KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
KESIANGAN


__ADS_3

Sudah lewat jam enam pagi, Kamelia belum juga terbangun. Daya tarik kasur membuatnya kesiangan. Ditambah lagi dekapan yang semakin erat dari tubuh Kemil yang kekar, membuat dia enggan untuk beranjak dari peraduannya yang ternyaman itu.


Perlahan-lahan matanya mengerjap, kebetulan jam dinding berada di sisi depannya. Mata Kamelia kembali terbuka lebar.


"Yaa Allah, aku kesiangan..." Gumamnya dalam keterkejutannya itu.


Baru saja dia hendak bangkit, tapi dia merasakan pinggulnya begitu berat. Kamelia semakin terkejut mendapati sebuah lengan di bawah kepalanya.


"Kemiiill... Dia masih disini?" Kamelia bangkit dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan suaminya yang terlelap dengan pulas.


Kasihan Kemil... Dia pasti kelelahan... ~ Kamelia memandang Kemil dengan begitu sendu.


Ini bukan salahmu, nak... Bukan... Ibu saja yang terlalu serakah karena menginginkan hal lebih dari om Kemil...~ Kamelia mengusap-usap lembut perutnya.


Meski dunia sudah mulai terang, Kamelia tetap melaksanakan kewajibannya. Dia shalat dengan khusuk dan khidmad.


Kemil menggeliat di atas tempat tidur. Perlahan-lahan Kemil membuka matanya yang masih berat dan sedikit menyembab karena kurang tidur. Dia meraba sisi tempat tidurnya yang terasa asing baginya.


Tubuhnya refleks bangkit, dan pandangan matanya menyapu ke seluruh ruangan.


Oh iya... Semalam aku kan tidur di kamar Kamelia...~ Gumamnya. Lalu dia dimana?

__ADS_1


Kemil celingak-celinguk mendongakkan kepalanya. Dan alangkah terkejutnya dia ketika kepala Kamelia muncul dari bawah lantai samping tempat tidur itu.


Walau sudah kesiangan seperti ini, dia tetap menjalankan kewajibannya.... ~ Kemil tersenyum haru memandangi Kamelia yang begitu anggun dalam damainya ketika berhadapan dengan Zat yang tak terlihat itu.


"Kemil... Kamu sudah bangun?" Seusai salam Kamelia langsung menoleh kearah Kemil yang memerhatikan dirinya.


"Jika sudah seterang ini, masih bisa shalat?" Tanya Kemil sedikit canggung dan malu.


"Kenapa tidak? Kita, kan tidak menyengajanya... Islam itu damai dan selamat. Islam itu mempermudah kita, hanya kita yang mempersulitnya. Dan masalah terlambat bangun ketika subuh atau karena lupa, kita tetap harus melakukannya. Yang penting kita harus menyegerakannya ketika sudah tersadar. Dan semua lebih penting karena niatnya." Tutur Kamelia dengan bijak.


Kemil tersenyum seraya bangkit dan segera beranjak dari tempat tidur itu untuk menunaikan kewajiban yang sudah lama dia tinggalkan.


Ternyata benar. Apa yang kita suka dan kita inginkan belum tentu menjadi yang terbaik untuk kita, namun apa yang kita benci dan tidak kita inginkan bisa jadi itulah yang terbaik untuk diri kita.


Idris datang mengusap kedua bahu istrinya dari belakang. Mereka tersenyum bahagia karena telah melewati beberapa masa-masa kesalahpahaman yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka.


****


Di sisi lain, Misya terlihat uring-uringan di atas tempat tidurnya. Beberapa kali ponselnya berdering karena telpon dari Toni hanya diabaikannya saja. Namun tetap sesegera mungkin dilihatnya, berharap yang menelponnya itu adalah Kemil. Tampak penyesalan dalam dirinya karena selama ini telah mengabaikan Kemil yang berusaha mendapatkan hatinya.


"Kenapa Kemil semakin hari semakin jauh begini sih? Apa jangan-jangan dia sudah mulai jatuh cinta sama Kamelia?" Sedari tadi dia bersungut kecil dengan wajah penuh kekesalan.

__ADS_1


Dia mencoba menelpon Kemil dan berusaha melenyapkan kegengsiannya. Selama ini Kemil-lah yang selalu mengejar-ngejarnya, menelponnya terlebih dahulu dan menghampirinya. Dan semua itu membuat dia jengah dan risih. Tapi semenjak Kemil dan Kamelia menikah, dia merasa Kemil berubah drastis kepadanya.


Kemil tidak lagi memprioritaskannya. Jika dirinya pura-pura menolak, Kemil tidak lagi berusaha membujuknya.


Tut... Tut.... Tut....


Berkali-kali dia menelpon Kemil, namun sama sekali tidak ada jawabannya.


"Ckkk... Ini semua gara-gara kamelia... Kenapa dia selalu saja merebut apa yang aku suka?" Decaknya. Ponsel yang berada dalam genggamannya, segera dia hempaskan ke kasurnya yang empuk.


Mata Misya berkaca-kaca. Terlihat sekali kebencian dari sorot matanya untuk Kamelia yang sempat diumpatinya tadi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2