
Sedan silver yang ditumpangi Kemil dan Kamelia berhenti tepat di kediaman Arayan.
Setelah mematikan mobilnya, Kemil tidak langsung untuk turun. Dia merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi tempat duduknya itu.
Kemil menghadapkan tubuhnya kearah Kamelia yang masih tertidur pulas. Mata Kemil menatap lekat bibir bawah Kamelia yang terlihat sedikit membengkak.
Siapa sebenarnya Misya dan kekasihnya itu dalam hidup Kamelia?~ Kemil membelai lembut rambut Kamelia yang sedikit berantakan.
Sebenarnya Kemil hendak membangunkan Kamelia, tetapi dia sungguh tidak tega melihat wajah polos istrinya itu. Akhirnya Kemil memutuskan untuk menggendong Kamelia ke dalam rumahnya.
"Loh, Kemil... Kok Kamel kamu gendong? Kamel tidak apa-apa, kan, nak?" Rahmah tiba-tiba datang karena sempat mendengar suara mobil anaknya berhenti di depan rumah. Dia terlihat panik dan mengkhawatirkan keadaan Kamelia.
"Nanti Kemil cerita ya, Ma... Kemil bawa Kamel ke kamar dulu." Kemil menyahuti perkataan mamanya dengan sedikit berbisik dan napas yang terengah-engah.
Kemil membawa Kamelia ke dalam kamarnya dan meletakkan Kamelia di atas tempat tidurnya dengan posisi senyaman mungkin.
Kemil menyelimuti tubuh istrinya itu dan kemudian mengecup keningnya.
"Tidur yang nyenyak ya, sayang... Aku yakin nanti kamu pasti kebangun buat shalat Isya." Kemil membelai lembut kepala Kamelia yang tertidur pulas. Dia menatap sendu perempuan yang telah menjadi istrinya itu.
"Sayang... Baik-baik ya di dalam perut ibumu... Kasihan ibu capek sekali." Kemil juga menyempatkan untuk berbisik ke perut Kamelia yang buncit dan sambil mengelusnya.
__ADS_1
Kemil melangkah dengan gontai ke ruang keluarga. Disana sudah ada Rahmah dan Idris sedang menunggu kedatangannya.
"Apa yang terjadi, Kemil?" Rahmah terlihat tidak sabaran mendengar cerita putra semata wayangnya itu.
"Malam ini biar Kamel tidur di kamar Kemil saja, Ma... Kemil takut akan terjadi hal buruk sama Kamelia kalau Kemil tidak di sisinya"
Tutur Kemil dengan wajah yang ditekuk.
"Memangnya ada apa?" Idris mulai khawatir melihat sikap anaknya yang begitu mencemaskan menantunya itu.
"Tadi Kamelia terlihat begitu trauma ketika bertemu sama pacarnya Misya selain Kemil, Pa..." Ujar Kemil mengingat kejadian tadi.
"Misya punya pacar lain...?"
Rahmah dan Idris sontak terkejut namun mereka malah menanyakan hal yang berbeda.
"Papa tau sama pacarnya Misya?" Rahmah dan Kemil menatap papanya penuh tanda tanya.
"Oh... Ee.. Anu.." Idris gelagapan. Dia keceplosan menyebutkan nama Toni.
"Pa..." Kemil seakan memaksa papanya untuk menjelaskan hal yang tidak diketahuinya.
__ADS_1
"I-Iya... Kemil... Ma.. Maka dari itu papa memaksa Kemil untuk menikahi Kamelia... Papa tau Pacar kamu itu mempunyai hubungan dengan Toni, anaknya Bram. Orang yang sangat menginginkan tanah peninggalan kakek kamu." Akhirnya Idris mengungkapkan alasan dirinya menikahkan Kemil dengan Kamelia.
"Pantas saja Misya tiba-tiba mau menerima Kemil setelah menolak mentah-mentah Kemil kala itu." Ujar Kemil merasa menyesal karena telah dibodohi oleh Misya.
"Yaa Allah... Mama benar-benar merasa menyesal telah banyak mendengarkan omongan Misya kala itu..." Ungkap Rahmah. Dia membayangkan ucapan Misya yang menghasutnya sehingga emosinya meledak-ledak jika melihat Kamelia.
"Iya, Mah, Pah... Seharusnya Kemil sudah ngeh ketika dia setuju-setuju saja Kemil menerima permintaan Papa untuk menikahi Kamelia." Kemil membayangkan kembali bagaimana Misya terkejut saat dia mengutarakan akan diusir papanya dan segala fasilitasnya dicabut jika dia menolak untuk menikahi Kamelia.
"Sudah... Yang berlalu biarlah berlalu... Yang penting Mama dan Kemil sudah tau kebenarannya, kan?" Idris berusaha agar anak dan istrinya melupakan hal itu.
"Tapi kenapa Papa bisa tau Misya dan Toni punya hubungan?" Kemil sangat penasaran terhadap papanya.
"Nak.... Papa itu bergaul dengan penduduk... Memangnya kamu dan mama?" Idris berusaha mengelak. Dia tidak ingin lagi-lagi keceplosan terlalu jauh. Dia takut Kemil dan istrinya semakin curiga terhadapnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.