KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
DI TERTAWAKAN


__ADS_3

Cahaya jingga memang tidak terlalu tampak sedari sore tadi, namun bukan berarti sehabis maghrib tidak ada cahaya dan akan langsung kelam buta.


Kemil melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, meski orang tuanya telah wanti-wanti mengingatkannya ketika sebelum dirinya berangkat tadi.


Awalnya Caca merengut kepada Asraf agar ikut pula menyusul Kamelia, namun Maya mencegahnya. Dia tau sekali istri beserta bayi Asraf kelelahan karena perjalanan jauh yang ditempuhnya dari kota.


"Apa Kamel ku sudah makan? Dia bilang akan mual jika bukan aku yang menyuapinya. Yaa allah... Kenapa aku seceroboh dan seegois ini?" Dia terus saja bergumam dengan cemas di sepanjang perjalanannya.


Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menitan, Kemil telah mencapai sebuah rumah sederhana namun terkesan mewah yang sudah tidak asing lagi bagi matanya.


Dengan terburu-buru, dia turun dari mobil yang membawanya ke sana menuju ke depan pintu utama rumah itu yang tidak lain kediaman Effendi milik keluarga istrinya.


Pintu terbuka dari dalamnya sebelum Kemil sempat mengetuk pintu utama yang begitu lebar membatasi udara luar nan dingin dan suasana yang begitu gelap.


Sekelebat, cahaya lampu dan hangat udara dari dalam mendamaikan hati Kemil yang gundah.


"Jika hanya untuk membuat adikku menangis lagi, lebih baik kamu pergi saja..." Suara Ramdani yang garang terdengar menyambut kedatangan Kemil.


"Apa tadi Kamel ku menangis kak Adan?." Tanya Kemil terlihat cemas.


"Hahhh... Kamel ku? Dia itu juga Kamel ku..." Sungut Ramdani kesal seraya melipat tangannya dengan angkuh.


"Maafkan Aku kak Adan... Aku hanya tidak tahan melihatnya tersenyum kepada lelaki lain..." Kemil menatap lirih penuh permohonan kepada kakak iparnya. Rasa bersalah semakin terlihat pada wajahnya yang tampan, mengingat janjinya kepada lelaki tiga tahunan lebih tua diatasnya itu untuk tidak membuat Kamelia-nya menangis.

__ADS_1


"Apaaaah..." Mata Ramdani membulat. "Buaaahahaha..." Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Kemil.


"Kenapa kak Adan tertawa?" Kemil menatap heran kakak iparnya yang semakin terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang menegang karena tertawa.


"Ternyata kamu punya rasa cemburu juga... Aku fikir tidak." Ujarnya dengan nada meledek disela-sela tawanya.


"Ccckkk..." Kemil berdecak jengkel seraya berkacak pinggang.


"Adaaan... Kamu kenapa ribut-ri...?" Maya datang menghampiri putranya yang terdengar ribut sampai ke dalam rumah. "Loh Kemil...!" Serunya lagi ketika mendapati menantunya di ambang pintu.


Kemil dengan segera meraih tangan Maya. "Maafin Kemil ma..." Ujarnya.


"Kamu minta maaf kenapa nak?" Tanya Maya heran. Dia memang tidak tau apa-apa, tetapi hatinya tau bahwa anaknya tengah memiliki masalah.


"Kemil ternyata tadi yang membuat Kamel menangis ma... Karena menantu kesayangan mama ini cemburu ma..." Ramdani menyahuti pertanyaan mamanya sambil terus meledek adik iparnya itu.


Ramdani kembali terkekeh dibuatnya.


"Adaaan..." Maya membelalakkan matanya ke arah Ramdani, sehingga putranya itu terdiam berusaha menahan tawanya.


Kemil ikut mendelikkan matanya sambil mencibir jengkel penuh kemenangan karena merasa dibela mertuanya. Meski begitu, dia masih saja geram melihat tingkah Ramdani yang terlalu berlebihan mengejeknya.


"Masuklah dulu nak... Selain dingin, kamu pasti juga kelelahan bukan?." Pinta Maya seraya menarik lembut lengan menantunya.

__ADS_1


"Kemil langsung menemui Kamel saja ma... Kemil mau minta maaf, Kamel pasti belum makan..." Elaknya seakan memohon.


"Mama paham perasaan kamu saat ini nak... Tapi nantinya Kamel lebih merasa bersalah melihat keadaan kamu seperti ini. Kamu kan tau sendiri bagaimana Kamelia." Bujuk Maya agar menantunya mau menuruti ucapannya.


"Memangnya Kemil seperti apa ma?" Kemil memperhatikan tubuhnya dari dada hingga kakinya yang masih memakai sepatu.


Maya menarik nafasnya dalam sebelum menjelaskan bagaimana Kemil saat itu terlihat oleh matanya. "Kamu terlihat kusut, wajah kamu memucat, daaannn raut wajah kamu itu juga terlihat menyedihkan..." Tiba-tiba perut Kemil berbunyi, menandakan cacing-cacing di dalamnya tengah berdemo meminta pemasukan stok makanan yang telah habis.


Maya tersenyum, "Tuh kan... Apa kamu mau, menemui istrimu dengan musik yang diciptakan oleh cacing-cacing di dalam perutmu?" Ramdani berjalan masuk ke dalam rumah melewati Kemil sambil tetap mengejek adik iparnya itu.


"Ya udah ma... Kemil menurut apa kata mama... Takutnya Kamelia tambah sedih melihat kondisi Kemil seperti ini..." Ujarnya menurut dan membenarkan kata mertuanya.


.


.


.


.


Maaf teman2... Saya terkadang bingung hendak memperbaiki kesalahan saya. Soalnya teman-teman memberi komentar buruk tanpa memberi masukan...


Jadi saya harus bagaimana???... Silahkan menghujat... Tapi beritahu letak kesalahannya dimana. Biar saya tidak merasa sedih dan kepikiran...

__ADS_1


Terimakasih untuk semua teman2...


Salam satu layar😊


__ADS_2