KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MASIH MENYIMPAN RASA


__ADS_3

Di kediaman Bram.


Misya mengetuk pintu rumah Bram beberapa kali sebelum seorang pelayan wanita paruh baya membukanya.


"Selamat pagi, non Misya..." Sapa pelayan itu dengan lembut.


"Pagi, bik... Toni ada, bik?" Sahut Misya yang langsung mempertanyakan pujaan hatinya itu.


"Ada, non... Tapi sepertinya masih tidur, non..." Jawab sang pelayan. "Mari, non... Tunggu di dalam saja, biar bibik panggikan den Toninya." Ujar pelayan itu lagi mempersilahkan Misya masuk.


"Terima kasih, bik... Tidak usah, bik... Biar saya saja yang menemuinya. Bibik tinggal beritahu dimana kamarnya saja..." Pinta Misya sambil mengikuti langkah pelayan itu.


"Tapi, non..." Pelayan itu menghentikan langkahnya karena merasa ragu dengan permintaan Misya.


"Sudah, tidak apa-apa, bik... Bibik seperti tidak kenal saya saja." Potong Misya cepat.


Selama berhubungan dengan Toni, Misya tidak pernah diajak Toni untuk memasuki kamar pujaan hatinya itu. Dia hanya dibawa ke ruang-ruang lain yang tidak begitu penting sepenting kamar Toni. Toni seakan memprivasikan kamarnya dari Misya.


"Baiklah, non... Non Misya ikuti saja bibik..." Pelayan itu kembali melangkahkan kakinya meski masih sedikit ragu. Dia tahu betul tidak ada yang boleh masuk ke kamar tuan mudanya itu termasuk Bram papanya Toni.


Pelayan itu membawa Misya menuju sebuah kamar paling ujung yang tidak pernah dijajakinya sama sekali semenjak pertama memasuki kediaman Bram.


"Disini, non..." Pelayan itu menggunakan ibu jarinya untuk menunjuk kamar yang mereka tuju.

__ADS_1


"Oh... Ya sudah. Terima kasih ya, bik..." Ucap Misya.


"Sama-sama, non... Kalau begitu bibik pamit dulu ya, non..." Pamit pelayan itu yang disahuti anggukan kepala Misya.


Misya mengetuk pintu kamar Toni beberapa kali, namun tidak ada sahutan dari dalamnya. Akhirnya Misya berpikir untuk mencoba membukanya sendiri.


Misya menggeser gagang pintu itu ke bawah, dan benar saja tidak terkunci. Dengan lancangnya, Misya memasuki kamar Toni yang selama ini diprivasikannya dari siapapun.


Ketika Misya memasuki kamar Toni, dia tidak mendapati kekasihnya itu disana. Tetapi dia mendengar kran air menyala dari kamar mandi ruangan itu.


"Hmmm... Lagi mandi rupanya..." Gumam Misya kecil. Misya mengitari ruangan yang begitu asing baginya. Ruangan yang lumayan rapi, bersih dan penatanan barang-barangnya juga teratur.


Misya merasa begitu nyaman berada dalam ruangan yang baru dimasukinya. Bau Mint menyerbak diseluruh ruangan itu.


Hmmm dia tipe orang yang begitu menjaga kebersihan... Tidak salah aku begitu tergila-gila dengannya...


Mata Misya tiba-tiba tertuju pada sebuah foto kecil di atas nakas samping tempat tidur Toni. Dia tersenyum mendapati foto itu dan meraihnya untuk melihat lebih jelas.


Pasti ini foto mamanya... Mamanya saja cantik, pantas anaknya begitu tampan~ Gumam Misya tersenyum haru.


Ketika hendak meletakkannya kembali, Misya tidak sengaja menggoyangkan bingkai foto itu. Ternyata bingkai foto itu bisa diputar. Misya penasaran dan melihat foto di bagian belakangnya. Misya begitu terkejut dan merasa hatinya sangat panas seketika.


Mata Misya berkaca-kaca.

__ADS_1


Dia melihat foto kenangan mereka bertiga waktu SMA bersama Kamelia, hanya saja gambarnya yang berada di tengah antara Toni dan Kamelia sengaja dilipat. Dan yang terlihat hanya Toni dan Kamelia berjajar disana seperti mereka sengaja foto berdua.


Ternyata Toni masih saja menyimpan rasa dengan Kamelia...


Hatinya begitu hancur. Dan saking hancurnya perasaan Misya kala itu, dia kembali meletakkan figura dalam genggamannya dengan tidak beraturan. Misya keluar dari kamar Toni sebelum bertemu dengan kekasihnya itu.


Misya berlarian keluar dari kamar Toni sambil sesekali menyeka air matanya.


"Non Misyaaaa...." Panggil pelayan tadi yang mengantar Misya ke kamar Toni. Pelayan itu membawa dua gelas minuman di atas nampan yang digenggamnya.


Misya tidak menyahuti panggilan sang pelayan, dia terus saja berlalu keluar meninggalkan kediaman Bram.


Pelayan itu mengangkat bahunya meski dia bingung dengan sikap Misya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2