saling membenci lagi.”
Perkataan ini diucapkan dari bibir Gilang, ini membuat Ronald terkejut.
Pertama-tama, Gilang berkata niat Clara itu baik, kemudian menyebutkan hubungan mereka ketika masih muda, tujuannya itu sangat jelas yaitu ingin memohon untuk Clara.
Masalah Clara ini sebenarnya tidak akan melibatkan keluarga Chu, paling-paling hanya akan melibatkan Oscar.
Gilang… apakah dia ingin mendukung Oscar untuk mendapatkan posisi Pangeran mahkota?
Meskipun sudah seharusnya Gilang membantu Clara yang merupakan cucunya.
Tapi sikapnya yang seperti ini malah kehilangan sedikit ketenangannya, ini tidak seperti gaya Gilang.
Dan lagi mengejarnya di hadapan Ayahnya, dan juga mencoba menggunakan hubungan masa lalu, tidakkan tindakannya ini sedikit terlalu…terburu-buru?
Ronald memandang ke arah Gilang kemudian berkata, “Tuan Gilang tenang saja, pasti akan ada solusi yang adil untuk masalah ini.”
Setelah selesai berbicara, Ronald memberi hormat kemudian pergi.
Masalah ini sebenarnya sangat jelas, tidak perlu diselidiki terlalu lama.
Orang-orang di Jingzhaofu bertanya dan memahami keadaan dari para pengawal di gerbang kota, mereka juga bertanya pada para rakyat yang ada di sana, tentu saja menanyakannya juga pada Permaisuri Ralph dan juga Nyonya Valen yang ada di tempat kejadian, tidak sulit untuk memahami kondisi dengan lebih jelas.
Terakhir, masih harus bertanya pada Clara.
__ADS_1
Ronald awalnya tidak ingin pergi sendiri, tapi identitas Clara adalah Istri Oscar dan Oscar juga adalah seorang suami yang sangat gila dalam melindungi istrinya, jika orang lain yang pergi maka takutnya sudah akan diusir Oscar ketika baru saja menanyakan dua kalimat.
Jadi Ronald membawa Rendi dan pergi ke kediaman Oscar secara pribadi.
Ketika datang ke kediaman Oscar, Oscar sendiri yang keluar untuk menyambutnya dengan ekspresi cemas.
“Sejak Clara pulang, dia terus bersembunyi di dalam kamar dan menangis, dia begitu sedih, terus berkata bahwa dirinya yang menyakiti orang-orang dan juga para pengemis itu, dia hanya ingin memberi mereka makan tapi pada akhirnya malah menyakiti mereka. Apa yang harus kulakukan, bagaimanapun aku membujuknya dia tidak mendengarnya, dia begitu merasa bersalah, kebetulan Kak Ronald datang, dia pasti akan mendengarkan kata-katamu, bantu aku untuk membujuknya.”
Rendi mengikuti di belakang keduanya, setelah mendengarkan perkataan Oscar, Rendi memiliki perasaan ingin muntah darah.
Bahkan jika otak Rendi sedikit rusak, dia juga tahu bahwa tanggung jawabnya kali ini sangat besar, Yang Mulia datang untuk melakukan penyelidikan, tapi Raja Oscar malah ingin Yang Mulia Ronald menghibur si pelaku.
Raja Oscar ini sebenarnya naif atau bodoh?
Ronald kemudian berkata, “Aku datang ke sini untuk menanyakan beberapa hal, mengenai dia merasa bersalah atau bersedih, aku juga tidak bisa menghiburnya, lagipula ini semua juga sudah terjadi, yang bisa dilakukan hanya mencoba untuk memperbaikinya.”
“Kak Ronald, mengapa perkataanmu terdengar begitu kejam?” Oscar sedikit tidak senang, “Dia juga tidak menginginkan situasi ini, dia jauh lebih sedih dibanding orang lain dan lagi diri sendiri juga terluka.”
“Oleh karena itu sekarang kami berusaha mencari solusi untuk menyelesaikannya.” Ronald berkata menekankan.
“Menyelesaikan? Kulihat kamu datang ke sini untuk menanyakan kesalahan bukan? Sudahlah, kamu tidak usah masuk ke dalam, jangan sampai membuatnya menjadi makin sedih.” Oscar menghentikan langkahnya dan berkata dengan datar.
Ronald menatap Oscar tanpa daya, “Oscar, aku datang atas perintah Kaisar.”
Ronald tidak datang ke sini untuk berkunjung, oke?
Wajah Oscar membeku, “Jangan menggunakan Ayah untuk menekanku, jika kamu takut dimarahi oleh Ayah maka aku akan pergi untuk berkata pada Ayah.”
Ronald merasa keputusannya benar untuk datang sendiri ke sini, jika orang lain yang datang maka takutnya mereka tidak akan bisa masuk gerbang kediaman Oscar ini.
“Oscar, aku hanya menanyakan situasinya saja, aku sudah memahami secara garis besarnya, aku hanya menanyakan beberapa pertanyaan padanya, kamu jangan terlalu gugup.” Kata Ronald.
Oscar kemudian berkata, “Karena kamu sudah tahu situasinya secara garis besar, jadi tidak masalah jika menanyakannya atau tidak bukan, untuk apa membuat Clara merasa tidak nyaman? Kak Ronald, setidaknya Clara memanggilmu dengan sebutan Kakak, melihat hal ini, kamu tidak seharusnya mempersulitnya.”
Ronald menatap wajah Oscar yang tegang dan dingin, hampir tidak bisa menahan emosinya yang sudah akan meledak dan sangat ingin meninju wajahnya.
Memiliki Ayah yang sama, mengapa otak Oscar ini begitu bermasalah?
Wajah Ronald menggelap, berteriak dengan marah, “Mengapa begitu banyak omong kosong? Pimpin jalan, jika aku tidak bertemu dengan Istrimu hari ini, maka aku akan menghancurkan kediamanmu ini!”
__ADS_1