
Suasana di ruang keluarga masih kikuk dan canggung. Apalagi pertanyaan Kemil dan tatapan mata Rahmah yang tidak henti-hentinya mengguyur Idris.
"Pah...? Tidak bolehkah kami tau?" Kali itu Kemil tampak memelas dan memohon kepada papanya.
Air mata Rahmah mulai berlinang di pelupuk matanya itu. Dia tidak menyangka kalau suaminya memiliki rahasia besar darinya.
"Apa kami memang tidak bisa lagi untuk dipercayai, Pa?" Akhirnya air mata itu lolos dari pelupuk mata Rahmah.
Idris menatap istrinya. Dia meraih kedua tangan istrinya itu dan mengenggamnya dengan kuat.
"Ini bukan masalah Papa tidak mempercayai kalian..." Idris terlihat kebingungan. "Hanya saja Papa belum siap..." Idris menatap langit-langit rumahnya agar air matanya tidak ikut keluar ketika melihat istri dan anaknya itu tengah memelas kepadanya.
"Setidaknya papa beritahu kami benar atau tidak Papa mengetahui tentang apa yang dialami Kamelia? Itu jauh lebih baik bagi kami, Pa... Selebihnya Kemil percaya kepada Kamelia." Kemil tampak putus asa atas bungkamnya Idris.
"Baiklah... Iya, benar... Benar Papa mengetahuinya..." Idris menyerah.
"Apa, Om?" Suara menggelegar terdengar dari tangga pemisah ruang keluarga dengan ruang utama di rumah itu.
Suasana semakin mencekam. Idris terlihat lebih panik dari sebelumnya.
__ADS_1
"A-Adaan..." Ramdani Kakaknya Kamelia sudah berdiri disana bersama kedua orang tuanya.
"Okeee... Assalamu'alaikum... Maaf kami hanya menyelonong masuk karena sedari tadi kami memanggil di depan pintu yang terbuka lebar, tetapi tidak ada sahutan sama sekali..." Ramdani menggebu. Dia berbicara tanpa intonasi dan jeda lagi. Napasnya sudah tidak beraturan semenjak dia mendengar pengakuan Idris kepada Kemil tadi tentang Kamelia, adik kesayangannya.
Maya terlihat menangis dalam dekapan Agung. Dia begitu syok setelah mendengar percakapan menantu dan besannya itu.
Kemil mendekati mereka dan menyalaminya satu persatu.
"Duduk, Mah, Pah... Kak Adan..." Pinta Kemil.
Tanpa menunggu lama lagi, keluarga Effendi telah mengambil posisi mereka masing-masing.
"Mungkin bagi Kemil pengakuanmu sudah lebih dari cukup, Id... Tapi bagi kami, terutama saya papa Kamelia, berhak tau apa yang sebenarnya terjadi kepadanya... Dia putriku satu-satunya, Id..." Tanpa basa-basi Agung langsung meminta penjelasan sahabatnya itu.
"Tidak cukup dengan itu saja, Id... Bayi yang dikandung Kamel punya ayah biologis yang berhak atas dirinya." Tutur Agung penuh penekanan. Kemil yang mendengarnya terdiam tanpa ekspresi.
"Tidak, Pa... Lelaki itu tidak berhak atas anak Kemil dan Kamelia... Kemil yang menjaganya... Kemil yang selalu ada untuk ibunya selama mengandungnya... Dia tidak berhak, Ma..." Kemil bersimpuh dan menyembunyikan wajahnya di atas pangkuan Rahmah.
"Dia tidak boleh mengambil Kamelia dan Milkanya Kemil, Ma..." Tambah Kemil. Terisak di atas paha mamanya itu.
__ADS_1
Semua terdiam melihat reaksi Kemil yang berlebihan.
"Papa tau itu, nak... Seharusnya dari awal kami tidak memojokkan Kamelianya kami... Kami yang salah... Kami tidak mendengar terlebih dahulu penjelasan darinya." Agung berusaha menenangkan Kemil dari posisi duduknya.
"Kemil tidak peduli siapa ayah biologis Milka... Bagi Kemil, Milka adalah putrinya Kemil... Kamelia bahkan memberi hak untuk Kemil memberi nama untuk bayi yang ada dalam rahimnya kepada Kemil." Kemil terisak seperti anak kecil yang tidak kebagian permen.
"Apa kamu tau sebenarnya yang terjadi kepada Kamelia kami, Id?" Agung tidak ingin lagi memperpanjang permasalahan hak. Dia tahu saat ini yang lebih berhak untuk semua adalah Kemil, putra sahabatnya yang seharusnya adalah korban dari ancaman papanya.
"Ini semua salahku, Gung... Saya yang salah... Tapi saya tidak punya pilihan lain selain mengikuti permintaan Kamelia untuk menyembunyikannya dari kalian. Dan ancaman Papa terhadap kamu juga bukan tanpa ada alasannya, nak. Kamelia hamil bukan atas kesalahannya. Tapi karena kebaikannya... Dia sampai diperkosa karena telah menyelamatkan nyawa saya, Gung." Idris akhirnya melepaskan beban yang selama itu dia tahan. Tangisanya pecah.
Semua yang ada disana ternganga mendengar pengakuan Idris.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bukan tak mau up bnyak... tapi memang ada kesibukan hari ini... terimakasih masih menunggu😊