KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
BUAH PIKIRAN


__ADS_3

Kemil mengendarai mobilnya dengan santai malam itu. Pikirannya melayang kembali kepada mamanya Toni, Rianti.


Sedangkan Kamelia menatap lurus ke depan. Kepalanya disandarkan ke kaca jendela mobil itu.


Milka yang tertidur tenang di lengannya, sama sekali tidak membuyarkan lamunannya. Dia benar-benar merasa ada rahasia masa lalu di antara orang tua mereka. Dan hal itu menjadi buah pikiran yang membebaninya.


Dia ingat sekali bahwa mama Toni adalah perempuan bersama papanya dalam foto yang pernah ditemuinya di rumah Kemil kala itu.


"Sayang...


"Sayang...


Mereka saling menoleh satu sama lain.


"Kamu saja duluan.." Ujar Kemil.


"Tidak, kamu saja..." Elak Kamelia. Dia juga penasaran tentang apa yang ada dalam pikiran suaminya itu.


Kemil menarik pelan napasnya. "Menurut kamu, Rianti yang dimaksud nenek-nenek waktu itu mamanya Toni bukan, sayang?"


"Kemungkinan..." Sahut Kamelia. Dia memang yakin dengan yang ada dalam pikirannya. Tapi dia ragu untuk memberitahukan kepada suaminya itu.


"Apa maksud nenek itu aku mirip dengan Toni?" Kemil mengerutkan keningnya yang tidak terlalu lebar.


Kamelia menatap wajah suaminya lirih.


Baru saja aku melihatmu memiliki kemiripan dengannya, sayang...


"Sayang..." Kemil membuyarkan lamunan Kamelia.


"Hmm..." Sahut Kamelia semakin gelagapan.

__ADS_1


"Jangan bilang ya, kalau kamu juga berpikiran yang sama dengan sang nenek?" Ujarnya. Kemil seakan tidak rela hal itu terjadi. "Bukan karena apa-apa. Tapi aku tidak ingin menjalani hal-hal sulit atau menghadapi rahasia-rahasia masa lalu orang tua kita yang hanya akan memperumit hidup kita dan Milka kelak."


"Eh... Kita sudah sampai ya, sayang? Alhamdulillah... Aku gerah, ingin mandi, bersih-bersih." Kamelia mengalihkan pembicaraan mereka ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki pekarangan kediaman Arayan.


Bi Ina yang mendengar suara mesin mobil Kemil, dengan tergopoh-gopoh membukakan pintu rumah utama untuk mereka.


"Assalamu'alaikum, bi..." Ucap mereka hampir bersamaan.


"Wa'alaikumussalam, den, non... Eh nona kecil tidur ya..." Sahut bi Ina sambil menyapa Milka yang tertidur lelap di gendongan Kamelia.


Kamelia menyahuti dengan tersenyum.


"Bapak sama ibuk nggak ikut pulang, den?" Tanya bi Ina plangak plongo keluar rumah.


"Tidak, bi... Mereka akan kembali besok." Sahut Kemil seraya masuk ke dalam.


"Oh begitu, den..." Bi Ina menutup kembali pintu rumah itu lalu mengikuti Kamelia dan Kemil ke dalam.


"Sayang... Kamu mau makan lagi?" Tanya Kamelia kepada suaminya itu.


"Sepertinya aku masih kenyang, sayang... Tapi wadang jahe bikinan bibi juga tidak masalah, bi." Ujar Kemil.


"Ya sudah, bi... Wedang jahe saja buat Kemil ya, bi... Kami tadi sempatin makan di warung. Bibi sudah makan?" Kamelia tak lupa menanyai bi Ina juga.


"Sudah non..." Sahut bi Ina.


"Sebentar lagi Kamel jemput ya, bi... Biarkan saja sampai sedikit hangat dulu. Kamel bersih-bersih sama shalat dulu. Terima kasih, bi....." Ujar Kamelia dan segera berlalu ke kamar yang ditempatinya bersama Kemil.


"Baik, non..." Bi Ina pun juga meninggalkan posisinya hendak ke dapur rumah itu.


Setelah menyiapkan pakaian ganti Kemil dan membereskan semua kekacauan yang dibuat suaminya di kamar itu. Kamelia membersihkan tubuh putrinya.

__ADS_1


Kamelia dan Kemil bergantian untuk mandi, namun mereka tetap mengerjakan shalat Isya berjamaah di kamarnya.


Seperti biasa, setiap usai shalat Kemil akan menyodorkan tangan kanannya kepada Kamelia dan mengecup kening istrinya itu. Mereka tahu, hal itu membuat mereka akan merasa dekat satu sama lain.


Seusai semua kegiatannya, Kamelia menjemput wedang jahe yang pastinya sudah dibuatkan oleh bi Ina. Dan mungkin sudah tidak panas lagi.


Srmentara menunggu, Kemil bermain bersama Milka yang terbangun sedari tadi. Namun dia asik dengan sendirinya di baby horbornya.


"Saaayang... Sayangnya Aaayah... Cantiknya Aayah..." Kemil membungkukkan badannya demi bisa mengajak bayi mungil itu mengobrol bersamanya.


Milka yang sadar akan kehadiran ayahnya, dengan lebar tersenyum dan merespon setiap ucapan Kemil kepadanya.


Dia bergumam seakan menjawab segala ucapan Kemil. Sesekali dia memekik yang entah apa artinya.


Milka bercerita memakai bahasanya yang sangat sulit dimengerti. Tangan dan kakinya yang lepas, tak henti-hentinya bergerak seiring ocehannya.


Terdapat air bening mengalir di sela kelopak matanya yang menyipit.


"Kenapa, nak... Kenapa, sayang? Kok ngocehnya sambil ngeluarin air mata? Kenapa anak ayah ni?" Kemil mengangkat Milka ke dadanya dan mengelus lembut punggung bayi mungil itu.


"Kenapa Milka digendong-gendong, Yah? Milka rewel ya, Yah?" Kamelia datang dengan membawa secangkir wedang jahe dan sebotol lock & lock air putih.


"Tidak kok, Bu... Milka ayah tidak rewel... Ayah yang rindu sama Milka..." Kemil menirukan suara anak kecil demi menjawab pertanyaan istrinya. Berkali-kali dia menciumi wajah Milka yang berbau khas bayi itu dengan gemas.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2