KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
HARU BIRU MELAHIRKAN


__ADS_3

Toni menunggu dengan gusar di luar ruang bersalin puskesmas itu. Berkali-kali dia tampak mondar-mandir disana sambil menggaruk kasar kepalanya.


Awas saja kamu, Misya... Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Kamelia dan bayinya. Aku pastikan, aku sendiri yang akan membalasnya.~ Batin Toni.


Ingatan Toni kembali pada saat-saat dia masih sekolah dulu. Semenjak Misya menghasutnya, tidak sekalipun dia bersikap baik kepada Kamelia. Seringkali dia menampakkan kebencian terhadap perempuan yang sebenarnya dia cintai itu.


Hal itu pun membuatnya juga membenci keluarga Kamelia. Meskipun dia sangat merindukan Maya, mamanya Kamelia.


Mata Toni berkaca-kaca jika mengingat kebodohannya. Bodoh karena telah mempercayai Misya selama itu.


Selang beberapa menit kemudian, Kemil datang kearahnya. Meski mereka tidak saling tegur, tetapi mereka juga tidak saling ribut. Kemil langsung duduk di kursi tunggu yang berjejer di depan ruangan itu dengan gusar.


Kenapa dia tidak memakiku? Atau mencoba mengusirku?~ Batin Toni.


Hampir tiga jam berada disana. Idris dan Rahmah datang bersama keluarga Kamelia dari desa sebelah. Mereka datang hampir bersamaan, karena Idris dan Rahmah tidak dapat mengangkat ponselnya sedari tadi akibat kebisingan di tempat pesta yang mereka datangi.


Ramdani yang melihat Toni, sontak saja darahnya mendidih ke ubun-ubun. Dia meraih kerah baju Toni dan hendak memukuli lelaki yang telah menodai adiknya itu. Namun dengan sigap Kemil menahannya.


"Kenapa kamu membiarkan dia berada disini, Kemil?" Tanya Ramdani yang tidak mengerti dengan jalan pikiran adik iparnya itu.


"Dia dengan cepat membawa Kamelia datang kesini tadi, kak... Biarkan dia tau bagaimana keadaan Kamelia." Ujar Kemil menatap dingin kearah Toni.


"Lalu bagaimana dengan keadaan Kamel, nak?" Maya bertanya dengan bibir bergetar kepada Kemil.


"Belum ada kabar dari bidannya, Ma..." Sahut Kemil ringan.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Dengan sigap Kemil berdiri di depan pintu itu.


"Suami nona Kamelia...?" Seru seorang perawat.

__ADS_1


"Iya, saya..." Kemil mengajukan dirinya. Toni hanya menatap sendu kearahnya.


Aku begitu iri denganmu... Rasa cintamu begitu tulus untuk perempuan yang telah mengandung anakku.


Masih pantaskah aku mengharapkan Kamelia?


Di dalam ruangan, Kamelia tampak menitikkan air matanya. Kemil dengan segera meraih tangan Kamelia dan mengenggamnya dengan erat. Kemil mengecup lembut kening Kamelia.


"Apa sangat sakit?" Kemil berbisik ke telinga Kamelia.


"Iya... Sangat..." Sahut Kamelia lirih.


"Sabar sebentar ya, sayang..." Kemil menenangkan istrinya itu.


"Tapi aku nggak kuat..." Air mata berjatuhan di sela-sela ruas mata Kamelia.


Kemil mengusapnya dengan ibu jarinya, lalu mencium punggung tangan Kamelia.


Kamelia menganggukkan kepalanya.


Kemil melingkarkan lengannya ke kepala Kamelia dan mengenggam tangan istrinya itu dengan sangat kuat.


Kamelia berteriak dengan sangat kuat seiring dengan genggaman tangannya yang mengencang kepada tangan Kemil, sehingga membuat hati Kemil bagai tersayat-sayat sembilu mendengarnya.


Tidak lama suara tangisan bayi terdengar menyayat hati mereka. Kemil dan Kamelia tersenyum bahagia. Rasa sakit yang awalnya dirasakan Kamelia berangsur-angsur hilang mendengar tangisan bayinya itu.


"Milka kita sudah lahir, sayang..." Kemil berbisik dengan bahagia di telinga Kamelia. Dan Kamelia menganggukkan kepalanya karena terharu.


Yaa Allah... Jangankan untuk merasakan, menyaksikan istri hamba melahirkan saja sudah membuat hamba pilu.

__ADS_1


Pasti sesakit ini juga dulu mama melahirkan hamba ke atas dunia ini...


Air mata Kemil kembali bercucuran mengenang jasa mamanya itu.


Di luar, tampak semua begitu bahagia karena mendengar suara tangis bayi dari dalam. Tidak terkecuali dengan Toni.


Terima kasih, Kamel... Dengan sukarela kamu telah mau menjaga dan merawat anak itu dengan baik selama dalam kandunganmu.~ Toni menitikkan air matanya.


Tidak lama, Kemil keluar dengan langkah gontai. Senyum yang sebelumnya merekah di bibir mereka kembali surut karena melihat raut wajah Kemil.


Kemil berjalan kearah mamanya, dan bersimpuh di kaki wanita paruh baya itu.


Semua orang menatapnya dengan bingung.


"Kemil... Ada apa, nak? Semua baik-baik saja, kan?" Rahmah mengusap kepala anaknya itu dengan gusar.


Kemil meraih lutut mamanya itu dan menangis sejadi-jadinya.


"Maafin Kemil, Ma... Kemil sekarang sadar... Ternyata melahirkan itu sangat sakit. Maafkan Kemil yang belum bisa berbakti sama Mama dan Papa. Kemil selama ini hanya jadi anak yang pembangkang dan tidak menurut." Ucapnya di sela-sela isaknya.


Semua ikut hanyut dan terharu melihat tingkah Kemil.


Terimakasih mama... Mama bahkan sudah mengorbankan nyawa mama saat melahirkan Toni.~ Toni ikut terhanyut menyaksikan Kemil yang bersimpuh di kaki Rahmah.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2