KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
ENAM BELAS JULLI


__ADS_3

*Fikih mazhab hanafiah dan syafi'iyah berpendapat bahwa hukumnya sah menikahkan wanita yang hamil di luar nikah dengan lelaki yang bukan menghamilinya. Karena wanita tersebut bukanlah wanita yang haram untuk dinikahi.


Sehingga sesuatu yang haram tidak dapat mengharamkan seseuatu yang halal ( yaitu pernikahan ).


Dan juga wanita itu bukanlah termasuk wanita yang bersuami ataupun hamil sedang dalam masa 'idah ( diTalaq atau kematian suaminya ).


Pendapat ini pun juga tidak ada perbedaan dengan KHI ( Kompilasi Hukum Islam* ).


"Jadi Kemil dan Kamel tidak perlu menikah ulang, Pa?" Kemil tampak berbinar dalam obrolannya dengan papa, papa mertua dan kakak iparnya itu di teras halaman belakang rumahnya.


"Tidak perlu, Kemil..." Agung terheran dengan reaksi menantunya itu.


"Alhamdulillah yaa Allah..." Kemil mengusap wajahnya dengan begitu bahagia.


"Kenapa kamu terlihat begitu bahagia?" Ramdani juga ikut kebingungan melihat tingkah adik iparnya itu.


"Pernikahan ulang hanya akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tetangga beserta penduduk saja, kak Adan. Kemil tidak ingin orang banyak, tahu tentang masa lalu Kamel dan Milka bersama Toni. Sehingga menimbulkan masalah baru lagi untuk Kamelia. Cukup kita dan Allah saja yang tau." Kemil menatap kosong membayangkan jika hal itu terjadi. Dia sangat tahu bagaimana terlukanya hati dan mental istrinya itu kelak.


Idris, Agung dan Ramdani begitu terharu mendengar penuturan Kemil. Mereka saja tidak sempat berpikiran kesana sebelumnya.


Papa bangga sama kamu, nak... Kamu jauh berubah semenjak menikah dengan Kamelia...


Papa akan cari waktu yang tepat untuk menyampaikan apa yang selama ini tersembunyi darimu...~ Idris menatap haru putra semata wayangnya itu.


"Terima kasih, Kemil... Papa beruntung bermenantukan kamu, nak. Kamu rela dan begitu tulus menutupi aib kami. Kamu bahkan juga menyayangi Milka seperti anak kandung bagimu." Mata Agung berkaca-kaca mengucapkannya.

__ADS_1


"Kemil melakukannya karena Kemil begitu sangat mencintai Kamelia, Pa... Kemil akan menjaga apa pun tentang Kamelia dan Milka. Milka sudah menjadi bagian dalam hidup Kemil semenjak dia masih dalam rahim Kamelia." Kemil tersenyum menyahuti ucapan mertuanya.


Tidak hanya kamu, dek... Tapi abung juga beruntung memiliki adik ipar seperti Kemil.


Abung begitu yakin kamu dan Milka pasti bahagia hidup bersama Kemil...~ Batin Ramdani.


"Oh ya... Kak Adan jadi kapan menikahnya?" Kemil memecahkan suasana haru yang baru saja mereka rasakan.


"Oh... Itu membuat kami datang kesini selain dari merindukan Milka." Sahut Agung.


"Enam belas Julli bulan depan, pernikahan Ramdani dan Fitria akan diadakan di kota. Ramdani akan melangsungkan pernikahannya di kediaman orang tuanya Fitria." Agung menyampaikan kabar baik itu dengan wajah yang sumringah. Sedangkan Ramdani sendiri hanya diam saja.


"Enam belas Julli?" Kemil mengulangi lagi ucapan mertuanya itu pada tanggal pernikahan Ramdani.


"Haruskah kak Adan memilih tanggal itu...?" Kemil menggerutu sehingga membuat bingung papanya, Idris.


"Memangnya kenapa dengan tanggal itu, Kemil?" Tanya Idris penasaran.


"Kemil dan Kamelia tidak akan datang..." Ucapnya penuh penegasan.


"Coba saja kamu membuat Kameliaku tidak datang. Aku sendiri yang akan menghajarmu..." Ramdani sedikit menegang mendengar keputusan Kemil.


Agung terkekeh melihat pertengkaran adik kakak ipar itu. Dan hal itu semakin sukses membuat Idris semakin penasaran dan sedikit tegang melihat raut Kemil dan Ramdani yang tampak serius.


"Pokoknya Kemil tidak akan mengizinkan Kamelia dan Milka untuk datang. Ada-ada saja... Masa milih tanggal tidak dipikir-pikir dulu." Gerutu Kemil.

__ADS_1


"Kamelia kan adikku..." Bantah Ramdani dengan menggrebek meja seraya bangkit menghadap Kemil.


"Tapi dia, kan istriku..." Kemil tidak kalah, dia melakukan hal yang sama sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.


Melihat reaksi mereka semakin memanas, Agung yang semula hanya bersikap santai saja pun ikut tegang dibuatnya.


"Ada apa ini?" Kamelia yang datang dari dalam bersama Milka dalam gendongannya, begitu terkejut menyaksikan suasana panas antara suami dan abungnya itu.


Maya dan Rahmah yang sedari tadi bersama Kamelia juga ikut terkejut mendapati suasana itu.


"Sayang... Beritahu abungmu ini kalau hendak mencari tanggal pernikahan, jangan enam belas Julli..." Kemil mendekati Kamelia yang datang bersama rahmah dan Maya dengan penuh amarah.


"Haaah..." Kamelia menautkan alis matanya sebelum terkekeh mendengar penuturan suaminya itu.


"Jadi itu yang kalian perdebatkan?" Kamelia memberikan Milka kepada mamanya yang tidak terbawa suasana seperti yang lainnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2