KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
BELUM SEPENUHNYA HILANG


__ADS_3

Enam belas Julli.


00.00 dini hari, alarm yang sengaja disetel Kemil membuat keributan di seluruh penjuru ruangan mereka.


Kemil menatap wajah istrinya yang begitu damai baginya. Pelan-pelan Kamelia mengerjapkan matanya yang masih perih karena mengantuk.


"Suara apa tadi itu, sayang?" Kamelia bertanya dengan suara yang masih parau. Dia sedikit terkejut mendengar nada yang begitu asing dan memekakkan telinganya.


Seumur-umur Kamelia tidak pernah menyetel alarm jika tidak ada hal yang perlu dikhawatirkannya. Karena Kamelia sudah terbiasa bangun Subuh. Apalagi semenjak kehadiran Milka. Milka akan menangis dan merengek ketika fajar menjelang.


Suara tangisan Milka sudah menjadi alarm terbaik baginya hampir dua bulan itu.


Kemil mengecup kening Kamelia dan memperlihatkan sebuah kotak perhiasan kepadanya.


Kamelia mulai menetapkan matanya untuk menatap benda itu.


"Apa itu, sayang?" Kamelia benar-benar bingung dengan sikap suaminya.


"Selamat ulang tahun, sayang..." Kemil kembali mengecup kening Kamelianya. Dan kemudian membuka kotak perhiasan di tangannya itu.


"Yaa ampun, sayaang..." Kamelia begitu terpana seraya bangkit dari tidurnya. "Aku bahkan sempat lupa loh..." Kamelia mengusap matanya yang sedikit berair karena terharu, sehingga rasa kantuknya lenyap seketika.


"Seharusnya aku bisa membawamu bersama Milka pergi kemanapun yang kamu suka hari ini. Eh... Entah kenapa abungmu yang begitu menyebalkan itu akan membuatmu sibuk hari ini di pesta pernikahannya." Gerutu Kemil mengingat keputusan kakak iparnya yang tidak bisa diganggu gugat kala itu.


"Sebegitu marahnya kamu, sayang?" Kamelia menarik dagu suaminya itu agar menatap kearahnya.


"Bagaimana tidak? Ini kali pertamanya kamu ulang tahun bersamaku, dan kak Adan malah merebut hari ini dengan pestanya." Sungut Kemil semakin kesal jika mengingat-ingat keras hatinya Ramdani. Ramdani benar-benar tidak mau mengalah kala itu dengannya sehingga membuat semua orang ketakutan melihat adu mulut yang terjadi di antara mereka kala itu.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan terus marah?" Kamelia bertanya ketus.


"Hmmm... Iya, maaf, sayang..." Kemil kembali tersenyum dan menatap istrinya.


"Bolehkah aku pasangkan di lehermu?" Kemil mengeluarkan kalung berlian white gold yang begitu indah.


Kamelia mengangguk.


"Sayang... Kalungnya sangat indah..." Mata Kamelia kembali berkaca-kaca.


"Apa kamu menyukainya?" Kemil memasangkan kalung itu di leher Kamelia.


"Aku menyukainya... Terima kasih, sayang." Kamelia meraba liontin berlian yang sudah menggantung di lehernya yang jenjang dan mulus.


"Itu mama yang memilihkan, sayang." Ucap kemil sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Mama?" Kamelia menolehkan wajahnya kearah wajah suaminya yang bertengger di bahunya itu.


"Sayang..." Bisik Kemil di daun telinga istrinya itu sehingga membuat Kamelia merasa geli dan bergidik.


"Iya, sayang..." Kamelia menyahuti sambil menggeliat karena kegelian.


"Apa kita bisa menciptakan momen di hari bersejarahmu ini?" Bisik Kemil lagi sambil menciumi leher mulus Kamelia.


Kamelia sedikit melenguh karenanya. Dan itu membuat Kemil semakin nakal. Dia membalikkan tubuh Kamelia menghadap kearahnya dan ******* bibir tipis Kamelia dengan perlahan-lahan.


Kamelia memejamkan matanya dan mencoba menikmati sentuhan demi sentuhan dari tangan dan tubuh Kemil.

__ADS_1


Tangan nakal Kemil bergerilya di balik piyama yang dikenakan Kamelia malam itu. Kamelia semakin melenguh dibuatnya. Kemil merebahkan tubuh Kamelia dengan sangat hati-hati.


Mata Kamelia yang terpejam membuat dia semakin buas karenanya.


Kemil menyusuri tubuh Kamelia dari kaki hingga ke dada Kamelia. Sampai pada saat tongkat pusakanya yang masih berada di balik trainingnya yang sedikit tebal itu menghentak kepemilikan Kamelia.


Tiba-tiba kamelia terkejut. Sekelabat bayangan Toni menjamah tubuhnya kembali menghantui pikirannya.


Kamelia mendorong tubuh Kemil dengan sangat kuat sehingga Kemil terjerambab dan ikut terkejut pula karenanya. Seluruh birahinya lenyap seketika.


Kamelia bangkit dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Kedua tangannya disilangkannya ke dadanya itu. Sedangkan kedua lututnya ditegakkannya.


Napas Kamelia memburu karena getaran hebat yang tercipta dari seluruh tubuhnya. Air matanya membanjiri pipinya itu.


Sepertinya trauma itu belum sepenuhnya lenyap dari dirinya.


Kemil yang menyadari kondisi Kamelia segera mendekati istrinya itu. Dia memeluk Kamelia dengan sangat erat dan kuat.


"Maafkan aku, sayang... Maafkan aku... Aku mohon maafkan aku..." Berkali-kali Kemil mengucap kata maaf. Air matanya sempat meleleh karena rasa bersalahnya.


Kemil tak henti-hentinya mendaratkan kecupan di kepala Kamelia di sela-sela permintaan maafnya itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2