
Lantunan ijab qabul di kediaman sahabat Kamelia terdengar menyayat hati siapapun orang di ruang itu. Ramdani mampu mengucapkannya dalam satu tarikan napas saja, sehingga membuat tangis kebahagiaan pecah disana.
Kamelia ikut terharu dengan kebahagiaa kakak dan sahabatnya itu. Cuma berawal dari dia sering mengajak Fitria pergi menemaninya ke desa untuk berlibur ke rumah orang tuanya selama dia di kota kala itu. Hingga sampai kakak dan sahabatnya saling jatuh cinta dan pada akhirnya memutuskan untuk menikah.
Meski sudah sering bertemu, namun Fitria dan Ramdani terlihat kikuk pada hari itu. Bahkan sangat terlihat ketika Fitria menyambut tangan Ramdani seusai kata sah keluar.
Tidak terlalu sulit bagi dua keluarga itu untuk saling beradaptasi satu sama lain. Tidak hanya Fitria, Kamelia pun juga sering berkunjung ke rumah keluarga Fitria untuk menemaninya. Apa lagi rumah Fitria tidak terlalu jauh dari kota tempatnya ngekos.
"Kakak ipaaar..." Kamelia segera memeluk sahabatnya itu dengan panggilan yang sesuai dengan syarat dari Fitria kala itu. Meski dia tahu Fitria hanya bercanda mengajukan syarat itu kepadanya.
"Aah... Kameeel..." Fitria membalas pelukan Kamelia dengan sedikit hati-hati karena Milka berada dalam gendongan Kamelia. "Terima kasih, Kamel... Kamu adalah jembatan yang dibentangkan Allah untuk mempertemukanku dengan kak Ramdani menuju masa halal kami." Bisik Fitria sambil tersenyum bahagia. Air mata pun juga ikut mewakili perasaan bahagianya kala itu.
"Aku bahagia bisa menjalin hubungan yang lebih dari hanya sekedar sahabat denganmu, Fit. Berjanjilah untuk selalu bersabar menghadapi abung. Meski abung termasuk salah satu hero bagiku, tetapi dia juga manusia biasa yang juga bisa salah..." Kamelia melepaskan pelukan Fitria dan mengusap bahu sahabatnya itu dengan lembut.
Terima kasih, sayang... Meski Abung pernah gagal melindungi kamu, tapi abung percaya Kemil akan melindungi Kamu lebih dari Abung melindungi kamu selama ini.
Dan Abung juga janji akan jaga mama beserta sahabatmu yang sekarang telah menjadi istri abung...
Ramdani terus saja menatap dua sahabat itu dan mendengar bisik-bisikan mereka.
__ADS_1
Sudah hampir waktu zuhur, semua keluarga dan kerabat yang hadir bersiap-siap untuk menunaikan shalat terlebih dahulu sebelum ke acara pesta resepsi yang akan diadakan setelahnya.
Bagi kaum laki-laki, mereka pergi ke masjid yang berada tidak terlalu jauh dari rumah itu. Sedangkan kaum wanitanya bergantian mengerjakannya di rumah.
***
Setelah semua selesai melakukan shalat zuhur, tetamu mulai berdatangan memenuhi taman belakang tempat pesta berlangsung.
Taman yang lumayan luas dan begitu indah karena dihiasi dekorasi pesta pernikahan Ramdani dan Fitria.
"Untuk apa aku memakai gaun ini, Fit?" Kamelia begitu bingung dengan permintaan sahabatnya.
"Ini, kan gaun impian kamu dulu, Kamel..." Fitria begitu gigih memaksanya untuk memakai gaun pernikahan yang dulu memang sangat diimpikannya.
"Jika kamu tidak mau, aku juga tidak mau memakai gaunku." Fitria merengut dan menghenyakkan pantatnya ke kasur kamar itu.
"Pakai saja, nak... Demi Fitria dan abungmu." Tiba-tiba Maya masuk ke ruangan tempat mereka berdebat sedari tadi.
"Ya sudah, aku pakai sekarang..." Akhirnya Kamelia memakainya dengan enggan dan itu membuat Fitria terlihat kembali berbinar.
__ADS_1
Kemil dan Kamelia terkesiap ketika memasuki taman itu dari arah yang berbeda. Mereka saling menatap satu sama lain. Namun Kemil menajamkan tatapannya seakan terpesona dengan kecantikan Kamelia yang telah menjadi istrinya kala itu.
"Kamu kenapa memakai baju begituan?" Kamelia menatap heran namun juga ikut terpesona melihat tubuh ideal itu memakai pakaian pengantin pria yang serasi dengannya.
"Lah... Kamu sendiri?" Kemil malah balik bertanya.
"Fitria memaksaku..." Sungut Kamelia.
"Aku juga dipaksa kak Adan.." Kemil mengalihkan pandangannya kearah Ramdani. Sedangkan Ramdani membuang pandangannya kearah lain seolah pura-pura tidak tahu.
Diam-diam selama itu Ramdani dan Fitria beserta keluarga mereka telah menyiapkan kejutan di hari ulang tahun Kamelia.
Tidak hanya itu, mereka sengaja tidak memberitahukan kepada Kemil karena Kemil termasuk bagian dari rencana mereka. Mereka ingin Kemil menikmati hari pernikahannya bersama Kamelia dengan perasaan yang bahagia. Tidak seperti pernikahan sebelumnya, Kemil yang terlihat terpaksa menikahi Kamelia karena kondisi Kamelia kala itu.
.
.
.
__ADS_1
.
.