KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
LAYAKNYA SEORANG SUAMI


__ADS_3

Sudah hampir pukul satu malam Kamelia masih saja uring-uringan di tempat tidurnya. Sesekali dia bangkit dan berdiri di pojok kamarnya. Dan sesekali dia menatap lekat ke lukisan abstrak yang berada di dinding kamarnya itu.


"Benar kata papa Idris... Lukisan abstrak itu sangat unik... Sayang aku bukan pelukisnya, sehingga aku tidak mampu mengartikan makna yang tersirat di dalamnya.


Dan aku pun seperti lukisan abstrak itu sendiri kata papa... Gara-gara aku terlalu tertutup, aku membuat kesalah pahaman pada tante Rahma terhadap papa Idris.


Tapi aku minta maaf... Aku tidak bisa memberitahukannya." Kamelia bergumam dengan sendirinya. Dia kembali mencoba membaringkan tubuhnya dan mencari tempat ternyaman disana. Namun matanya tak kunjung dapat terpejamkan.


Kamelia melirik ke sebuah bofet kecil di kamar itu. Selama tinggal di kamar itu, Kamelia tidak pernah membukanya.


Dia membuka setiap laci-laci kecil. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah foto yang tersimpan rapi di dalamnya.


"Ini kan papaku waktu muda..." Gumam Kamelia keheranan. "Tapi papa foto sama siapa? Perempuan ini siapa ya?" Kamelia memandang lekat foto itu. Dia begitu penasaran terhadap perempuan yang berada di dalam foto itu bersama papa kandungnya.


"Rasanya aku tidak mengenal perempuan ini... Mungkin dia juga sudah seumuran mama ya sekarang?"


Tok... Tok... Tok...


Bunyi ketukan terdengar seperti berbisik di pintu kamarnya dari bagian luar.


Kamelia bergegas merapikan foto-foto itu dan menyimpannya kembali ke dalam laci.

__ADS_1


Kameli segera mendekat kearah pintu kamarnya.


"Siapa...?" Serunya dengan setengah berbisik.


"Ini aku, Kemil..." Sahut Kemil dari luar.


Kamelia terheran-heran. Tetapi dia segera membuka pintu kamarnya.


"Boleh aku masuk?" Tanya Kemil berharap.


"Ada apa kamu malam-malam ke kamarku?" Tanya Kamelia bingung. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Kemil.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari Kamelia, Kemil akhirnya menyelonong masuk ke dalam kamar itu.


"Tutup pintunya..." Perintah Kemil santai.


"Tapi..." Kamelia terlihat gemetaran. Dia menatap curiga kearah Kemil yang telah duduk di atas tempat tidurnya.


"Tutup...." Perintah Kemil lagi. Kemil tidak mau mendengar alasan apa pun dari Kamelia.


Dengan terpaksa Kamelia menutup pintu kamarnya. Tetapi dia tetap mematung di belakang pintu itu.

__ADS_1


"Ayo mendekatlah..." Perintah Kemil lagi.


Kamelia tidak menyahut, dia tetap saja mematung di posisinya itu. Akhirnya Kemil bangkit dari duduknya dan menjemput Kamelia dari sana.


"Kemil... Kamu sebenarnya mau apa?" Kamelia begitu gerogi, takut dan cemas dengan sikap Kemil yang begitu tiba-tiba.


"Tadi siang kamu banyak tidur, kan? Jadi, pasti sekarang kamu akan sulit tidur." Kemil mencoba mengusir ketakutan Kamelia. "Lihat..." Kemil melirik kearah jam dinding ruangan itu dan diikuti oleh Kamelia. Sudah hampir pukul dua dini hari. Kemil menarik lengan Kamelia dengan pelan ke tempat tidur.


"Tidurlah... Aku akan menemanimu malam ini." Ujarnya.


Kamelia akhirnya menurut. Kemil merentangkan lengannya dan Kamelia pun tidur dengan posisi membelakangi Kemil dengan berbantalan lengan Kemil yang kekar. Sedangkan tangan Kemil yang sebelahnya mengusap pelan perut Kamelia. Kamelia merasakan ketenangan dan kenyamanan karenanya.


Dia tahu saat itu bayinya juga merasakan sentuhan tangan Kemil.


"Apa sudah nyaman?" Bisik Kemil.


Kamelia menganggukkan kepalanya dengan polos. Dari belakang, Kemil memberikan kecupan hangat di kepala Kamelia.


Tidak membutuhkan waktu lama, Kamelia tertidur di dalam dekapan Kemil.


Aku akan menjadi suamimu yang siap siaga, Kamel... Aku akan memperlakukanmu layaknya seorang istri yang tengah mengandung anak dari benihku sendiri...

__ADS_1


Kamu benar... Jangankan kamu, tidak ada seorang pun yang ingin seperti ini.... Seperti yang kamu rasakan...


Tak lama, Kemil pun menyusul Kamelianya ke alam mimpi dengan posisi yang tidak berubah dari sebelumya.


__ADS_2