KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MEMELUK FOTOMU


__ADS_3

Bram kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya itu dengan rapat.


Dia bersandar di belakang pintu kamarnya dan memejamkan matanya yang baru saja mengeluarkan cairan bening dari dalamnya itu.


Kepalanya merunduk seraya mengangkat pelan tangannya yang telah dua kali menampar pipi putranya tadi.


"Maafkan papa Toni... Kata-katamu begitu menyakitkan di hati Papa..." Perlahan Bram melangkah ke tepi tempat tidurnya.


Dia berjongkok di depan laci nakas samping tempat tidurnya, dan membuka laci bagian paling bawah sekali.


Tangan Bram meraih sebuah foto wanita cantik dari dalamnya.


"Apa ini yang kamu inginkan, Rianti? Kebencian anak kita terhadapku? Selama ini aku hanya membela hak dan miliknya yang belum ia dapati. Aku tau... Caranya salah dalam mengambil kesucian wanita yang sangat dicintainya. Tetapi sifat itu menurun dariku-kah atau darimu?" Bram sampai berlinangan air mata ketika berbicara dengan sebuah foto yang diraihnya dari dalam laci nakas samping tempat tidurnya itu.


"Bertahun-tahun aku pendam semuanya agar mereka tidak merasakan sakit seperti yang aku rasakan. Tapi kali ini aku sudah tidak sanggup menahannya sendiri.


Aku takut setelah kepergianku, Toni anak kita tidak punya siapa-siapa lagi.


Demimu... Aku rela meninggalkan keluargaku kala itu. Aku rela dicap sebagai anak durhaka dan kehilangan semuanya.

__ADS_1


Tetapi demi apa pun... Aku tidak akan pernah rela membiarkan putra kita menderita sepanjang hidupnya." Bram meraih beberapa lembar kertas di dalam laci itu lagi, dan sebuah buku kecil yang tidak terlalu tebal.


"Hhh..." Dia sedikit menyeringai meski air matanya berlinangan. "Kamu memang konyol, Rianti... Saangat konyol sekali. Bagaimana mungkin ambisi Toni menurun dari sifatku? Sifat keras kepalamu-lah yang menurun kepadanya.


Aku pikir kita bisa hidup bahagia meski kita hanya akan belajar dan terus belajar untuk saling mencintai setiap harinya.


Tetapi tidak... Keegoisanmu sangat tinggi... Kamu lebih memilih caramu daripada itikad baikku... Lalu dimana letak salahku, Rianti? Kamu bahkan tidak memikirkan masa depan anak kita..." Bram tersimpuh di tepi tempat tidurnya.


Matanya memandangi beberapa bagian tubuhnya yang memar dan bewarna hijau kebiru-biruan.


"Yaa Allah... Apa yang harus aku lakukan? Saat ini aku hanya minta kebaikan untuk putraku saja... Aku sudah tidak butuh yang lainnya." Dia terisak disana dengan tangan masih memegangi foto Rianti.


Di sisi lain, di kamar Toni. Toni tidur miring dan bergelung di atas tempat tidurnya sambil memeluk erat foto yang sama, yaitu foto Rianti, mamanya.


Sebelah tangannya memegangi pipinya yang memerah dan masih terasa panas akibat dari tamparan papanya barusan.


Kata-kata pengakuan Idris dan Agung tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Hal yang tidak pernah diduganya selama itu. Ia terisak disana.


"Kenapa begitu besar penderitaan Mama? Kenapa, Ma? Kenapa Mama tidak membawa Toni juga bersama Mama waktu itu? Atau setidaknya, kenapa Mama tidak membiarkan Toni saja yang pergi?

__ADS_1


Kenapa Mama membiarkan Toni hidup bersama papa yang kejam?" Toni bergumam marah sambil memejamkan matanya namun tetap bocor mengeluarkan cairan-cairan bening kesedihan dari dalamnya.


"Dulu papa baik, Ma... Papa sangat menyayangi Toni... Bahkan Toni pikir papa sangat mencintai Mama.


Papa sampai membuatkan kamar ini untuk Mama. Papa sampai membelikan alat-alat lukis itu juga.


Tetapi hampir tiga tahunan ini papa banyak berubah, Ma... Papa bahkan meminta Toni mengambil paksa tanah kakek.


Apa hanya untuk menjalankan misinya saja, papa mau merawat Toni, Ma?


Sejak Toni tau tentang semua kenyataan ini tadi... Toni seakan tidak punya keberanian lagi untuk menemui Milkanya Toni... Padahal Toni sangat merindukan bayi mungil itu, Ma..." Air mata Toni semakin menderas. Dia terus terisak hingga tertidur disana sambil memeluk foto almarhum mamanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2