KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
PENYAKIT BRAM


__ADS_3

Di puskesmas.


Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Bram. Seorang dokter yang telah memeriksanya meminta untuk berbicara kepada keluarga pasien.


Agung tahu betul kondisi mental Toni yang tidak terlalu baik untuk saat itu, ditambah lagi dengan dugaan Agung yang memperparah rasa cemas dan takutnya.


Agung mengajukan diri untuk menemani Toni memenuhi panggilan dokter itu untuk ikut ke ruang kerjanya. Tanpa pikir panjang, Toni mengangguki permintaan Agung. Ramdani dan Kemil menunggui mereka di depan ruang rawat Bram.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan sahabat saya, dokter?" Tanya Agung ketika telah duduk di ruangan dokter itu.


"Pak Bram sebenarnya sudah pernah melakukan tes darah di labor puskesmas ini. Dan hasilnya, beliau positif leukimia akut." Tutur sang dokter.


Toni dan Agung terhuyung mendengar penuturan sang dokter tentang kondisi Bram saat itu.


Toni tidak pernah tahu selama itu dan bahkan dia seperti tidak mau tahu. Toni tampak menyesal karena telah begitu acuh terhadap kesehatan papanya.


Agung berusaha menguatkan Toni meskipun dia juga sangat mencemaskan sahabat lamanya itu.


"Sebenarnya pak Bram sudah kami sarankan untuk melakukan pengobatan di rumah sakit, agar beliau dapat penanganan yang sangat intensif dari faskas yang berkualitas. Namun beliau lebih memilih untuk melakukan skrining kesehatan di puskesmas ini saja." Ujar dokter itu memberitahukan kondisi Bram.


"Lalu bagaimana, dok?" Agung mewakili Toni untuk bertanya-tanya. Karena dia tahu saat itu toni tidak mampu untuk berpikir jernih.


"Saya pikir pak Bram sudah mau melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, karena sudah beberapa kali beliau melewatkan waktu skrining kesehatannya. Melihat Kondisi beliau tadi, kami rasa telah terjadi komplikasi leukimia yang sangat beresiko tinggi terhadap organ penting dalam tubuhnya.

__ADS_1


Untuk penanganannya kami sarankan agar pak Bram segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan memadai." Tutur dokter itu panjang lebar.


"Sudah berapa lama papa saya mengidap penyakit itu, dok?" Toni mulai ingin tahu.


"Sebenarnya sudah hampir dua tahun beliau memeriksakan diri di puskesmas ini. Gejala awal yang dirasakan beliau hanyalah demam, mudah lelah dan berkeringat di malam hari. Tapi baru setahunan lalu dia mencoba tes labor dan hasilnya sel kanker sudah menyerang darah beliau. Kami wanti-wanti menyarankan beliau untuk melakukan pengobatan di rumah sakit. Tetapi faktor lain membuat dia harus terlihat kuat. Apa beliau tidak memberitahukan kepada Anda tentang penyakit yang beliau derita?" Agung melirik kearah Toni, Dan Toni hanya menggeleng pelan.


"Sangat sulit penyembuhan terhadap penyakit kanker. Hanya saja bisa ditangani untuk memperlambat proses penyebarannya ke seluruh tubuh melalui beberapa. Dan itu juga tidak menjamin kesembuhan bagi si penderita."


"Jika pihak keluarga menyetujui, saya akan buat surat rujukan ke rumah sakit untuk pak Bram..." Ujar dokter itu lagi.


"Apapun itu dok, saya mohon lakukan yang terbaik untuknya..." Ujar Agung penuh permohonan.


"Baiklah kalau begitu, pak. Hari ini pak Bram akan dirujuk ke rumah sakit." Ujar dokter itu meyakinkan Agung dan Toni.


Idris yang baru saja datang bersama Rahmah dan Maya segera berdiri ketika melihat Agung berjalan kearah mereka yang menunggu bersama Ramdani dan Kemil.


"Bagaimana, Gung?" Tanyanya cemas. Apalagi melihat raut wajah toni yang seperti stres dan tertekan.


"Bram akan dirujuk ke rumah sakit, Id... Dia menderita leukimia." Ujar Agung tak bersemangat. Dia segera duduk di kursi panjang itu.


Semua dari mereka terkejut mendengar penjelasan Agung.


Kemil mendekat kearah Toni. Dia mengusap pundak sepupunya itu, agar kuat dan sabar menghadapinya.

__ADS_1


"Anak macam apa saya ini?" Ucapnya lirih sambil megusap kasar kepalanya. Butiran bening jatuh perlahan dari matanya yang ideal.


"Kamu yang sabar, Ton... Om Bram pasti bisa disembuhkan..." Ujar Kemil.


Meski mereka tidak di posisi Toni, Tapi mereka paham betul bagaimana perasaan Toni saat itu.


.


.


.


.


.


.


.


Aduuuh... Sebenarnya tidak ingin dulu lagi berurusan sama ilmu medis sih... Tapi terpaksa ambil resiko...


kalau ada salah... mohon maaf dan pencerahannya ya...

__ADS_1


saat ini masih riset lewat google...


__ADS_2