KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MENGOREK MASA LALU


__ADS_3

Pagi di kediaman Arayan.


Kamelia disibukkan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua di dapur, dibantu oleh bi Ina yang sudah setia semenjak kakek Kemil masih hidup.


sedangkan Kemil sedari tadi asik saja mengajak Milka untuk mengobrol di halaman belakang rumahnya.


Dengan sengaja, dia membangunkan bayi mungil itu yang tengah terlelap di atas tempat tidurnya.


Baginya, bercengkrama dengan Milka adalah hal yang paling menggemaskan. Ditambah lagi jika bayi mungil itu menyahutinya dengan ocehan-ocehan dan gumaman panjangnya.


Pekik dan gelak serta ocehan Milka membuat Kemil bertubi-tubi mendaratkan kecupan ke wajah bayi mungil itu.


Kamelia sesekali menyunggingkan senyumannya ketika memandang mereka dari dapur.


"Bik..." panggil Kamelia.


"Iya non..." Sahut bi Ina menghentikan pekerjaannya.


"Bibik sudah lama bekerja di rumah ini?" Tanya Kamelia berhati-hati.


"Waah sudah, non... Sejak tuan Idris masih bujangan. Sebelumnya, bibinya bibik yang bekerja disini. Tapi karena beliau sudah tua, beliau meminta bibik yang menggantikannya non. Saking sayang dan cintanya terhadap keluarga tuan besar Adipati, non. Beliau tidak bisa mempercayakan kepada siapapun untuk mengurus rumah ini." Ujar bi Ina panjang lebar.


"Memangnya keluarga bibi dimana?" Tanya Kamelia lagi.


"Orang tua bibik sudah meninggal non, jadi bibinya bibiklah yang membesarkan bibik. Bibik disini sudah dari kecil. Ketika bibik sudah remaja, bibik menikah dan memiliki anak. Bibik dibawa suami bibik ke desanya. Tapi waktu putra bibik berumur dua tahun, suami bibik meninggal. Makanya bibik diminta datang kesini untuk menggantikan bibinya bibik hingga beliau meninggal." Mata wanita paruh baya itu sedikit berkaca-kaca mengenang nasibnya.


"Maafin Kamel ya, bik..." Kamelia meninggalkan pekerjaannya dan merengkuh bi Ina ke dalam dekapannya.


"Tidak apa-apa, non..." Bi Ina mengusap sedikit air liar yang yang menyusup di sela-sela kelopak matanya yang mulai keriput.


"Lalu putra bibik kemana?" Tanyanya semakin penasaran.

__ADS_1


"Dia sudah berkeluarga, non. Berkat kebaikan tuan besar Adipati, dia bisa bersekolah tinggi. Dia tinggal bersama istrinya di kota. Sesekali dia berkunjung kemari. Terakhir waktu tuan besar Adipati meninggal. Tapi dia juga sering menelepon bibik. Pernah dia ingin mengajak bibik tinggal bersamanya di kota, tapi bibik tidak bisa, non... Bibik tidak bisa meninggalkan rumah ini. Rumah ini sudah seperti oksigen untuk bibik." Tutur bik Ina lagi.


Kamelia tersenyum melihat wajah teduh bi Ina yang penuh dengan ketulusan itu.


"Berarti sudah lama juga ya, bik... Sampaikan salam Kamel buat anak bibik dan keluarganya, ya." Pinta Kamelia lembut.


"Pasti non..." Sahut bi Ina bersemangat.


"Bibi... Boleh Kamel bertanya lagi?" Tanya Kamelia lebih berhati-hati.


"Non mau tanya apa?" Bi Ina mengerutkan keningnya penasaran.


"Siapa yang menghuni kamar itu sebelumnya bik?" Kamelia menunjuk kearah Kamar yang ditempatinya sebelum pindah ke kamar suaminya.


"Oh... I-ituuu... Oh... Maaf, non... Jangan minta bibik menjawabnya, non... Bibik takut salah bicara." Bi Ina terlihat bingung, cemas dan juga takut akan pertanyaan Kamelia.


Dia terlihat mengetahuinya, namun seakan dipaksa untuk bungkam.


"Jadi... Bibi dilarang untuk bercerita?" Tanya Kamelia seakan menangkap jawaban dari buah pikirannya selama ini.


"Sebenarnya Kamel tidak mau ikut campur, bik... Hanya saja Kamel pernah melihat foto papa Kamel bersama seorang perempuan di laci bofet kamar itu. Dan semalam Kamel tau, kalau perempuan itu bernama Rianti, mamanya Toni. Seseorang pernah bilang kalau Kemil mirip sama putranya Rianti. Apa maksudnya orang yang sama ya, bik? Yaitu Toni." Tutur Kamelia. Dia benar-benar penasaran, dan kepenasarannya itu mengganggu pikirannya.


PYAAAARRRR


Piring kaca yang berada dalam genggaman bi Ina terjatuh dan berserakkan di lantai. Hal itu membuat Kamelia terkejut.


Tidak hanya kamelia, Kemil yang berada di halaman belakang bersama Milka segera berlarian sambil menggendong bayi mungil itu kearah dapur.


"Ada apa, sayang?" Tanya Kemil histeris.


"Maaf, den... Bibik yang menjatuhkan piringnya. Bibik tidak sengaja, den." Mata bi Ina berkaca-kaca. Wajahnya memerah penuh ketakutan.

__ADS_1


Bi Ina hendak berjongkok untuk memunguti beling-beling yang berserakan di lantai itu, namun segera ditahan oleh Kamelia.


"Maafkan Kamel, bik... Bibik istirahat saja, bibi pasti kecapean. Nanti Kamel yang akan membereskannya." Perintah Kamelia.


"Tidak usah, non... Biar bibik saja." Elak bi Ina.


"Bibiiik..." Kamelia pun memaksa.


Dengan berat hati, bi Ina berpamitan kepada Kamelia dan Kemil hendak ke kamarnya.


"Apa yang terjadi, sayang?" Kemil melihat sikap bi Ina yang tidak seperti biasanya.


"Tidak ada apa-apa kok, sayang... Kamu jangan mendekat ya... Nanti kamu terkena beling." Pinta Kamelia.


"Tunggu... Tunggu... Kamu tetap disana sebentar." Kemil malah melangkah mendekati istrinya itu.


"Sayang... Apa yang kamu lakukan?" Kamelia terlihat khawatir ketika Kemil hendak mendekatinya.


"Kamu yang pegangin Milka sebentar ya... Biar aku yang beresin..." Kemil menyerahkan Milka kepada Kamelia.


"Tidak usah, sayang... Biar aku saja." Elak Kamelia.


"Sayaang..." Kemil menatap tajam Kamelia penuh pemaksaan.


"Ya sudah kalau gitu... Terima kasih ya, sayang..." Ucap Kamelia. Dia tersenyum penuh haru menatap suaminya yang berjongkok memunguti beling-beling yang berserakan di lantai itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2