
"Mah... Kamel kangen sama papa dan mama Kamel. Kamel mau ke sana hari ini ya ma..." Kamelia memberanikan diri untuk berbicara kepada Rahmah, mama mertuanya.
"Kapan kamu berangkatnya sayang..." Tanya Rahmah seraya menutup majalah yang sedari tadi dibacanya.
"Sekarang ma..." Sahutnya sedikit ragu.
"Loh... Nggak tunggu suamimu pulang dulu?" Dahi Rahmah mengkerut mendengar keputusan menantunya yang tiba-tiba ingin ke seberang tanpa bersama Kemil.
"Nggak usah ma... Nanti Kemil pasti nyusul Kamel ke sana" Elaknya berusaha meyakinkan mama mertuanya itu. "Lagian Kamel sudah minta sopir papa Kamel buat jemput kok ma..." Sambungnya lagi.
"Kamu yakin nggak mau nungguin Kemil dulu sayang?" Rahmah menatap bingung ke arah menantunya.
"Iya ma... Sebentar lagi pak sopirnya datang. Mama tidak apa kan, Kamel tinggal?" Kamelia berusaha keras menahan air matanya agar tidak tertumpah di depan mama mertuanya itu.
"Ya sudah... Mama tidak apa-apa kok. Kamu hati-hati ya... Jangan lupa kabari mama jika kamu sudah sampai disana..." Pinta Rahmah lembut.
"Iya ma... Kamel ke kamar dulu jemput Milka..." Pamitnya seraya beranjak setelah mendapatkan sahutan dari mama mertuanya.
"Sayang... Maafin ibu ya nak... Ibu terpaksa bawa kamu ke rumah atuk tanpa ayah. sudah dua hari ayah diemin ibu tanpa ibu tau sebabnya apa. Kalau ayah masih sayang sama kita, pasti ayah akan menyusul ke sana nantinya." Bisik Kamelia ke telinga putrinya yang tengah terlelap kala itu. Air matanya bercucuran deras dari kedua pelupuk matanya yang indah. Rasa berat hati membuatnya enggan melangkah keluar dari kamar yang telah menghangatkan hatinya hampir dua tahunan.
"Selama ini Kemil selalu memintaku untuk tidak pergi, tetapi aku tidak pernah benar-benar bisa pergi darinya. Mungkin kali ini aku harus egois untuk diriku sendiri, biar aku tau bahwa permintaan Kemil tulus atau tidak." Sekali lagi dia mengusap kasar pipinya yang basah.
__ADS_1
Setelah mengemasi barang bawaannya, Kamelia pergi bersama Milka dengan diantar Rahmah sampai ke depan pintu.
Meski agak heran, Rahmah sama sekali tidak curiga akan kesedihan di raut wajah menantunya itu.
***
"Loh sayang... Kemil mana?" Maya yang mulanya antusias ketika menyambut putri dan cucunya, tiba-tiba tercengang tidak mendapati menantunya bersama Kamelia dan Milka.
"Kemil masih kerja ma... Nanti dia pasti nyusul." Meski ucapan yang keluar meyakini mamanya, namun dia sendiri tidak begitu yakin akan ucapannya.
"Kamel istirahat dulu ya ma... Milka juga tidak puas tidurnya tadi." Pamitnya segera agar mamanya tidak terlalu banyak bertanya-tanya tantang kepulangannya yang begitu tiba-tiba.
"Pak... Tadi Kamel baik-baik saja kan dari sana?" Maya menanyai sopirnya.
"Ya sudah pak... Terimakasih."
"Sama-sama buk. Kalau gitu saya permisi ya buk..." Pamit pak sopir seraya meninggalkan majikannya yang masih terlihat bingung.
Kamel kenapa ya? Apa mungkin Kamel berantem sama Kemil? Nggak biasa-biasanya Kamel minta jemput seperti itu...~ Batin Maya.
"Ah sudahlah... Nanti biar Adan saja yang menanyai Kamel" Ujarnya seorang diri seraya masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Di kamar kamelia.
Kamelia tersedu-sedu sambil memangku kedua lututnya di atas tempat tidur.
*Maafin aku Kemil... Aku pergi tanpa pamit dulu sama kamu. Kalaupun aku pamit, apa kamu akan menggubrisnya?
Bahkan sudah dua hari ini aku tidak makan dengan baik, tapi kamu terlihat acuh dan cuek saja.
Apa kamu sudah tidak menyayangiku lagi?
Padahal aku kangen sama kamu... Aku rindu dimanja dan disuapi kamu sayang*...
Kamelia membaringkan tubuhnya di samping Milka yang tertidur lelap, dan akhirnya ikut tertidur sambil memeluk buah hatinya itu seiring deru nafasnya yang berat berangsur melunak.
.
.
.
.
__ADS_1
.