
Setelah mengambil keputusan yang dia rasa sangatlah berat, Kemil uring-uringan di atas tempat tidurnya.
Entah perasaan apa yang saat itu dia rasakan. Dia begitu marah kepada dirinya sendiri, menyesal karena telah menerima keinginan papanya juga ada. Ingin kabur pun juga jadi bahan pertimbangannya kala itu. Tapi lagi-lagi bayangan mamanya akan dimadu oleh papanya mencegah keinginannya untuk itu.
Kemil terus saja mencoba untuk memejamkan kedua matanya agar terbebas dari pikiran-pikiran kacau yang mengganggunya sampai lewat tengah malam. Namun sudah hampir subuh dia baru terlelap menemui mimpinya.
***
Dalam mimpi.
"Kameeeeel..." Seru kemil kecil sambil berlari mengejar seorang gadis kecil yang cantik jelita. Rambutnya yang panjang tergerai indah di punggungnya. Dia Kamelia yang masih memakai seragam putih merah kala itu.
Kamel kecil terus saja berlari sambil tertawa usil.
"Iiihhh.... Kamel... Aku capek tauuu.. Kembalikan burung kertasku." Seru kemil di balik napasnya yang mulai tersengal-sengal.
"Kejar aku dulu, Kemil... Nanti aku balikin..." Sahutnya sambil berlari semakin kencang.
"Aku sudah tidak kuat lagi, Kamel... Iiiih... Kamu cantik-cantik kok usil sih...?" ujarnya sambil terus mengejar Kamelia yang berlari di jajaran kebun teh milik kakek Kemil.
BAAAMMMM
"AAAAAAGHH..."
Tiba-tiba Kamelia menjerit kesakitan seiring dengan dentuman keras tubuhnya yang tepelosot ke dalam lobang sedalam pinggangnya.
Kemil semakin mengencangkan larinya agar segera mendapati Kamelia.
"Kamel.... Kamu tidak apa-apa?" Tanya Kemil panik sambil mengulurkan tangannya ke arah Kamelia.
__ADS_1
"Kaki aku sakit, Kemil... Tolongin aku..." Sahut Kamelia sambil tersedu-sedu.
"Sini aku bantuin kamu... Ulurin tangan kamu ya..." Pintanya begitu panik.
"Tapi aku tidak bisa, Kemil.. Hiks... hiks..." Kamelia kecil itu terisak karena merasakan sakit di pergelangan kakinya.
"Aku akan tolongin kamu, Kamel... Bertahanlah...." Seru Kemil kecil seraya berdiri dan mencari sesuatu.
Suara tangis dan panggilan Kamelia semakin keras dan semakin nyata di telinganya. Bahkan menggema sampai hati dan jantungnya.
"Kamel... Kamel... Kameliaaaaa..." Tubuh Kemil terduduk, napasnya menderu naik turun naik turun, dan keringatnya bercucuran dengan deras.
Kemil melirik kearah jam dinding.
"Jam sembilan?" Kemil terperangah karena mendapati dirinya kesiangan. Dia harus menghubungi Misya agar mau menemaninya dalam proses lamarannya ke rumah Kamelia nanti sore.
Kemil meraih ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya dan segera menghubungi Misya.
Telponnya menyambung, tetapi tidak diangkat. Kemil mengulanginya sekali lagi.
Tut.... Tut.... Tut....
"Hallo, sayang... Aku lamarannya hari ini..."
"Iya sayang... Aku juga tidak tau kenapa papa bisa menentukan waktu secepat itu..."
"Mungkin juga, sayang... Kamu sudah kosongkan waktu untuk jadi menemaniku, kan? Dan pastinya pernikahan pun akan dipercepat. Kamu harus sudah siap ya.." Pinta Kemil berharap.
"Ya sudah... Nanti aku jemput kamu ya, sayang... see you..."
__ADS_1
Telpon dimatikan. Kemil bangkit dan beranjak menuju kamar mandi yang ada di kamarnya itu.
Kemil berdiri di bawah shower sambil menekan kedua telapak tangannya ke dinding dan menyirami badannya dengan air yang berjatuhan seperti air hujan itu.
Dia memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya. Wajahnya dibiarkannya ditimpa air untuk menenangkan perasaannya yang tidak menentu.
Pikiran Kemil terarah ke mimpinya tadi. Dia begitu terganggu dengan mimpinya itu. Wajah Kamel kecilnya kembali menghantui pikirannya.
Kenapa rasa sakit dan tangisannya begitu nyata? Aku bahkan ikut merasa terluka karena jeritannya...
Sudah hampir dua belas tahun aku dan dia tidak pernah bertemu... Apa dia masih secantik dulu?
Ahhh... Kalaupun dia masih cantik... Diakan sudah menyalah gunakan kecantikannya...
Lagian Misyaku jauh lebih cantik dari siapapun.
Kemil mengusap air yang berjatuhan membasahi wajahnya.
Tapi... Kenapa dia tidak menikah dengan lelaki yang telah menghamilinya saja ya? Papanya kan dulu kaya... Pasti sekarang pun masih... Dia bahkan mungkin bisa mencarikan lelaki lain untuknya....
Papa juga tidak mungkin punya hutang dengan papanya... Secara, kan papa juga dapat banyak warisan dari kakek.
Kemil terus saja dibuat bingung dengan pemikiran-pemikirannya sendiri tentang Kamelia.
.
.
.
__ADS_1
.
.