KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MENUNTUT


__ADS_3

Malam hari di kediaman Bram.


Toni terlihat kegirangan ketika memasuki rumahnya. Dia terus saja bersiul ria hendak menuju kamarnya yang ada pada bagian ujung rumah itu. Bayangan putri kecilnya menari-nari di benaknya sehingga senyuman di bibirnya itu tidak pernah pudar sedari dia diizinkan menggendong bayi Milka.


"Darimana saja kamu?" Suara menggelegar dari ruangan utama rumah itu terdengar nyaring di telinganya, sehingga menghentikan paksa langkahnya. Senyumnya yang merekah berangsur-angsur memudar.. "Akhir-akhir ini kamu tidak pernah terlihat atau terdengar sama sekali di rumah ini."


Orang yang tidak lain adalah papanya Toni yang bernama Bram, menatapnya penuh kemarahan.


"Toni ada urusan, Pa..." Sahutnya singkat dan ia tetap bergeming dari tempatnya.


"Bagaimana dengan tugas yang sudah Papa berikan kepadamu? Apa kamu sudah berhasil?" Bram ingin melihat reaksi dan jawaban dari anaknya itu.


"Belum ada perkembangannya, Pa... Toni akan pikirkan lagi nanti." Toni memutuskan beranjak meninggalkan papanya dan kembali ke tujuan awalnya, yaitu peraduannya.


Toni membuka pintu kamarnya yang berhari-hari tidak dihuninya. Semenjak dia bertemu Kamelia yang tengah hamil dan mengetahui bayi yang dikandung kamelia adalah darah dagingnya, Toni sangat jarang pulang. Dia lebih memilih terus-terusan berpatroli di depan kediaman Arayan.


Toni menghirup aroma kamarnya itu dalam-dalam. Dia bergegas mengambil foto yang terpajang di atas nakas samping tempat tidurnya itu.


"Mah... Cucu mama sudah lahir. Toni tidak pernah sebahagia ini sebelumnya, Ma. Toni merasa Mama hidup dalam bayi mungil itu. Bi Isah bilang, Mama orangnya begitu baik. Toni yakin Milka besarnya juga sebaik Mama." Toni mendekap foto itu ke dadanya lalu merebahkan tubuhnya itu ke pembaringan yang sudah beberapa hari itu tidak ditempatinya.

__ADS_1


Terima kasih, Kemil... Meski aku tidak bisa memiliki Kamelia... Tetapi berkatmu aku dapat memiliki putriku... Aku yakin Kamelia pasti bahagia bersamamu...


Kamelia juga sudah tidak lagi ketakutan seperti sebelumnya jika melihatku... Dan kesempatanku untuk bisa bertemu anakku lebih besar karenamu...


Kamu juga mengizinkan aku dipanggil papa oleh Milka... Aku berhutang banyak denganmu...


Toni membuka foto Kamelia bersama dirinya di bagian belakang foto mamanya itu dan menyimpannya di tempat lain setelah merapikan lipatan yang menyembunyikan gambarnya Misya di foto itu.


Karena tubuhnya yang terlalu kelelahan, Toni tertidur dengan sebagian kakinya masih berjuntai ke lantai. Foto mamanya itu pun masih berada dalam dekapannya.


****


Toni pun sesekali juga diizinkannya untuk mampir menemui Milka.


Namun pada pagi itu, Misya datang menemui Kemil.


"Ada apa lagi kamu datang kesini?" Kemil tidak senang dengan kehadirannya.


"Ada apa? Apa kamu lupa, sayang? Kamu, kan sudah janji untuk meninggalkan Kamelia dan anaknya setelah dia melahirkan." Misya menuntut janji yang pernah diucapkannya kala itu kepada Misya.

__ADS_1


"Aku tidak lupa itu, Misya... Tapi kamu sepertinya yang lupa bahwa hubungan kita telah berakhir." Ujar Kemil mengingatkan Misya.


"Tapi aku tidak ingin putus dari kamu, Kemil... Aku sudah siap untuk menikah denganmu." Misya memelas sambil memegangi lengan Kemil.


"Maaf Misya, Aku sudah dari lama mencintai istriku. Hanya karena kesalah pahaman yang membuat kami terpisah." Kemil menepis tangan Misya.


"Tapi, Kemil..."


"Sekarang kamu pergi... Aku doain kamu mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku." Kemil melangkah masuk ke dalam rumahnya dan segera mengunci pintu.


Misya mengepal tangannya dengan geram. Matanya menatap rumah itu penuh kebencian sebelum berlalu meninggalkan rumah itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2