KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
POSISI TERNYAMAN


__ADS_3

Betapa sejuknya memandangi dua insan yang berdiri di atas sajadah mereka masing-masing. Menghadap kepada Rabb yang telah menciptakan siang untuk bekerja dan malam untuk beristirahat bagi manusia-manusisnya.


Sudah larut malam, namun mereka masih berkutat dalam do'a yang khusyu'. Meminta segala hal yang hanya Dia-lah pemberinya.


"Kamu meminta apa?" Kamelia bertanya seraya menyahuti tangan Kemil yang mengarah kepadanya, lalu menciumi punggung tangan suaminya itu penuh cinta.


"Bisa seperti ini bersamamu, bersama Milka dan beberapa anak lagi yang akan hadir di tengah-tengah kita nantinya." Kemil mengusap perut Kamelia di balik mukenah putihnya.


"Kalau kamu?" Kemil menolehkan wajahnya kearah Wajah Kamelia yang begitu dekat dengannya.


"Aku meminta agar apa yang kamu minta terkabulkan..." Kamelia tersipu menjawab pertanyaan suaminya itu.


Seusai beribadah, mereka naik ke tempat tidur kamar itu.


"Kamu tidak ke kamarmu?" Kamelia menatap lekat wajah Kemil. Meski mereka sama-sama sudah mengetahui perasaan mereka masing-masing, namun Kamelia masih saja terlihat canggung jika berada di samping Kemil.


"Milka pasti ingin tidur bersamaku." Jawabnya asal. Padahal dia sendiri yang tidak ingin jauh-jauh dari Kamelia. Apalagi sejak dia tahu yang sebenarnya. "Oh iya... Kenapa kamu mengatakan shalat Isya sebagai hutang?"


"Ummm... Tidak kenapa-kenapa. Semua kewajiban akan aku sebut sebagai hutang kok." Ujar Kamelia santai.


"Kenapa?" Kemil semakin penasaran dibuatnya.


"Biar aku cepat saja menunaikannya dan tidak lalai serta berleha-leha. Dimana hutang itu adalah kewajiban kita membayarnya, dan penerima adalah memiliki hak atas itu. Sama halnya dengan shalat. Kita berkewajiban melakukannya. Dan Allah punya hak menerimanya. Allah tidak meminta apa-apa dari kita manusia dan jin selain untuk menyembah kepadanya." Kamelia begitu bijak menjelaskannya.

__ADS_1


Kemil mengangguk tanda mengerti dengan penuturan istrinya itu. Dia merebahkan tubuhnya dan merentangkan lengan kirinya. Dia menepuk kasur di sisi kirinya meminta Kamelia ikut merebahkan tubuhnya pula.


Kamelia menurut. Dia membaringkan tubuhnya membelakangi Kemil. Dan kemil memeluk Kamelia dari belakangnya.


"Terima kasih, Kamel..." Bisik Kemil lirih dalam ceruk leher Kamelia.


Kamelia meraih tangan kanan Kemil yang memeluknya dari belakang.


"Terima kasih untuk apa?" Sahut Kamelia.


"Terima kasih sudah memberiku kehidupan baru." Ujar Kemil lagi.


Kamelia memutar posisinya menghadap kearah Kemil. "Seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu." Kamelia menekan kedua pipi Kemil dengan lembut.


"Bukankah kita sudah membahasnya tadi?" Kamelia bingung melihat tingkah Kemil yang berubah jadi cengeng seperti itu.


"Aku hanya takut jika kamu berubah pikiran..." Ujarnya lagi.


"Kenapa begitu?" Kamelia semakin heran.


"Maukah kamu melakukan trauma healing?" Kemil memberanikan dirinya untuk meminta Kamelia melakukan pemulihan trauma.


"Untuk apa?" Kamelia bangkit dari tidurnya dan memunggungi Kemil.

__ADS_1


"Kamel... Percayalah... Kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini. Itu akan berdampak buruk juga buat Milka nantinya..." Kemil berusaha meyakinkan Kamelia.


"Bagaimana mungkin tidak apa-apa jika sampai bibirmu terluka seperti ini?" Tambah Kemil sembari mengusap bibir Kamelia yang sedikit membengkak dan masih berbekas.


"Terserah kamu saja lah..." Kamelia menyerah. Dia juga takut kalau seandainya putrinya akan terlihat mirip dengan Toni. Dan dia akan sulit melupakan rasa sakit yang pernah dialaminya.


"Ya sudah... Besok aku akan mengajakmu ke rumah orang tuamu. Kamu pasti merindukannya, bukan?" Kemil meraih kedua tangan Kamelia.


"Benarkah?" Senyuman kegirangan berhasil lolos dari bibir Kamelia.


"Iya... Dan dengar-dengar, disana besok ada pasar. Kita akan berbelanja bersama untuk membeli perlengkapan Milka." Kemil begitu sweet malam itu. Dia ingin Kamelia melihat cintanya yang tulus. Bukan untuk balas budi. Dia tidak ingin Kamelia salah paham jika seandainya Kamelia tahu bahwa dia sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Oh... Terima kasih, Kemil... Aku senang sekali mendengarnya." Kamelia tersenyum bahagia. Dia kemudian mencari tempat ternyamannya di sisi Kemil dan terlelap disana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2