
Senja, waktu dimana Toni tidak pernah melewatkan sekalipun menatap cakrawala di ufuk barat. Dia sangat tau sekali bahwa jingga adalah warna kesukaan mamanya. Semua hal tentang mamanya dikupas habis oleh papanya kala itu.
Tapi senja itu, Toni menatap cakrawala demi mengingat kembali waktu pertama kali Bram mengajak dirinya menatap cakrawala.
*Kala itu... Papa tidak terlalu mencintai mamamu. Tapi papa tau apapun tentang mamamu...
Papa bersamanya telah memiliki kamu nak... Jika memang mamamu tidak lagi bersama kita. Bukan berarti papa tidak mau memberitahukan tentangnya kepadamu kan nak?
Papa bersyukur memiliki kamu meski dari perempuan yang tidak papa cintai sebagai pasangan dan tidak pula mencintai papa, ketika papa tidak lagi memiliki siapapun disisi papa.
Terimakasih nak... Kamu percaya bahwa papa adalah orang tua yang baik bagimu...
Mama kamu benar, jingga begitu mendamaikan siapa saja yang mengerti cahaya dibalik warnanya*...
Tangannya masih menggenggam selembar kertas yang ditemukannya di balik bantal papanya.
"Aku malu pa... Aku malu menjadi putra kesayangannya papa. Aku malu papa mengakui bahwa aku anak kebanggannya papa. Tidak satupun kebaikan papa yang ada pada diriku." Toni merebahkan tubuhnya di atas rerumputan yang membentang disana.
"Ternyata benar kamu ada disini..." Seru seseorang dari arah belakangnya.
Toni sama sekali tidak melirik ke arah suara itu, dia sangat tau betul siapa pemilik suara yang menyerunya. Raut ketidaknyamanan tergambar jelas di wajahnya yang tampan dan masih diselimuti duka.
__ADS_1
"Hy Toni... Bagaimana kabarmu?" Tanyanya sembari duduk di samping Toni yang berbaring dengan berbantalan kedua lengannya yang kekar.
Toni memejamkan matanya, dia begitu enggan menggubris pertanyaan seseorang yang tidak lain adalah Misya.
"Toni... Aku turut berduka cita atas meninggalnya om Bram, papamu." Dia tidak menyerah membuat Toni mau menoleh dan menyauti ucapannya.
"Toni... Aku tau, kamu sangat mencintai Kamelia bukan? Apalagi putrinya kalian berdua." Toni membuka matanya mendengar ucapan Misya.
"Toni... Kamu pasti bisa membuat Kamel jatuh cinta kepadamu. Anaknya sangat membutuhkan kamu, kamu ayah kandung dari anaknya itu Ton... Apa kamu mau anakmu kelak akan menjadi bahan cemooh orang-orang?" Hasutan demi hasutan keluar dari bibir tipis Misya.
Dengan licik, mata Misya berdelik girang melihat reaksi Toni yang tiba-tiba bangkit sambil berfikir.
"Toni... Milka nama anakmu dan Kamel kan? Apa tidak sedikitpun kamu marah? Dia itu putrimu Ton! Tapi Kemil yang memilikinya... Nama Kemil berbaur dalam namanya. Kamu cuma mesti bersabar untuk mendapatkan cintanya Kamel Ton. Dia pasti bisa menerimamu perlahan-lahan... Semuanya butuh waktu Ton... Kamu hanya butuh memperlihatkan cintamu setiap hari kepadanya dan kepada anak kalian.
Toni masih terdiam tanpa ekspresi, matanya menatap kosong ke arah cahaya jingga yang mulai meredup di ufuk barat.
"Ton... Aku bahkan bisa membantumu untuk itu. Asal kamu mau mengikuti caraku... Aku jamin Toni... Kamu pasti bisa mendapatkan Kamel... Dan kamu juga bisa hidup terus bersama putrimu selamanya.
Kamu bisa tinggal satu atap bersama mereka. Aku yakin, kamu pasti bahagia Ton..." Misya terlihat bersungguh-sungguh dalam ucapannya.
Raut wajah Toni terlihat tak terbaca sama sekali. Dia bangkit dan berdiri dari posisinya. Toni melangkah meninggalkan Misya yang tersenyum licik melihat dirinya yang bersikap seakan berfikir bahwa ucapan Misya adalah peluang untuknya mendapatkan Kamelia beserta putrinya Milka.
__ADS_1
*Misya... Mencintai itu tak seegois memiliki, namun tak sepasrah menerima...
Kamu tidak perlu membantuku mendapatkan putriku, karena aku punya cara sendiri untuk mendapatkannya*...
.
.
.
.
.
**Maaf teman-teman, nggak bisa up sedari tadi... Jaringan disini sulit sekali...
Untung catatan kebawa... Terpaksa tuang dulu kedalam buku, baru salin ke ponsel.
Sabar ya... Radetsa mau tamatkan untuk beberapa episode lagi.
jangan lupa like, rate dan komennya..
__ADS_1
terimakasih🤗
salam satu layar**...