KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
HARI YANG PANJANG


__ADS_3

Setelah menyelesaikan prosedur untuk memperoleh surat rujukan dari puskesmas ke rumah sakit, akhirnya Bram dirujuk ke rumah sakit XXX untuk melakukan pengobatan dan penanganan dari faskes rumah sakit tersebut.


Karna hari sudah hampir malam, Idris meminta Ramdani dan Kemil untuk membawa Rahmah dan Maya untuk pulang terlebih dahulu. Sedangkan dia dan Agung akan menemani Toni untuk mengantar Bram ke rumah sakit dengan ambulan yang di sediakan puskesmas.


Meski dengan berat hati, Kemil menuruti permintaan papanya. Dia dan Ramdani membawa mamanya masing-masing untuk pulang ke rumahnya di kediaman Arayan dengan mengendarai mobil yang berbeda.


"Kasihan sekali nasib Toni." Gumam Maya lirih. Air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.


"Apa sebegitu sayangnya Mama kepada Toni?" Ramdani bertanya dengan tatapan yang tetap fokus ke arah jalanan yang di laluinya.


"Apa kamu tidak menyukainya, nak?" Maya menoleh ke arah Ramdani dengan tatapan sendu.


"Apapun itu, dia tetap bersalah dalam kehidupan Kamelku, Mah..." Ujarnya datar.


"Mama tau, nak... Mama juga membenci itu... Tapi apakah pantas kita menyalahkan dia saja? Memang betul dia telah melakukan kesalahan besar terhadap Kamelia. Tetapi kita juga sempat meninggalkan Kamelia tanpa kejelasan, kan setelah itu?


Walau apapun, kita tetap bersyukur karena Toni tidak mau mengusik kehidupan Kamel dan Kemil meskipun dia tau Milka adalah darah dagingnya.


Dan Toni pun sudah bertaubat, nak... Kemil saja mau memaafkan dan menerima Toni jauh sebelum dia tau bahwa Toni adalah sepupunya." Maya tampak habis pikir dengan kerasnya hati Ramdani.


"Apa kamu tidak iba dengannya?" Tanya Maya lagi.


"Adan sangat iba, Ma... Sangat... Apalagi kepada om Bram." Sahut Ramdani kemudian. Matanya mampu berkaca-kaca mengenang bagaimana Toni menggenggam jemari Bram sepanjang perjalanan ke puskesmas tadi.


****


Dua buah mobil sampai ke depan kediaman Arayan. Deru mesin mobil mereka membuat Kamelia dan Fitria bergegas menyambut kedatangan mereka ke depan pintu.


Melihat suami-suami mereka dan mama serta mama mertuanya Kamelia saja yang turun, mereka mengerinyitkan dahi mereka karena bingung.


"Assalamu'alaikum..." Ucap mereka yang datang hampir bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..." Sahut Kamelia dan Fitria serentak. Mereka menyambut tangan suami mereka dan bergantian ke Maya dan Rahmah.


"Sayang... Kok cuma...?" Kamelia tidak jadi melanjutkan pertanyaannya ketika Kemil menarik pinggang Kamelia ke dalam dekapannya dan mengecup lembut dahi Kamelia.


"Sayang... Malu tau..." Sungut Kamelia.

__ADS_1


Kemil hanya tersenyum melihat kepolosan istrinya itu.


"Kalian istirahat ya... May, kamu tidur di kamarku saja... Biar Adan dan Fitria tidur di kamar Rianti." Pintanya kepada istri sahabat suaminya sekaligus besannya itu.


"Baiklah, Rahmah... Mama istirahat ya sayang..." Maya mengecup Kamelia dan Fitria bergantian.


"Tapi, Ma... Sebaiknya Mama makan dulu..." Ajak Kamelia bingung.


"Tidak, sayang... Mama masih kenyang..." Sahut Rahmah tak bersemangat.


"Iya, sayang... Kami langsung istirahat saja ya?" Timpal Maya seraya berlalu mengikuti Rahmah.


Kamelia keheranan melihat situasi saat itu. Ramdani menggandeng tangan Fitria menuju kamar yang pernah ditempati Kamelia sebelumnya. Dan Kemil pun juga menarik lembut tangan Kamelia ke dalam kamar mereka.


"Apa Milka sudah tidur, sayang?" Tanya Kemil mendekap bahu istrinya itu sambil berjalan ke arah Kamar mereka.


"Baru saja sebelum kamu sampai, sayang..." Ujar Kamelia.


"Yaaa... Padahal aku sangat rindu sekali..." Sungut Kemil.


Dalam hati Kamelia, dia ingin sekali bertanya tentang keadaan papanya Toni. Tapi dia yakin, Kemilnya akan memberitahukannya tanpa harus dirinya bertanya terlebih dahulu.


"Belum, sayang... Kalau kamu?" Kemil balik bertanya.


"Sudah, sayang..." Sahut Kamelia.


"Aku mandi dulu, baru shalat isya..." Kemil melepaskan sepatu dan kemeja yang dipakainya.


"Ya sudah... Aku siapkan baju ganti kamu, trus aku bikinkan wedang jahe, mau?" Tanya Kamelia sambil meraih kedua pipi Kemil dengan kedua telapak tangannya.


"Terima kasih, sayang..." Kemil segera mendaratkan bibirnya ke bibir tipis kamelia dengan secepat kilat. Mata Kamelia membulat karenanya.


Dia segera berdiri dan meninggalkan Kemil yang masih duduk di sofa kamar itu. Kemil tersenyum melihat reaksi istrinya yang tersipu karena ulahnya yang jahil.


Setelah Kemil selesai melakukan segala halnya, dia mendekati baby horbor Milka untuk melihat wajah mungil yang dirindukannya itu.


"Ayah kangen kamu, sayang..." Ujarnya sembari meninggalkan beberapa kecupan di bagian wajah Milka yang terlelap disana.

__ADS_1


Kemil mendekati Kamelia yang berselonjoran di tepi tempat tidur sambil membaca buku.


"Sayang... Kamu tau? Aku sangat lelaaah sekali... Hari ini terasa begitu panjang dalam hidupku sayang." Ujar Kemil sambil memeluk istrinya itu.


Kamelia menutup buku yang dibacanya. Kemudian meraih gelas yang berisi wedang jahe buatannya untuk diserahkannya kepada suaminya itu.


"Minum dulu, sayang... Meski tidak selezat buatan bi Ina sih..." Ujarnya menyodorkan gelas berisi wedang jahe.


"Terimakasih sayang..." Kemil meluruskan posisinya dan menerima gelas itu dengan segera.


Karena wedang jahenya sudah hangat suam-suam kuku, Kemil menghabiskannya dengan beberapa kali regukan.


"Hmm enak kok, sayang..." Kamelia kembali meraih gelas yang sudah kosong dari tangan Kemil dan menaruhnya kembali ke atas nampan yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya itu.


Kamelia menepuk kedua pahanya agar Kemil merebahkan kepalanya disana. Kemil pun menurut. Kamelia mengusap lembut kepala kemil sambil sesekali memainkan rambut suaminya yang sedikit tebal itu.


"Om Bram menderita Leukemia, sayang..." Kemil memberitahukan penyakit Bram tanpa ditanyai Kamelia.


Kamelia begitu terkejut mendengarnya.


Meski dia begitu membenci Toni semenjak kejadian itu, namun baginya Toni tetap sahabatnya yang pernah meminjam bahunya ketika bersedih dulu.


"Lalu bagaimana keadaan om Bram sekarang, sayang?" Tanya Kamelia setenang mungkin.


"Om Bram dirujuk ke rumah sakit. Papa bilang, penyakitnya sudah terlalu parah." Kemil mulai menceritakan dari awal hingga kepulangannya tadi kepada istrinya yang diam-diam juga ingin tahu.


.


.


.


.


.


**Makasih ya teman2... Beberapa kisah orang tua mereka yang saya tulis adalah jalan untuk mencari solusi sementara kebahagiaan kamel dan kemil

__ADS_1


makasih atas dukungan dan kesabaran teman2**


__ADS_2