KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
RAHASIA ADIPATI ARAYAN


__ADS_3

Flashback On.


Adipati Arayan, ayah kandung Idris Arayan berdiri menghadap ke laut lepas senja itu. Dia berdiri dari jendela pintu kamar yang biasa ditempati oleh kaum hawa.


Terdapat disana tempat tidurnya yang beralaskan sprei bewarna mustard, warna yang serasi dengan cat dinding kamar itu dan dihuni beberapa boneka yang cantik dan lucu-lucu di atasnya.


Di dinding itu juga terpajang sebuah lukisan abstrak, yang sangat sulit dimengerti maknanya.


Wajah datarnya yang sangat sulit untuk diterka kala itu, membuat tubuh perempuan muda beranak satu yang tak lain bi Ina bergetar hebat.


Dia mematung di dekat pintu kamar, di belakang tuan besarnya.


"Ina..." Panggilnya lirih tanpa menoleh.


Matanya yang sayu mengeluarkan cairan bening dari dalamnya.


"Iya, tuan besar..." Sahut bi Ina dengan mengangkat wajahnya sedikit kearah Adipati yang memunggunginya.


"Bagaimana tanggapan penduduk desa terhadap Riantiku?" Tanyanya sambil menerawang jauh.


"Jangan dengarkan omongan penduduk desa, tuan besar... Mereka tidak tau apa-apa... Tapi saya yakin, dia sangat menghormati dan menghargai tuan besar." Sahut bi Ina dengan air mata yang berjatuhan.


"Walau bagaimanapun dia sudah melakukan kasalahan besar, Ina..." Ujar Adipati tegas.


"Tuan besar... Saya yakin sekali tuan besar akan menyesal jika tuan besar mengambil keputusan seperti itu. Non Rianti..."


"Sudahlah, Ina... Saya tau kamu bagai kakak olehnya. Dan kamu sangat menyayangi dia...

__ADS_1


Cukup kamu tau saja, dan tidak usah repot-repot memberitahukan kepada siapapun. Cukup ini menjadi rahasia sampai kapanpun. Karena dia sudah bukan bagian lagi dalam hidup saya." Tampak sekali dia begitu berat mengucapkannya. Namun sebuah kekecewaan yang membuat Adipati Arayan harus terpaksa mengatakannya.


"Tapi, tuan besar..." Bi Ina berusaha kembali untuk protes.


"Sudah... Cukup, Ina... Saya sudah tidak ingin mendengar apa-apa lagi." Dia mengangkat sebelah tangannya agar Bi Ina tidak lagi membela perempuan yang mereka bicarakan.


Adipati meminta bi Ina meninggalkannya sendiri di ruangan itu.


****


Flashback Off.


"Maafkan bibik, non Kamel... Bibik sudah berjanji kepada tuan besar untuk menyimpannya. Jika non harus tau, maka orang tua kalianlah yang akan memberitahukannya nanti... Bibik tidak berhak, non. Dan bibik juga yakin non akan kecewa mengetahui kenyataannya nanti." Gumam wanita paruh baya itu lirih.


Dia duduk di tepi tempat tidurnya sambil sesekali mengusap air matanya.


Pintu kamar bi Ina diketuk seseorang dari luar, dengan bergegas dia mengusap kasar pipinya untuk menghapus sisa-sisa air matanya itu.


Bi Ina tergopoh-gopoh membukakan pintu kamarnya.


"Non Kamel..." Ketika daun pintu kamar itu ditariknya. Dia mendapati Kamelia telah berdiri di depan pintu itu dengan membawa sepiring sarapan dan segelas minuman di atas nampan.


"Bik Ina... Ini Kamel bawain sarapan." Ujar Kamelia sambil tersenyum.


"Aduh, non... Kenapa non repot-repot? Bibik bisa ambil sendiri kok, non." Ujar bi Ina tidak enakan.


"Tidak apa-apa kok, bik... Bik Ina istirahat saja dulu." Kamelia menyodorkan nampan itu kepada bik Ina.

__ADS_1


"Terima kasih ya, non..." Bi Ina menyambut nampan itu dari tangan Kamelia.


"Oh ya, bik... Pagi ini seusai sarapan, Kamel dan Milka akan ikut Kemil ke pabrik. Bik Ina tidak apa Kami tinggal? Nanti siang sebelum Dzuhur kami pulang." Tanya Kamelia sedikit Khawatir.


"Tidak apa-apa kok, non... Lagian bibik baik-baik saja, non." Sahutnya merasa tidak keberatan sama sekali.


"Baiklah kalau begitu, bi... Kalau ada apa-apa, bibi hubungi saja Kemil ya, bik... Soalnya ponsel Kamel tertinggal kemaren di rumahnya Fitria." Tutur Kamel.


"Baik, non... Non hati-hati ya..." Sahut Bi Ina.


"Iya, bik..." Kamel memutar tubuhnya hendak berlalu dari posisinya berdiri. Namun sekelabat dia melihat foto bi Ina bersama mamanya Toni terpajang di dinding kamar itu, dengan spontan dia menghentikan langkahnya dan menatap lekat kesana.


Bi Ina yang menyadari hal itu, dengan segera menutup pintu kamarnya.


"Maafin bibik, non..." Gumamnya lirih sambik bersandar di belakang pintu kamarnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2