
Ternyata Toni tidak kapok untuk terus mengikuti Kamelia. Dia kembali mengintip rumah yang begitu hafal setiap jengkal olehnya.
Sudah lama aku tidak kesini... Tapi tidak ada yang berubah sedikitpun~Toni memerhatikan rumah Kamelia dari balik pagar.
Tiba-tiba dia tersentak. Seseorang memegang bahunya dari belakang.
"Om Agung..." Dia terkejut atas kedatangan Agung yang tiba-tiba dari belakangnya.
PLAAAAKKK
Dia lebih terkejut lagi karena sebuah tamparan tangan Agung hinggap di pipinya.
"Masih berani kamu datang kesini...?" Agung berapi-api menghadapi Toni.
"Maafkan Toni, Om..." Toni berlutut di hadapan Agung. Air matanya tak mampu untuk dibendungnya lagi.
"Kamu pikir hanya dengan kata maaf, kamu bisa mengembalikan semuanya?" Agung tidak memberi ampun kepada Toni untuk berkata-kata.
"Ingat, Toni... Kalau bukan karena satu hal. Saya mungkin sudah menjebloskan kamu ke dalam penjara." Muka Agung memerah karena gejolak emosi yang sempat ditahannya dari semalam di depan sahabat sekaligus besannya itu.
"Toni tidak peduli, Om... Om boleh melakukan apa pun terhadap Toni. Tapi tolong biarkan Toni bertemu Kamelia, Om... Anak yang dikandung Kamelia adalah darah daging Toni, Om..."
PLAAAAK.
Satu lagi tamparan tiba-tiba datang dari Ramdani. Dia juga sempat melihat Toni mengintip dari pagar rumah Kemil tadi paginya. Dan dia begitu yakin pasti Toni akan mengikuti mereka sampai kesana.
Ramdani menarik kerah baju Toni untuk bangkit dari berlututnya dan hendak melayangkan tangannya yang sudah dikepalkannya kearah wajah Toni.
"Sudah, Adan... Sudah, nak..." Agung menahan tangan Ramdani dengan cepat.
__ADS_1
"Papa ini kenapa sih? Dari semalam Adan perhatikan, tidak sedikitpun Papa menunjukkan kemarahan Papa sebagai orang tua Kamelia kepada lelaki yang telah menodainya." Ramdani terlihat begitu kecewa terhadap papanya.
"Toni... Om mohon kepada kamu untuk pergi dari sini sekarang." Perintah Agung kepada Toni sambil masih saja memegangi putranya.
"Tapi, Om..." Bantah Toni memelas.
"Om bilang pergiii..." Agung akhirnya membentak dengan kasar.
"Baiklah, Om... Tapi ingat, Om, Toni pergi sekarang bukan berarti Toni menyerah... Toni akan tetap terus berusaha, Om." Toni melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari sana.
Ramdani semakin geram mendengar ucapan Toni.
Setelah Toni pergi, Agung baru melepaskan Ramdani. Ramdani menatap papanya penuh kekecewaan.
"Papa aneh..." Ujarnya ketus dan hendak berlalu meninggalkan tempat itu.
Ramdani menghentikan langkah kakinya dan kembali menoleh kearah papanya itu.
"Terus kalau sudah terjadi, bukan berarti dengan semudah itu Papa mengampuninya, Pa..." Ramdani menampakkan kekesalannya.
"Kalau kamu khilaf di posisi dia bagaimana?" Agung memelas untuk mendapatkan hati dari anaknya. Entah apa yang membuatnya tidak bisa marah kepada Toni.
"Yaa Allah, Pa... Adan benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Papa..." Ramdani menyerah menghadapi Agung yang menurutnya begitu keras kepala. Dia melangkah masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan papanya yang seperti sedang dilema.
"Adan..." Maya tiba-tiba memanggil Ramdani yang baru saja masuk.
Ramdani tidak menyahuti panggilan Maya. Dia merebahkan tubuhnya ke atas sofa ruang utama.
"Kamu kenapa, nak?" Maya kembali bertanya karena mendapati Ramdani yang masih terlihat kesal.
__ADS_1
"Mah... Mama tau tidak? Si bre...." Ramdani tidak jadi melanjutkan perkataannya karena matanya mendapati Kamelia yang keluar bersama Kemil dari kamarnya. Sedangkan Maya telah fokus hendak mendengarkan ucapan putranya itu.
"Kalian mau kemana?" Adan mengalihkan pembicaraannya untuk menanyai Kamelia yang hampir mencapai posisinya.
"Kami mau kepasar, Abung..." Sahut Kamelia bersemangat.
"Abung antar ya...?" Tawar Ramdani.
"Tidak usah, Abung... Kamel dan Kemil mau naik Delman saja..." Elaknya.
"Yakin tidak mau Abung antar?" Tanya Ramdani lagi.
"Iya, Abung... Kamel sudah lama tidak naik Delman..." Ujarnya meyakinkan Ramdani.
"Ya sudah... Kalian hati-hati ya..." Ramdani akhirnya menyerah. Dia bangkit dan menahan Kemil. Ramdani mengajak Kemil untuk berbicara berdua saja. Kamelia mengerinyitkan alisnya karena penasaran.
Dari kejauhan Kamelia memerhatikan abung dan suaminya yang tampak berbicara serius dan setengah berbisik sehingga dia dan mamanya tidak mampu mendengarkannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1