KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MELEPASKAN RINDU


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Kemil mengetuk pintu kamar istrinya terlebih dahulu sebelum menarik gagang pintu dan kemudian mendorongnya hingga sedikit terbuka.


"Assalamu'alaikum..." Dia mendongakkan kepalanya seolah mengintip Kamelia yang diyakininya berada di dalam kamar itu bersama Milka kecilnya.


"Wa'alaikumussalam..." Kamelia menolehkan wajahnya yang sendu ke arah Kemil yang masih saja berdiri kikuk di depan pintu kamarnya.


"Ayaaah... Ayah datang..." Sorak Milka nyaring terdengar dari bibirnya yang mungil. Dia begitu antusias mendengar suara Kemil. Dengan segera, tubuhnya yang mungil bangkit dari tidurnya dan turun dari tempat tidur itu.


Milka tergopoh-gopoh menghampiri sosok yang menjadi ayahnya semenjak dia belum terlahir ke dunia.


Matanya terlihat memancarkan binar-binar kerinduan dari dalamnya.


"Hmmm... Sayang,sayang... Gadis cantik ayah..." Dengan segera pula Kemil meraih tubuh mungil Milka ke dalam gendongannya. Kemil menguatkan dekapannya ke tubuh mungil yang sangat dirindukannya itu, dan kemudian menghujani pipi gembul Milka dengan kecupannya.


Kamelia hanya menatap lirih kepada anak dan ayah yang saling melepas rindu itu dari bibir tempat tidurnya. Dia seperti merasa sedang bermimpi akan kedatangan Kemil yang sama sekali tidak diduganya.


"Apa kamu akan terus saja duduk disana? Apa kamu tidak akan menyambut kedatangan suamimu ini yang sangat merindukanmu..." Kemil memberanikan diri mengungkapkan kerinduannya yang teramat dalam kepada istri yang didiaminya beberapa hari itu.


"Apa kamu baru saja berbicara denganku?" Kamelia bertanya dengan tatapan mata yang masih lirih. Di wajahnya terpancar harapan bahwa itu sebuah kenyataan.

__ADS_1


"Apa aku memiliki istri selain dirimu? Tentu aku berbicara denganmu sayang..." Meski sebelum masuk ke kamar itu Kemil sempat membersihkan Dirinya terlebih dahulu, namun rasa bersalah dan penyesalan di raut wajahnya tidak mampu membuat wajahnya itu bersinar.


Matanya yang berkaca-kaca mengundang tangis haru Kamelia. Kamelia mengusap kasar pipinya yang basah, dan segera berlari menghamburkan dirinya ke dalam pelukan suami yang sangat dirindukannya.


"Kamu jahat..." bisik Kamelia lirih. Air mata lelaki tampan itupun mengalir dengan sendirinya.


"Jangan pernah pergi-pergi lagi ya sayang... Apalagi tanpa seizin ku seperti ini. Jika kamu tidak ingin melihatku gila." Balas Kemil.


Kamelia menggeleng lirih. Dan dia semakin menguatkan pelukannya sebagai pelepasan rindu yang beberapa hari itu terpendam di dalam hati mereka masing-masing.


"Ibu cempiiit..." Rengek Milka yang masih berada di tengah-tengah mereka dengan suara khasnya.


Kamelia terkejut dan melepaskan gelayut tangannya dari tubuh Kemil, mereka berdua tertawa melihat sungut Milka kecilnya mereka.


"Aku akan menangis lagi jika kamu dan Milka meninggalkanku seperti ini lagi..." Tutur Kemil dengan manja.


"Aku Minta maaf sayang..." Ujar Kamelia lirih.


"Dan kamu sayang... Kenapa matamu bengkak dan wajah cantikmu menyembab?" Kemil berlagak marah.


Kamelia menaikkan bibir bawahnya seolah terlihat cemberut.

__ADS_1


Kemil tersenyum jail dibuatnya dan segera menutup rapat pintu kamar mereka yang terbuka sedikit, kemudian beranjak menuju ke tempat tidur mereka sambil menggendong Milka dan merangkul bahu istrinya itu.


Tanpa mereka sadari, dua indra pendengar Ramdani telah mendengarkan setiap ucapan mereka. Ya, Ramdani sedari tadi telah menguping di balik pintu kamar itu.


Bibirnya yang tidak terlalu tipis terangkat dan membentuk garis lengkungan di wajahnya yang tampan.


*Meski dulu kamu pernah membuatku marah dan kecewa Kemil. Tapi setiap harinya setelah itu, dan bahkan hingga hari ini kamu membuktikan bahwa kamu adalah lelaki terbaik untuk Kamelia dan Milka kami...


Kamu bahkan mampu membuatku mencontoh caramu dalam mencintai istri dan anakmu, meski istrimu tidak lagi sempurna ketika kamu menemukannya dan sedangkan anakmu itu bukanlah anak kandungmu yang sebenarnya...


Kamu lelaki hebat Kemil... Kak Adan salut denganmu.


Jangan pernah berubah...


Yaa Allah... Meski jika maut yang memisahkan mereka, hamba mohon izinkan mereka mengecap bahagia di dunia ini begitu lama. Jangan patahkan hati mereka dengan begitu cepat yaa Rabb*...


Ramdani mengusap wajahnya, dan begitu lama pada matanya yang sempat berkaca-kaca hingga memerah sebelum dia memutuskan untuk kembali dan beranjak dari sana.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2