
Di Kediaman Arayan.
Sedari tadi ponsel milik Kemil berdering, namun dengan sengaja dia mengabaikan panggilan itu. Dia tahu, bahwa yang meneleponnya adalah Ramdani, kakak iparnya yang akhir-akhir ini sangat menyebalkan baginya.
"Sayang... Itu telepon dari siapa? Kenapa tidak kamu angkat?" Kamelia yang sibuk mengurus Milka menoleh heran kearhnya. Kemil terlihat memasang wajah merengut.
"Bukan siapa-siapa kok, sayang. Tidak penting..." Elak Kemil acuh.
Kemil kembali membuka ponselnya setelah mendengar nada pesan masuk.
Awas saja Kameliaku sampai tidak datang karena kamu ya...~ Kemil membaca pesan dari Ramdani di dalam hatinya.
Wah... Jadi sekarang kak Adan sedang harap-harap cemas.... Kesempatan nih... Aku kerjain ah....~ Tiba-tiba dia menyeringai dengan liciknya.
Aku mau membawa Kamelia dan Milka merayakan ulang tahunnya bersama di luar kota... Jadi, aku ucapkan Samawa saja ya, kak adan... Sampaikan maaf kami kepada mama papa dan keluarga, beserta Fitria....~ Setelah mengrimkan isi pesannya kepada Ramdani, Kemil tersenyum penuh kemenangan.
Tidak lama, ponselnya kembali berdering dan dengan sengaja Kemil merijek panggilan kakak iparnya itu.
Kamelia menatap curiga kearah suaminya.
"Apa itu dari abung?" Kamelia menajamkan tatapannya.
"Bukan... Bukan kok, sayang... Ayo kita berangkat." Kemil meraih ransel yang berisi perlengkapan Milka dan bergerak menuju kearah pintu kamarnya hendak keluar.
__ADS_1
"Kamu pikir aku tidak tau...?" Kamelia menggendong Milka dan berjalan mengikuti Kemil. Kemil hanya menyengir tanpa dosa.
"Sudah selesai, nak...?" Rahmah yang baru saja keluar dari kamarnya bersama Idris mendapati Kemil dan Kamelia sudah menunggu mereka di ruang utama.
"Sudah, Ma..." Sahut mereka hampir bersamaan.
"Ya sudah... Ayo kita berangkat. Ramdani sudah menunggu kita." Ujar Idris.
Mereka berangkat ke kota tempat kediaman Fitria subuh itu.
Pernikahan Ramdani kebetulan akan diadakan sebelum waktu Zuhur. Dan hal itu membuat Ramdani merasa khawatir dengan keputusan Kemil berangkat pagi hari pas acaranya. Karena dari desanya ke rumah Fitria memakan waktu sekitar empat jam atau lebih.
Keluarga Effendi bahkan sampai bela-belain untuk menyewa beberapa kamar hotel agar tidak terlambat. Sedangkan Toni yang juga diundang oleh orang tua Kamelia, berangkat subuh itu pula dengan membawa mobil pribadinya.
****
Rahmah dengan sengaja mengajak Kamelia untuk mengobrol bersamanya dan Milka.
Memang benar saja, Kemil membawa mobilnya ke kediaman Fitria hanya membutuhkan waktu kurang dari empat jam.
Ketika Kemil baru saja keluar dari mobilnya, Ramdani melingkarkan lengannya kearah leher Kemil seperti orang hendak bergulat.
"Berani sekali kamu mempermainkanku? Gara-gara kamu aku jadi nervous sedari tadi.." Ramdani tak kunjung melepaskan adik iparnya itu.
__ADS_1
"Ampun, kak Adan... Ampun... Aku hanya bercanda... Uhuk... Uhuk... " Kemil sampai terbatuk-batuk ulah kakak iparnya itu.
Semua yang melihat hanya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Kemil dan Ramdani.
"Abung nervous karena Kamel dan Kemil atau karena sebentar lagi mau jadi suami?" Kamelia ikut menimbrung.
Kemil tersenyum penuh ejek dan kemenangan karena merasa ditolong istrinya. Ramdani melototkan matanya kepada Kemil.
Toni yang juga berada disana, diam-diam ikut tersenyum.
Bahagianya melihat keharmonisan di antara mereka~ Tangan Agung menepuk pundak Toni dengan pelan.
"Om Agung..." Toni sedikit terkejut karenanya.
"Jangan pernah iri melihat mereka. Perasaan kami kepadamu tidak akan berubah. Seiring waktu semua akan membaik dan akan baik-baik saja." Agung seakan mengerti perasaan Toni kala itu.
"Terima kasih, Om... Toni malu menampakkan diri di depan Om. Tapi Toni juga tidak akan sanggup Om dan tante Maya akan marah terus kepada Toni..." Ujar Toni. Matanya yang sipit itu tampak berkaca-kaca dan memerah.
.
.
.
__ADS_1
.
.