
Sedari sampai di pasar itu, Kemil tidak berhentinya menggandeng tangan Kamelia. Tidak sekalipun dia melepaskan genggamannya.
Namun tibalah saat dia harus membayar jajanan Kamelia. Dia tampak berpikir untuk melepaskan tangan istrinya itu.
"Aku yang membayar tidak boleh, kamu yang membayar tidak mau. Jadi harusnya bagaimana? Tangan aku juga sudah gerah..." Kamelia dibuat menggerutu kesal oleh sikap berlebihannya Kemil.
"Iya iya... Aku yang bayar..." Kemil mengambil tangan Kamelia dan menguncinya di lengannya yang kekar. "Jangan dilepas... Biarkan disini sebentar." Perintah Kemil sambil merogoh dompet dari dalam kantong celananya.
Kamelia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang tiba-tiba menjadi overprotektif terhadapnya.
Sang pemilik jajanan tetap sabar menunggu pasangan yang menurutnya super duper romantis itu. Dia tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Kemil.
Setelah membayarnya, Kemil kembali mengenggam tangan Kamelia dan beranjak menuju tempat penjualan perlengkapan bayi.
Disana mereka memasuki kios yang isinya khusus perlengkapan bayi semua.
Sembari Kamelia memilah-milih apa saja untuk persediaan awal kelahiran bayi, Kemil sudah memilih banyak, bahkan perlengkapan bayi yang dipakai pada usia enam bulan ke atas.
"Kemiiiil..." Kamelia melotot kearah Kemil.
"Sayaaang..." Seru Kemil seolah meminta Kamelia mengulang kembali.
"Iya... Okeee... Sayaaang... Biar aku saja yang memilihnya. Ini pilihan kamu buat anak sembilan bulanan loh." Gerutu Kamelia.
"Memangnya Milka nanti lahirnya akan berumur sehari terus... Nggak kan, sayang? Yaa nggak apalah aku ambilin buat yang sembilan bulan sekalian." Ujar Kemil asal.
"Iya... Tapi, kan lama tersimpannya... Mendingan gak usah..." Kamelia semakin kewalahan dengan sikap suaminya itu.
__ADS_1
"Aku kan sudah bekerja sekarang... Jadi tidak apa kalau aku mau belikan perlengkapan untuk Milka." Kemil tidak mempedulikan gerutu Kamelia. Dia terus saja memilih yang mana menurutnya bagus.
"Sudah... Sudah... Tolong dibungkus kak... Saya tunggu di depan." Kamelia terpaksa menghentikan belanjanya. Untung saja semua kebutuhan awal lahiran sudah diambilnya terlebih dahulu.
Setelah penjaga kios selesai menota dan memisahkan belanjaan Kamelia. Dia memberikan Struk belanja kepada Kamelia.
Kamelia begitu terkejut melihat nominal belanjaannya. Dia melihat ke barang belanjaan yang sudah dipisahkan penjaga kios.
"Itu belanjaan saya semua, kak?" Kamelia terbelalak mendapati beberapa tumpuk kantong belanjaan. Disitu juga ada stroller bayi dan kereta bayi yang dirasanya belum diperlukan.
"Iya, neng... Suami neng sendiri yang memilihnya." Sahut penjaga kios.
Kamelia melotot kearah Kemil. Namun Kemil membuang pandangannya berpura-pura tidak tahu.
Kamelia menatap barang belanjaannya dengan bingung di depan kios itu. Dan dengan sigap Kemil merogoh ponsel dari dalam kantong celananya.
Kemil mengotak atik layar ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo, Assalamu'alaikum, Kemil?"
"Hallo Wa'alaikumussalam pa... Pa... Kemil sama Kamel sudah selesai belanja. Boleh tidak Kemil minta tolong dijemput sopir pabrik? Soalnya belanjaan kami banyak sekali, Pa....?" Pintanya Memelas kepada papanya yang ia telepon saat itu.
"Baiklah, kamu tunggu disana ya. Papa akan beritahu sopir buat jemput kamu dan Kamel."
"Terima kasih, Pa... Kemil tunggu di Blok E kios perlengkapan bayi ya, Pa..." Sahutnya kegirangan.
"Iya. Ya sudah, kamu hati-hati dan jaga Kamelia baik-baik."
__ADS_1
"Iya, Pa... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
Panggilan berakhir. Kamelia mendelikkan matanya kearah Kemil.
"Kamu ini... Merepotkan papa saja." Gerutu Kamelia dan dibalas seringai nakal dari suaminya itu.
"Pak Sidiiii...." Seru Kamelia sambil melambaikan tangannya ketika melihat seorang kuli pasar yang dikenalnya melintas di depan kios itu mendorong gerobak barangnya yang masih kosong.
"Non kamel...?" Kuli pasar itu menoleh dan mendekat kearah mereka berdiri.
"Kamel mau minta tolong antarkan barang belanjaan Kamel ke parkiran depan, bisa pak?" Pinta Kamel.
"Wah Alhamdulillah... Dengan senang hati, non." Kuli pasar itu terlihat senang sekali dapat pekerjaan dari Kamelia. Kemil mengerutkan dahinya bingung.
"Tadi aku sudah telpon papa nyuruh sopir pabrik yang jemput, sayang..." Ujar Kemil merasa tidak enak.
"Iya, aku tau... Kan aku dengar..." Ujar Kamelia.
"Lalu kenapa kamu malah menyuruh orang?" Kemil semakin bingung dengan istrinya itu.
"Pak Sidi, kan cuma ngantar ke parkiran, sayang, biar sopir pabrik juga tidak kewalahan mencari-cari kios yang padat ini... Lagian itu sudah rezeki beliau. Kamu tidak lihat betapa senangnya pak Sidi tadi?" Kamelia menjelaskan kepada suaminya itu dengan lembut. Kemil begitu tersentuh dengan kemurahan hati istrinya.
Mereka berjalan bergandengan di tengah padatnya pasar itu.
Akhirnya mereka sampai di parkiran ketika pak Sidi baru saja menurunkan barang belanjaan Kamelia dari gerobaknya.
__ADS_1
Kemil merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompetnya dari sana. Dia memberikan beberapa lembar uang kepada pak Sidi sehingga membuat mata pak Sidi berkaca-kaca karena kebanyakan menurutnya.
Tidak lama setelah itu, sopir pabrik datang dan memarkirkan mobil disana. Setelah semua barang belanjaan Kamelia dimasukkan sang sopir ke dalam mobilnya, mereka langsung berangkat meninggalkan pasar itu.