
Usia kehamilan Kamelia hampir mencapai waktu melahirkan. Perkiraan bidan, Kamelia akan melahirkan bayinya dalam minggu-minggu itu. Bagi Kemil, kala itu adalah waktu yang sangat menegangkan. Namun juga waktu yang sangat dinanti-nantikannya.
Dia sudah sangat ingin merasakan menjadi seorang ayah. Dia juga ingin beban Kamelianya menjadi sedikit berkurang dan digantikan dengan kado istimewa dari Tuhan. Yaitu, kehadiran Milka. Kemil sangat tahu, saban malam Kamelia selalu terbangun karena bayinya yang mulai aktif dan lincah dalam perutnya itu. Bayi di dalam perut Kamelia mungkin hafal betul waktu-waktu penting untuk ibunya.
Pada hari itu Idris dan Rahmah memenuhi undangan hajatan yang dilakukan oleh sebuah keluarga di desa itu. Sedangkan Kemil jadwalnya ke pabrik. Sebenarnya Kemil sungguh enggan membiarkan istrinya itu sendirian di rumah, tetapi Kamelia terus saja memaksanya untuk pergi. Jika membawa Kamelia pun, dia takut akan membuat istrinya itu kelelahan.
"Tidak ada pekerjaan yang terlalu penting hari ini kok, sayang..." Elak Kemil malas.
"Ya sudah.... Terserah kamu baiknya bagaimana." Kamelia merengut.
"Iya, iya... Aku akan ke pabrik. Daripada harus melihat kamu merengut seharian." Kemil bangkit dari duduknya.
Kamelia mulai tersenyum kembali. "Yang ikhlas dong, sayang." Kamelia mencubit lembut kedua pipi Kemil dan kemudian beranjak menyiapkan keperluan suaminya itu.
"Iya, sayang... Tapi kamu harus baik-baik di rumah. Jangan kecapean dan jaga kesehatan. Okee." Kemil menekan kedua pipi Kamelia yang chubby dan menggemaskan baginya.
__ADS_1
"Oke, sayang..." Sahut Kamelia dengan bibir yang sulit diakatupkannya karena ditekan Kemil.
Kemil terkekeh melihat Kamelia seperti itu. Dia melepaskan tangannya dari pipi Kamelia dan menarik tubuh Kamelia ke dalam dekapannya. Sebuah kecupan mendarat di ubub-ubun Kamelia.
"Ya sudah, aku berangkat ya, sayang. Kalau ada apa-apa, telpon aku segera." Kemil menyodorkan tangannya dan segera disambut oleh Kamelia.
Kemil pun juga tidak lupa mengelus perut Kamelia dan menciuminya serta berbisik lembut ke perut buncit itu.
"Assalamu'alaikum, sayang..." Ucap Kemil dan disahuti oleh Kamelia dengan tersenyum manis. Kemil berangkat menggunakan mobilnya dan meninggalkan kediamannya itu.
"Kameeel." Teriakan yang begitu membahana terdengar sebelum Kamelia melangkahkan kakinya untuk masuk kembali ke dalam rumah.
"Apa maumu, Kamel? Kenapa setiap yang aku sukai selalu kamu rebut?" Misya menatap Kamelia penuh kebencian.
"M-m-maksud kamu apa, Misya?" Kamelia berjalan mundur ke dalam rumah hendak menjauhi Misya yang berusaha mendekatinya.
__ADS_1
"Maksud aku apa? Kamu tidak usah pura-pura tidak tau, Kamel... Dulu Toni... Sekarang Kemil." Misya semakin tidak main-main dengan tingkahnya.
Kamelia sebenarnya tidak takut dengan Misya, hanya saja dia tidak ingin kandungannya akan kenapa-kenapa. Ditambah lagi Misya terlihat begitu mengerikan olehnya kala itu.
"Aku sama sekali tidak mengerti maksud kamu, Misya... Kita bertiga kan berteman." Kamel mengerinyitkan dahinya.
"Berteman? Kamu itu bodoh atau pura-pura bodoh, Kamel. Bagaimana mungkin kamu tidak melihat bahwa Toni menyukai kamu?"Kamelia terbelalak. Sungguh dia tidak tahu akan hal itu. Baginya mereka bertiga hanyalah berteman saja. Apalagi dia sering menceritakan tentang Kemil kepada Toni.
"Aku sudah melakukan berbagai cara untuk menjaukan kamu dari Toni, Kamel. Termasuk menghasut Toni agar membenci kamu. Aku pikir dia akan jijik denganmu, Kamel. Tetapi dia malah memilih membuktikan ucapanku dengan cara menodai kamu. Sedangkan aku yang sudah bertahun-tahun memiliki rasa dengannya, tidak sedikitpun dia tertarik untuk menyetubuhiku." Kamelia semakin terkejut mendengar penuturan Misya.
"Maksud kamu apa, Misya?" Darah Kamelia begitu panas dan naik ke ubun-ubun rasanya. Kemarahannya benar-benar memuncak mendengar penuturan Misya yang begitu sangat keterlaluan menurutnya.
.
.
__ADS_1
.
.