KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
TAK SADARKAN DIRI


__ADS_3

Sejujurnya aku belum bisa terima dengan semua kenyataan ini, hanya saja aku tidak boleh egois.


Derita om Bram bahkan terlalu berat dari rasa sakitku. Meski untuk suatu hari nanti aku akan menemui kebingungan ketika menjawab pertanyaan dari Milkaku, tetap saja aku tidak bisa menghancurkan kebahagiaan om Bram yang baru saja dia rasakan.


Kamelia memaksakan senyumannya meski air matanya berjatuhan dari pelupuk matanya dengan begitu saja.


Diam-diam, Kamelia berdiri memerhatikan Bram yang sedang menggendong Milkanya sambil sesekali berlari kecil di halaman belakang rumah Arayan. Milka, si bayi mungil itu terdengar tertawa riuh bersama opanya itu.


Kemil melingkarkan lengannya ke pinggang Kamelia dari arah belakang dan kemudian mengecup pipi istrinya itu.


"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku meski kamu sudah mengetahui ikatan keluargaku yang terjalin dengan Toni..." Bisiknya penuh harap di ceruk leher Kamelia.


Kamelia hanya terdiam bingung. Dia bahkan belum memikirkan rencana apa-apa untuk hidupnya ke depan bersama Milkanya.


"Sayang..." Panggil Kemil dengan nada takut.


"Hmmm..." Sahut Kamelia tipis.


"Berjanjilah... Aku mohon..." Pinta Kemil lagi.


"Tolong kamu yakinkan aku, bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpamu, sayang..." Pinta Kamelia lirih. Air matanya yang tadinya sempat terhenti, kembali menetes dengan tiba-tiba.


"Kamu tidak akan pernah hidup tanpa aku, sebagaimana aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu dan Milka, sayang. Kamu tidak boleh tinggalkan Aku, kecuali setelah kematianku... Atau jika kamu tinggalkan aku, maka di saat kamu kembali... Kamu hanya akan menemui pusaraku..." Buliran bening mengalir cepat dari ruas mata Kemil yang sedikit menyipit.


Kamelia terkejut mendengar ucapan suaminya itu. Dengan segera dia membalikkan badannya dan memegangi kedua pipi Kemil.


"Kamu jangan bicara seperti itu, sayang... Kamu seperti orang yang tidak beragama saja..." Ujar Kamelia kesal. Dia mengusap lembut air mata Kemil dengan dua ibu jarinya yang menempel disana.


"Aku tidak bisa berjanji untuk tidak bicara itu lagi jika kamu masih berpikir akan meninggalkanku..." Tutur Kemil manja.


"Aku tidak akan meninggalkanmu... Kecuali kematian yang menjemputku..." Kamelia berikrar dengan suaminya itu. Dia meraih kepala Kemil dan mendekatkan hidung Kemil yang mancung ke hidungnya yang tidak terlalu pesek itu.

__ADS_1


Kemil menarik tubuh Kamelia ke dalam pelukannya. "Terima kasih, sayang... Tidak ada yang aku butuhkan darimu selain keberadaanmu di sisiku selamanya, sampai maut memisahkan kita." Kemil menyembunyikan wajahnya ke bahu Kamelia. Disana dia mendapatkan tempat ternyamannya.


Kamelia melepaskan dekapan Kemil dari dirinya.


"Om Bram..." Tatapan Kemil melekat karena terkejut ketika melihat tingkah aneh lelaki paruh baya yang tengah menggendong Milka.


Sontak Kamelia membalikkan tubuhnya ingin mengetahui apa yang membuat raut wajah suaminya terlihat begitu panik.


"Om Braaam..." Pekik Kamelia. Kedua tangannya menutup mulutnya yang sempat ternganga.


Kemil berlarian dan disusul oleh Kamelia untuk mengejar posisi Bram. Tubuh Bram degan lemah tiba-tiba merosot di pagar halaman belakang rumah itu.


Tangan Bram masih kuat untuk memeluk cucunya yang mulai terdiam dalam gendongannya.


Kemil meraih tubuh Bram yang hampir tergeletak dengan segera. Dan Kamelia mengambil Milka dari dekapan Bram yang lama kelamaan hampir mengendor.


Darah pekat mengalir dari lubang hidung lelaki paruh baya itu. Napasnya sempat tersengal-sengal sebelum dirinya tak sadarkan diri dalam dekapan Kemil.


"Sayang... Om Bram kenapa?" Tanya Kamelia begitu saja karena terlalu khawatir melihat lelaki paruh baya itu.


"Entahlah, sayang..." Jawab Kemil panik.


"Paaah... Maaah... Papaaaah..." Teriaknya berulang kali.


"Toniiii..." Lagi-lagi Kemil berusaha memanggil semua orang.


Ramdani terlihat di posisi paling depan ketika semua datang ke tempatnya.


"Apa yang terjadi, Kemil?" Tanya Ramdani terlihat ikut panik.


"Kemil tidak tau, kak Adan... Tiba-tiba saja om Bram rebah dan tidak sadarkan diri. Untung aku dan Kamel melihatnya dengan cepat." Ujar Kemil gemetaran.

__ADS_1


"Papah..." Toni yang sedari tadi berada di kamar mamanya yang sempat dihuni Kamelia dulu juga datang. "Apa yang terjadi dengan papaku, Kemil?" Tanyanya segera mengambil tubuh papanya dari dekapan Kemil.


Mereka semua panik, apalagi darah mengucur dari lubang hidung Bram.


"Cepat bawa ke puskesmas, Toni, Kemil..." Pinta Agung yang tak kalah mengkhawatirkan sahabatnya itu.


Toni dengan dibantu Ramdani dan Kemil memapah papanya keluar menuju mobil yang terparkir di depan rumah itu.


Sebelum mengikuti mereka, Idris mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Kamelia tersenyum bangga kepadanya mendengar siapa orang yang dihubungi papa mertuanya itu. Dan kemudian segera menyusul ke depan.


.


.


.


.


.


**Teman2 sekalian... Terimakasih masih setia Kamel Kemil.... Tinggalin Komentarnya ya jika ada sesuatu yang mengganjal, menggelikan dan terlalu tidak masuk akal.


Radetsa ingin menulis yang benar2 seperti kehidupan nyata saja... Tidak dilebih-lebihkan dan terlalu berlebihan.


Jangan lupa like vote dan rate ya...


Sekali lagi terimakasih.


Takbiran untuk semua...

__ADS_1


mohon maaf lahir dan bathin...🤗**


__ADS_2