KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
LAMARAN


__ADS_3

Mereka yang datang dari kerabat Idris segera mengambil barisan menuju ke pintu rumah yang terkesan mewah itu.


Ada apa dengan jantungku? Kenapa dia berdetak tak menentu seperti ini?


Apa karena rasa benciku dengan perjodohan inikah?


Oh Tuhan... Bagaimana ini? Aku sudah sampai disini lagi.


Kemil bergumam dalam hatinya. Dia mencoba menggenggam tangan Misya untuk meredakan perasaannya yang tidak menentu. Tapi sayangnya, itu sama sekali percuma dirasanya.


Tok... Tok... Tok...


Idris mengetuk pintu rumah beberapa kali ketukan sebelum seorang pelayan membukakannya.


Pelayan rumah itu sangat terkejut melihat kedatangan sahabat tuannya dengan sangat ramai.


"Selamat sore, pak..." Sapa pelayan itu dengan bingung.


"Sore, bik... Pak Agung ada?" Tanya Idris dengan ramah.


"A-ada, pak... Tunggu, saya panggilkan sebentar..." Ujarnya sambil permisi ke dalam untuk memanggilkan Agung.


Di dalam rumah depan pintu kamar Agung.


Tok... Tok... Tok...


Pelayan mengetuk pelan pintu kamar Agung dan Maya. Tidak lama Agung datang membukakannya.


"Ada apa, bik...?" Tanya Agung dengan malas.


"Ada sahabat tuan kemarin datang ramai-ramai, tuan..." Tutur pelayan itu memberitahukan.


Agung menautkan alisnya bingung.


"Ramai-ramai gimana, bik...?"

__ADS_1


"Iya, tuan... Mereka ramai sekali..." Sahut sang pelayan.


"Ya sudah, bik... Bikinkan minum dan cemilan untuk mereka. Saya siap-siap dulu..." Perintahnya dan disahuti anggukan kepala sang pelayan.


Tidak terlalu lama menunggu, Agung bersama Maya keluar menemui Idris dan keluarganya yang menunggu di bangku panjang teras rumah. Agung terkejut dan sangat heran dengan kedatangan Idris yang mendadak begitu.


"Idris???" Serunya dan belum hilang rasa penasarannya.


"Ahhh... Akhirnya anda muncul juga, Gung..." Sahut Idris sambil memeluk sahabatnya itu.


Maya yang berdiri di samping Agung pun ikut bertanya-tanya.


"Masuklah dahulu..." Tutur Agung kemudian.


Agung membawa Idris dan tamu-tamu yang dibawa sahabatnya itu ke ruang tamu.


"Ada acara apa Anda datang ramai-ramai seperti ini, Id?" Tanya Agung tak tahan menyimpan rasa penasarannya.


Kenapa om Agung bertanya? Masa dia tidak tau kalau papa akan melamarkan anaknya untukku?~ Gumam Kemil bingung. Dan apa yang dipikirkan Kemil sama dengan yang dipikirkan mamanya dan Misya.


Ya Tuhan... Apa sebenarnya yang disembunyikan papa? Kenapa seolah-olah orang tua Kamelia tidak mengetahuinya?~ Tingkah Idris mampu membuat Kemil, Misya dan Rahma bertanya-tanya.


Agung dan Maya benar-benar terkejut dengan pernyataan Idris. Mereka saling tatap.


Agung menarik lengan Idris setelah berpamitan kepada tamu-tamunya yang dibawa oleh Idris.


Di ruangan yang berbeda, tempat dimana mereka merasa aman untuk berbicara berdua.


"Apa kamu sudah gila, Id? Kamu tau kondisi anakku saat ini, tapi kamu tetap mau menjodohkannya dengan putramu?" Seru Agung tidak habis pikir dengan sahabatnya itu.


"Saya tidak gila, Gung... Justru kamu yang gila. Kamu meminta anakmu menggugurkan kandungannya. Sementara janin yang ada di dalam kandungannya itu tidak berdosa..." Sahut Idris tak kalah bengis.


"Tapi bagaimana nanti nasib anakmu?" Tanya Agung lagi masih tidak percaya dengan sahabatnya itu.


"Setidaknya aku mengenal kamu, Gung... Aku yakin Kamelia tidak melakukannya dengan sengaja..."

__ADS_1


"Sengaja atau tidak sengaja... Dia tetap salah, Id.." Potong Agung.


"Ok... Berpikirlah terus seperti itu, jika kamu rasa kamu tidak akan menyesal nantinya. Tapi kali ini aku mohon... Anggap saja aku yang meminta bantuan kepadamu..." Tutur Idris memelas.


Agung menatap sahabatnya itu dengan bingung.


"Saya masih merasa kematian bapak saya sangat ganjal, Gung. Bram... Sangat menginginkan tanah perkebunan bapak. Tapi bapak tidak mau menjualnya. Sepertinya dia masih ingin merebutnya dengan cara apa pun.


Kamu lihat saja perempuan yang terus menempel dengan Kemil itu.


Aku rasa dia sengaja memanfaatkan Kemil karena disuruh Toni putranya Bram.


Beberapa kali aku melihat gadis itu bersama anaknya Bram.


Maka dari itu aku paksa Kemil menikah dengan Kamelia sampai anak yang dikandung Kamelia lahir.


Jadi aku mohon kepadamu, Gung" Idris menceritakan masalah yang saat itu dia hadapi dan berharap sahabatnya itu mengerti.


Agung terlihat berpikir sejenak.


"Baiklah, walau begitu aku tetap berhutang budi denganmu." Ujar Agung mengusap pelan bahu sahabatnya itu.


Tanpa mereka sadari, Ramdani menguping pembicaraan mereka berdua.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2