KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
KERINDUAN


__ADS_3

Kemil melajukan kembali mobilnya di pedesaan itu menuju ke rumah Toni.


"Sayang... Apa kamu tidak menghubungi papa?" Kamelia teringat akan pesan Agung tadi.


"Oh iya, sayang... Aku sampai lupa." Kemil merogoh kantong samping celananya.


"Tolong, sayang... Kamu saja yang telfon 'kan ya." Pinta Kemil seraya menyodorkan ponselnya kepada Kamelia.


Kamelia meraih ponsel Kemil dan langsung menghidupkan layarnya.


"Passwordnya?" Kamelia memperlihatkan layar ponsel Kemil yang terkunci.


"MILKAKU..." Sahut Kemil.


Kamelia tersenyum menatap kearah Kemil. Matanya berkaca-kaca. Perasaan haru bermunculan di dalam hatinya. Ngambang dan semakin membesar.


"Sayang..." Kemil mengusap lembut pipi Kamelia.


"I-iya sayang..." Kamelia tersentak.


"Ada apa?" Kemil seakan pura-pura tidak tahu dengan perasaan istrinya saat itu.


"Tidak, sayang... Aku akan telfon papa." Kamelia membuka password ponsel Kemil. Dan segera mencari nomor papanya.


Tut...Tut...Tut....


"Hallo nak..." Terdengar sahutan papanya dari seberang.


"Iya hallo, Pa... Assalamu'alaikum... Pa, Kemil dan Kamel sudah sampai di desa."


"Wa'alaikumussalam... Apa sudah bertemu Milka?" Tanya Agung.


"Belum, Pa... Tadi Toni menelpon, Dia bilang Milka bersama dia di rumahnya."


"Iya... Papa tau... Toni sudah menelpon papa, dia bilang kamu dan Kemil sudah hampir sampai disana."


"Iya, Pa... Tadi kami mampir untuk makan dulu."

__ADS_1


"Oh... Ya sudah... Kalian hati-hati ya... Papa dan semua keluarga akan kembali besok pagi. Dah Assalamu'alaikum..."


"Iya, Pa... Wa'alaikumussalam..." Kamelia mengakhiri panggilannya.


****


Kemil dan Kamelia sampai di kediaman Toni.


Kemil mengetuk pintu utama rumah itu, dan selang beberapa saat, seorang pelayan rumah dari dalam membukakan pintunya.


"Selamat malam, bi... Toninya ada?" Kemil menyapa pelayan itu dengan ramah.


"Malam, den... Non Kamelia dan den Kemil?" Pelayan itu mencoba menerka.


"Iya, bi... Bibi kok tau dengan kami?" Kemil kebingungan. Dan Kamelia pun juga tak kalah bingung olehnya.


"Iya, den... Tadi den Toni sudah bilang kalau ada tamunya yang bernama Kamelia dan Kemil disuruh langsung ke kamarnya saja, den." Tutur sang pelayan.


"Owhh.." Kemil membulatkan mulutnya.


Mereka melewati beberapa ruangan di lorong rumah itu hingga sampai ke ujung dan mentok disana.


Tok... Tok... Tok...


Pelayan itu mengetuk pintu kamar Toni.


"Den Toni... Tamu aden sudah datang..." Serunya sambil mendekatkan pipinya ke daun pintu yang terkunci dari dalam.


Toni denga segera membuka pintu kamarnya. Mata Kamelia menatap tajam kearahnya.


"Mana Milkaku?" Tanyanya ketus.


"Dia ada di dalam... Masuklah..." Toni tidak berani membalas tatapan Kamelia terlalu lama. Dia tahu saat itu Kamelia masih kesal dan belum sepenuhnya memaafkan dirinya.


Kamelia menerobos masuk ke dalam kamar Toni. Dia langsung mendekati putrinya yang tertidur di atas tempat tidur ruangan itu. Ruangan yang designnya hampir sama dengan design kamarnya di kediaman Arayan sebelum dirinya berbagi kamar dengan Kemil.


Tak henti-hentinya Kamelia menghujani wajah Milka dengan kecupannya hingga membuat bayi mungil itu terbangun.

__ADS_1


"Milka sudah bangun, nak... Milkanya ibu... Si cantiknya ayah...." Kamelia mengajak putri kecilnya itu mengobrol dengannya.


Kemil dan Toni hanya memerhatikan mereka dari depan pintu.


Kemil sangat mengerti sekali dengan kerinduan yang dirasakan Kamelia terhadap Milka.


Jangankan Kamelia, dia juga sangat merindukan bayi kecilnya itu.


"Apa dia juga merindukan ayah?" Kemil mendekati Kamelia dan Milkanya.


"Tentu dong, ayah... Milka rindu sangat sama ayah ganteng..." Kamelia menirukan suara anak kecil demi menyahuti pertanyaan Kemil kepada bayi mungil itu.


"Kalau beneran rindu, mana sayangnya buat ayah?"


"Sini dong, ayah..." Sahut Kamelia lagi sambil menciumi jemari mungil Milka.


Kemil berlutut di samping tempat tidur itu dan menciumi Milka sepuasnya.


Milka yang serasa telah memiliki ikatan bathin dengan ayahnya sedari dalam kandungan, tersenyum layaknya bayi yang mendengar suara ibunya.


"Udah dong ayah... Ayah bau acem aaah..." Kamelia menutupi hidungnya dengan jemari Milka.


"Apa iyaaa? Ya sudah deh... Kamu pasti haus dan lapar, kan? Ayah tinggal ya, sayang." Kemil kembali menciumi Milka sebelum pergi keluar dari kamar Toni.


Di pintu kamar, mata Toni berkaca-kaca menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil itu.


Walau papa ingin... Tapi Papa bahkan tidak berani bermimpi memilikimu seutuhnya, nak.... Ada ayahmu yang juga sangat menyayangimu dengan caranya yang sempurna...


Toni memunggungi ruang kamarnya untuk menyembunyikan air matanya yang hendak keluar dari telaga bening miliknya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2