KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
DUGAAN AGUNG


__ADS_3

Meski pada raut wajah Toni terlihat begitu cemas dan khawatir, namun tidak setitik pun air matanya yang keluar saat itu. Jari-jemarinya tidak lepas sedari naik mobil tadi menggenggam tangan papanya yang lemah dan tidak berdaya.


Manik matanya yang hitam legam juga tak hentinya menatap wajah pucat papanya yang begitu tenang di pangkuannya.


Toni mengelap darah yang mengucur dari lubang hidung papanya dengan slayer kecil yang dimilikinya itu.


Sesekali Ramdani dan Kemil menoleh ke belakang untuk melihat kondisi Bram dan kesedihan yang terpancar di raut wajah Toni.


Agung juga berada dalam mobil yang sama dengan mereka. Matanya yang memerah dan berkaca-kaca terlihat betul bahwa dia sedang mengkhawatirkan sahabatnya itu.


Tiba-tiba matanya tertuju penuh kearah bagian leher Bram yang terdapat beberapa bentuk lebam-lebaman.


"Toni... Apa papamu memiliki riwayat penyakit kanker atau semacamnya?" Tanya Agung memucat.


Toni terkejut mendengar pertanyaan Agung yang begitu tiba-tiba. Kemil menoleh ke belakang dan menajamkan pendengarannya.


"Tidak, om... Kenapa om bertanya seperti itu?" Toni ketakutan dibuatnya.


"Lihat ini..." jari telunjuk Agung mengarah ke leher Bram yang lebam.


"Memangnya ini apa, om?" Toni semakin terkejut dan tidak mengerti ketika melihat tanda hijau kebiru-biruan di leher papanya itu.


Ramdani yang menyetir, juga ikut menoleh sedikit ke belakang.


"Tidak, Ton... Mudah-mudahan saja tidak ya..." Agung memejamkan matanya dan berusaha menepis jauh dugaan yang ada dalam pikirannya itu.


"Ini juga ada, om..." Serunya seraya mengangkat lengan papanya itu.

__ADS_1


"Mudah-mudahan tidak yaa Allah..." Agung semakin cemas. Dugaannya kembali menguat setelah melihat lebam yang ditunjukkan Toni padanya.


Mereka Akhirnya sampai di puskesmas yang berada di desa itu. Bram dibawa ke sebuah ruangan untuk melakukan pemeriksaan oleh tenaga medis disana.


***


Di kediaman Arayan.


Bram baru saja dibawa ke puskesmas desa oleh Ramdani, Kemil dan Agung dengan menggunakan mobil pribadi Toni.


Sementara Idris dan kaum perempuan masih berada di rumah itu.


Idris merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah benda pipih dari dalamnya.


Kamelia memerhatikan Idris yang terlihat begitu khawatir. Benda pipih yang diambil Idris tidak lain adalah sebuah ponsel yang akan digunakannya untuk menghubungi seseorang.


Berkali-kali dia mencoba menghubungi seseorang, namun entah panggilan yang ke berapa kali barulah ia mendapatkan jawabannya.


"Hallo... Assalamu'alaikum, tante."


"Sebelumnya terima kasih tante sudah mau mengangkat telepon dari saya."


"Baiklah, tante... Saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya terhadap tante. Karena kesalah pahaman yang dibuat oleh keluarga saya, tante dan om jadi membenci putra kandung kalian sendiri. Tapi saya yakin, dalam lubuk hati tante, Tante sangat merindukan putra tante. Dia sudah melakukan banyak hal untuk keluarga saya tante. Dan sudah saatnya saya membalas jasanya. Kalau tante berkenan, saya mohon kunjungi dia, tante... Saat ini dia sedang sakit. Dan mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengannya, tante..."


"Saya sangat tau, tante... Kebaikan Bram, sahabat saya, menurun dari sifat tante dan om... Dia juga sudah memiliki putra dewasa yang sangat baik seperti dirinya."


"Assalamu'alaikum, tante..." Sepertinya Idris tidak mendapatkan jawaban dari seberang. Namun dia tetap yakin akan misinya yang pasti berhasil.

__ADS_1


Air matanya mengucur tanpa permisi dari telaga bening miliknya yang hampir mengabur.


Kamelia tersenyum mendengar pernyataan papa mertuanya itu kepada seseorang yang diteleponnya dan segera menyusul ke depan.


"Sayang... Apa sebaiknya kamu tingal saja di rumah bersama Fitria dan Milka?" Tanya Rahmah yang masih terlihat cemas.


"Tapi, Mah..." Bantah Kameila seketika.


"Iya, Kamel... Kasihan Milka kamu bawa ke puskesmas. Nanti kalau ada apa-apa, Papa akan minta Kemil menjemputmu, sayang. Kamu do'akan saja tidak terjadi apa-apa sama Bram, papanya Toni." Idris tiba-tiba datang dari arah belakang dan ikut meyela pembicaraan istri dan menantunya itu.


"Baiklah, Pa..." Kamelia akhirnya menurut. Dia tampak membenarkan ucapan papa mertuanya itu.


"Ya sudah... Bawalah Fitria istirahat. Dia pasti sangat capek karena baru sampai tadinya, kan?" Suruh Rahmah lagi dengan lembut.


"Baiklah, Mah, Pah... Tapi Mama Papa harus janji kabari Kamel, ya..." Ujarnya penuh harap.


"Iya, sayang... " Rahmah dan Maya bergantian mengecup Kamelia, Milka dan Fitria sebelum pergi ke puskesmas menyusul Mereka tadi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2