
Toni.
Siang hari di tengah-tengah kota yang penuh kebisingan. Hingar-bingar kota yang tidak jauh berbeda dari tempat pesta yang mereka hindari.
Toni terus melajukan mobillnya kearah tanpa tujuan dengan kecepatan sedang.
Sesekali Toni mengajak Milka untuk berbincang-bincang bersamanya sehingga bayi itu mengeluarkan suara khas miliknya.
Heboh dia bercerita dengan bahasa yang dirinya dan Tuhan-lah yang tahu. Atau mungkin para Malaikat yang mampir kesana juga ikut mendengar ceritanya.
Tidak ada hari bahagia bagi Toni selain mendengar suara anaknya, dan bahkan kali itu ia bisa seharian dengan bayi mungil itu.
"Anak Papa... Anak shalehah... Cantiknya kebangetan seperti oma... Anak shalehah..." Toni terus saja berdendang menambah keriuhan suara Milka.
Di tengah-tengah kesibukkannya mengobrol dengan bayi mungil kesayangannya itu, ponsel Toni berdering memekakkan telinganya.
"Misya?" Toni mengerutkan keningnya. Namun dia malah meletakkan ponselnya kembali setelah merijeknya.
Dia pikir Misya akan menyerah akan sikap acuhnya. Namun berkali-kali Misya mengulangi panggilannya.
Pada akhirnya dengan malas Toni menjawab panggilan Misya.
"Hallo?" Ada keterpaksaan pada raut wajah Toni. Semenjak dia mendengar kebenaran kala itu, sedikitpun Toni tidak lagi mau berhubungan dengan Misya.
"Toni... Papa kamu anfal..." Terdengar suara Misya yang begitu panik dari seberang.
"Apa Misy...? Papaku anfal?" Toni terkejut mendengar kabar dari Misya.
"Iya, Ton... Kamu segera pulang ya..." Pinta Misya dari seberang.
Toni tidak menjawab ucapan Misya, dengan sigap dia menaikkan kecepatan mobilcnya menuju ke desanya kembali.
Toni terus saja mengemudi dalam keadaan panik. Meski dia bingung dengan keadaan papanya yang tidak pernah dia ketahui memiliki riwayat penyakit apa pun, namun dia tetap khawatir terhadap lelaki paruh baya yang menjadi satu-satunya orang yang dimilikinya sebelum ada Milka.
Toni menoleh kearah Milka yang sudah damai dalam tidurnya.
__ADS_1
"Yaa ampun? Bagaimana bisa Papa melupakan kamu, nak?" Toni kembali memperlambat kecepatan laju mobilnya.
Dengan segera Toni menepikan mobilnya dan kembali meraih ponselnya.
Toni mencoba menelepon Kemil, namun tidak ada jawaban sama sekali. Dia terus mencoba beberapa kali hingga layar ponselnya mati.
"Yaa ampun... Batrai ku habis lagi. Mana charger lupa pula membawanya." Rutuknya kebingungan.
"Ya sudahlah... Nanti aku kabari lagi Kemil kalau sudah sampai di rumah." Toni kembali menaruh ponselnya dan melajukan mobilnya.
"Nak... Doain opa kamu tidak kenapa-kenapa ya, sayang... Papa takut tidak punya siapa-siapa lagi." Gumam Toni lirih.
Rasa panik yang menghantuinya membuat matanya yang ideal itu berkaca-kaca.
Toni sampai di jalan yang terbentang antara jalan lintas dengan desanya. Mengingat adanya Milka, dia sedikit melambatkan laju mobilnya di jalan yang berlobang dan tidak terlalu lebar itu.
"Maafin Papa ya, nak... Pasti ibu dan ayah kamu sekarang mengkhawatirkanmu..." Ujar Toni melirik putrinya yang masih terus tertidur dengan nyaman di mobilnya itu.
Sesampainya dia di kediamannya bersama papanya itu, Toni segera masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Milka sendirian masih tertidur di dalam mobilnya dengan kaca jendela sedikit terbuka.
"Hy Toni..." Misya bangkit dari duduknya dan segera menggantungkan lengannya ke pundak Toni.
Dengan geram Toni menjatuhkan lengan Misya.
"Apa maksudnya ini, Misya?" Amarahnya memuncak seketika itu juga.
"Woles6 sayang... Aku hanya mengikuti mainnya papa kamu saja kok." Ujar Misya dengan angkuhnya sambil melipat kedua tangannya di atas perutnya yang ramping itu.
"Apa maksudnya ini, Pah?" Seru Toni sedikit berteriak.
"Tidak... Papa hanya ingin memastikan kamu mengerjakan perintah Papa. Tetapi sepertinya kamu berbohong dengan maksud dan tujuan kamu mendekati anaknya Idris. Kamu tidak berniat menjalankan aksimu, kan?" Bram terlihat geram terhadap tingkah anaknya itu.
Toni menoleh kearah Misya dengan tatapan tajam. Dan kemudian mengusir paksa gadis itu dari rumahnya. Dia tahu papanya terkena hasutan dari Misya.
Namun walau bagaimanapun tuduhan papanya itu benar terhadap dirinya.
__ADS_1
Misya keluar dari rumah itu penuh kemenangan. Menang karena merasa telah membuat Toni dan papanya akan bertengkar sepeninggalnya.
Ketika Misya mencapai mobil Toni yang terparkir sembarangan di depan rumah itu, sekelabat dia melihat bayangan Milka di dalamnya.
Lihat saja kamu Toni, aku akan buat Kamelia membencimu.
Dan perempuan yang kamu cintai itu juga akan tersakiti pula karenanya...
Misya mendekati mobil Toni hendak mengambil Milka di dalamnya.
Beruntung Toni segera mengingat putrinya dan menggagalkan aksi Misya yang keterlaluan liciknya itu.
"Jangan pernah kamu mencoba-coba menyentuh putriku." Toni menarik lengan Misya yang hendak menyentuh gagang pintu mobilnya. Dengan kasar Toni menghempaskannya hingga Misya sedikit terjerembab.
"Putriku?" Bram terkejut mendengar ucapan Toni.
Toni dengan acuh melewati papanya dan hendak masuk ke kamarnya yang berada di ujung rumah itu.
"Toni... Jawab pertanyaan Papa... Apa maksudnya dia ini adalah putrimu? Anak siapa yang kamu adopsi?" Papanya seakan tidak percaya dengan hal yang didengarnya.
"Dia anak Toni, Pa... Anak dari perempuan yang telah Toni perkosa." Ujarnya sambil membekap telinga Milka sebelah di dalam dadanya den sebelah dengan tangannya. Meski Milka sedang tertidur, dia tidak ingin telinga Milka menangkap ucapannya yang begitu menyakiti perasaannya sendiri.
Mata Bram membulat.
"Dia adalah salah seorang yang sangat berarti bagi Toni setelah Papa." Mata Toni berkaca-kaca. Dengan cepat dia meninggalkan papanya yang masih mematung disana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.