
Toni pov.
Toni dengan kecewa masuk ke dalam kamarnya. Dengan segera dia menidurkan Milka di atas tempat tidur miliknya itu.
Toni ikut berbaring di samping bayi mungilnya. Dia meraih tangan Milka yang begitu lembut dan menggemaskan.
Diciuminya kulit tangan yang masih lembut dan kenyal itu. Bau khas bayi masih melekat pada diri putri kecilnya. Buliran Bening berjatuhan dari matanya yang sipit.
"Hah... Papa serasa kembali menjadi anak-anak jika berada di dekatmu, sayang. Papa sanggup menangis hanya karena melihat wajahmu yang lucu ini." Bisiknya di telinga Milka yang masih tertidur pulas disana.
"Yaa ampun, nak... Papa sampai lupa. Ponsel papa ketinggalan di mobil, sayang. Papa kan harus menghubungi ayah dan ibumu. Kamu tidur disini dulu ya. Ada oma yang jagain kamu." Ujar Toni sambik melirik dan tersenyum kearah foto mamanya yang terpajang di atas nakas samping tempat tidurnya.
Toni segera beranjak keluar kamarnya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam mobilnya tadi.
Sepeninggal Toni, Bram yang bersembunyi di balik dinding segera masuk ke dalam Kamar Toni yang ditempati Milka sekarang.
Bram mendekatkan dirinya kearah Milka yang masih tertidur pulas disana. Dia memandangi wajah bayi mungil itu dengan seksama. Ada kehangatan yang tercipta di hatinya ketika memandang bayi mungil itu.
Karena Bram sedikit menggoyangkan kasur itu, Milka terbangun dari tidurnya.
Dia menangis, dan hal itu membuat Bram terkejut dan gelagapan.
"Papa...." Toni dengan segera berlari dan mengambil Milka.
__ADS_1
"Apa yang papa lakukan disini?" Tanya Toni sedikit curiga.
"Tidak... Papa hanya ingin memastikan apa benar bayi ini anakmu atau tidak. Tapi sepertinya benar, dia mirip sekali dengan mamamu..." Bram begitu acuh menyampaikan kebenaran yang ada di hatinya agar Toni tidak melihat sisi lemahnya.
Bram dengan segera berlalu meninggalkan kamar Toni agar dia tidak terlalu terlihat salah tingkah di depan anaknya itu.
Toni diam-diam menyunggingkan senyum bahagia di bibirnya mendengar ucapan Bram.
Setelah papanya keluar meninggalkannya bersama Milka, Toni menepuk-nepuk pelan pantat Milka yang berada di dalam gendongannya hingga bayi mungil itu dengan mudahnya tertidur kembali.
"Tidur dulu ya, sayang... Papa tau kamu haus. Papa cas dulu ponsel Papa ya sayang, biar bisa hubungi ayah kamu, nak." Toni melayangkan beberapa kecupan di wajah anaknya yang tertidur pulas dalam dekapannya sebelum dikembalikan ke tempat tidurnya itu.
Sambil menunggu batray ponselnya terisi dan bisa digunakan, Toni beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang seharian lengket karena keringat dan juga hendak melaksanakan shalat maghrib di kamarnya.
Apa acaranya sudah selesai? Tadi kan aku mencoba meneleponnya berkali-kali, tapi Kemil tidak menjawabnya sekalipun....~ Gumam Toni.
Dia menghidupkan ponselnya yang sempat mati tadi karena kehabisan batrai dan memilih untuk kembali mencoba menghubungi nomor Kemil di layar ponselnya itu.
Tut... Tut... Tut...
Telepon terdengar diangkat dari seberang. Dia terlihat sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya itu dan memejamkan matanya.
Toni seperti tertekan dari rentetan dan serangan dari seberang.
__ADS_1
"Maafkan aku Kameeel..." Matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya... Hallo Kemil...." Dia sudah terlihat mulai tenang kembali.
"Saya di rumah sekarang. Maaf tidak menemuimu terlebih dahulu. Tadi saya sudah mencoba berulang kali untuk menghubungimu, namun kamu tidak menjawabnya." Ujar Toni berusaha menjelaskan yang sebenarnya.
"Iya, Kemil... Tadi ketika aku mencoba menghubungimu, ponselku mati kehabisan batrai. Sementara aku sudah sampai di jalan padang ilalang. Saya benar-benar ada urusan mendadak." Toni melirik kearah Milka untuk mencari tempat ternyamannya.
"Milka baik-baik saja... Saat ini dia sedang terlelap."
"Oh... Baiklah... Sekali lagi saya mohon maaf." Ucap Toni lagi dengan wajah benar-benar terlihat merasa bersalah.
Telepon dimatikan dari seberang. Toni menchargerkan kembali ponselnya dan berbaring di sebelah Milka.
"Maafin Papa ya, sayang... Sekarang kamu tidak merasakan bagaimana rasanya terjebak di antara ibu, ayah dan papamu. Tapi Papa akan usahakan untuk meringankan segala deritamu kelak.
Papa yang salah, nak... Tidak seharusnya semua ini terjadi." Air matanya lolos begitu saja di ruas tepi matanya.
.
.
.
__ADS_1
.