
Kemil masih saja mendekap tubuh istrinya itu dengan cemas. Rasa bersalah dalam dirinya semakin dalam dia rasakan.
Tiba-tiba suara tangisan Milka di baby horbornya membuat Kemil menjadi kebingungan. Dia tidak tahu harus apa. Mendahulukan Milka atau istrinya yang masih terguncang karenanya.
Tangisan Milka tak kunjung henti, semakin lama semakin mengeras.
"Sayang, ma'afin aku ya... Aku mau ambil Milka dulu. Kasihan dia menangis seperti itu." Perlahan-lahan Kemil melepaskan dekapannya kepada Kamelia.
Ketika Kemil hendak turun, Kamelia menahan lengannya.
"Terima kasih, sayang... Maafkan aku. Aku janji akan mencobanya lagi." Kamelia menatap sendu mata Kemil.
"Aku tidak akan memaksa kamu lagi, sayang..." Kemil mengenggam tangan Kamelia lalu menciuminya.
"Kamu tidak pernah memaksaku, sayang... Aku saja yang lemah." Ujar Kamelia lagi.
"Sayang... Milka kita bangun..." Kemil menyudahi perdebatan kecil mereka.
"Aku tau, sayang... Suara tangisnya membuat aku sadar... Bahwa aku tidak seharusnya terus-terusan meratapi hal yang membuat dia hadir dalam hidupku." Kemil menatap haru Kamelia. Dan kemudian kembali bangkit untuk mengambil Milka yang sudah tidak lagi menangis terlalu kencang.
"Hmmm anak Ayah pintar ya... Pasti kamu haus..." Kemil mengangkat Milka dan membawanya ke tempat tidur mereka untuk disusui Kamelia.
Selama bersama Kemil, Kamelia akan memunggungi suaminya itu untuk menyusui Milka. Dan Kemil begitu maklum akan hal itu.
"Sayang..." Kemil berusaha mengajak Kamelia berbicara, meskipun posisinya di belakang istrinya itu.
__ADS_1
"Iya, sayang..." Sahut Kamelia dalam posisinya pula.
"Kenapa kak Adan sebegitu menyayangimu?" Kemil memikirkan kakak iparnya. Dia merasa Ramdani terlalu berlebihan dalam menyayangi istrinya itu.
"Abung, kan kakak kandungku..." Sahut Kamelia. Dia terlihat keheranan akan pertanyaan Kemil yang tidak masuk akal baginya.
"Jadi begitu ya, rasanya punya kakak... Andai aku juga punya. Setidaknya saudara-lah." Kemil berandai-andai sambil menatap langit-langit kamarnya itu.
"Apa kamu baru saja iri denganku? Kalau begitu, kamu bisa anggap abung sebagai kakakmu sendiri, kan, sayang...?" Kamelia berusaha menghibur suaminya.
"Tidak maulah... Dia cuma sayangnya sama kamu. Kalau denganku menjadi ipar saja sudah menyebalkan, apalagi menjadi kakak. Hadeeeh..." Kemil menepuk jidatnya sendiri.
Milka akhirnya melepaskan dot alaminya yang ada pada tubuh Kamelia. Dia kembali tertidur lelap.
"Sudah, sayang... Tuh, lihat... Milka sudah kembali tertidur pulas." Kamelia memonyongkan bibirnya yang tipis kearah Milka yang sudah tertidur pulas di sampingnya.
"Biarkan saja Milka tidur disini bersama kita ya, sayang..." Ujar Kemil menatap wajah Bayi Milka yang membuatnya merasa damai.
"Memangnya tidak apa?" Kamelia mengerutkan dahinya.
"Tidak kenapa-kenapa kok, sayang... Kita shalat dulu yuk..." Kemil mengajak istrinya itu untuk shalat tahajud.
Kamelia tersenyum memandangi mata Kemil yang penuh perhatian. Dia merasa benar-benar bersalah saat itu.
"Sayang..." Kemil mengusap lembut pipi Kamelia yang terlihat melamun menatapnya.
__ADS_1
"Oh Eh iya, sayanga... Kenapa?" Kamelia tersentak.
"Shalat yuk..." Ajaknya lagi.
"Ayo..." Dengan semangat Kamelia menyahuti ajakan suaminya itu.
Hampir saban malam Kemil menunaikan ibadah malam semenjak bersama Kamelia. Meski sedang nifas kala itu, Kamelia dan Milka akan sentiasa menemaninya.
Begitu teduh melihat dua insan itu ketika menghadap kepada sang Khalik. Berbisik menjaharkan ayat-ayat sucinya. Bersujud dan memohon keridhaan. Menengadahkan wajah sambil menampungkan kedua tangan mereka ke langit.
Mereka begitu khusyuk mengutarakan doa-doa dan keinginan yang sama kepada Rabb mereka.
Terkadang mata mereka sampai mengeluarkan air bening ketika mengingat segala dosa dan penyesalan.
Ketika sang istri itu menyambut dan mencium punggung tangan suaminya dengan hati yang rela, dan suaminya akan membalas dengan mengecup kening sang istri.
Ketika kebahagiaan mereka bertambah dengan kehadiran bayi Milka ke tengah-tengah mereka.
.
.
.
.
__ADS_1