
"Apa kamu senang?" Kemil menatap senyuman indah bak cakrawala di wajah Kamelianya.
"Karenamu... Aku senang karenamu, Kemil..." Kamelia menatap kosong ke seberang laut yang ada di hadapan mereka. Tangannya sibuk mengelus lembut perutnya yang membuncit.
Kemil menautkan kedua alis matanya karena bingung.
"Karenaku?" Telunjuknya mengarah ke dadanya yang bidang seolah tidak mengerti maksud Kamelia.
Kamelia mengangguk, sejenak dia menoleh kearah Kemil yang tengah duduk di sampingnya.
Setiap senja, Kemil selalu membawa istrinya itu melihat cahaya jingga di tepi pantai pertama mereka bersama. Karena setiap harinya Kemil sudah mau bekerja di pabrik teh ARAYAN. Kemil sudah menampakkan dirinya yang bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Dan itu membuat Idris dan Rahmah menjadi bangga kepadanya. Meski Rahmah tidak tahu alasan pasti suaminya, tapi sekarang dia sudah tahu mana yang terbaik untuk Kemilnya. Dan dialah Kamelia.
"Dari awal pernikahan kita, aku hanya bagai benalu di rumahmu, dan juga dalam hubunganmu bersama Misya..." Kamelia menjeda ucapannya. Dia kembali menatap indahnya ciptaan sang Khalik di ufuk barat sana.
Kemil memang tidak menyukai perkataan Kamelia barusan, tapi tidak bisa dipungkirinya tentang hubungannya bersama Misya. Entah bagaimana kabar gadis itu. Dia pun sudah tidak pernah mendahului untuk berkomunikasi dengan gadis itu lagi. Tetapi sangat jarang pula mengangkat telepon dan membalas pesan dari Misya. Lebih tepatnya Kemil enggan melanjutkan hubungannya bersama gadis yang pernah membuat dirinya dulu penasaran.
"Aku senang... Waktu telah membawaku hampir ke delapan bulan kehamilanku. Setelah itu aku akan pergi. Kamu telah lebih dari menepati janjimu untukku, Kemil." Mata Kamelia yang bulat kembali menampakkan telaga bening disana.
__ADS_1
" Mamamu... Papamu... dan bahkan seluruh waktumu... Aku bersyukur mengenalmu lebih awal, sehingga begitu mudah beradaptasi dengannya. Kebahagiaan yang aku rasakan juga membawa dampak baik bagi anakku." Tangannya terus mengelus lembut kulit perutnya yang mulai tipis karena membuncit.
Kemil merebahkan kepalanya ke paha Kemelia yang berselonjoran di atas pasir pantai. Kamelia tersentak dan merasa canggung. Dia begitu salah tingkah dengan sikap Kemil kepadanya.
"Kemil... Kamu..." Kamelia hendak protes. Namun tangan Kemil bergerak lembut di perutnya. Dia merasa bukan hanya dirinya yang merasakan kenyamanan saat itu. Tetapi makhluk bernyawa yang hidup di dalam perutnya itu juga merasakan hal yang sama dengannya. Dua detak jantung dalam tubuhnya bermain seirama seiring gerak tangan Kemil di perut kamelia.
"Bolehkah aku meminta kewajibanmu?" Kemil bertanya lirih seakan bernada memohon.
"A-apa?" Kamelia kebingungan.
"Aku ingin menjadi ayah untuk anakmu selamanya, Kamel..." Air mata Kamelia jatuh tanpa permisi dan hinggap ke pipi Kemil. Dia tidak menjawab. Dia bagai patung, terdiam seperti kena kutukan penyihir ketika mendengar permintaan Kemil kepadanya.
Kemil meraih kedua tangan Kamelia dan menatap lekat wajah cantik Kamelia yang sedikit menyembab dan memerah karena kehamilannya itu.
"Bolehkah aku menjadi ayah dan memberi nama untuk anak yang ada dalam rahimmu, Kamel?" Ulangnya dengan sungguh-sungguh.
Terpancar ribuan harapan di dalam mata Kemil yang ideal karena sipitnya. Wajah kejujuran yang penuh cinta membuat Kamelia merasa bagai di tiupkanangin surga olehnya.
__ADS_1
Kamelia tetap tidak menjawab. Dia menatap dengan sendu wajah Kemil yang berharap banyak kepadanya. Keserakahan yang dimilikinya agar bisa bersama Kemil selamanya hendak dibuangnya jauh-jauh. Meski hatinya ingin dan tidak menolak, tetapi mulutnya enggan untuk mengatakan boleh.
Dia masih bingung dengan Kemil kecilnya yang telah menjelma menjadi sosok yang dewasa itu. Dia juga terpikir akan Misya dan perkataan Kemil yang pernah menghinanya. Dan dia juga memikirkan ayah dari bayi yang dikandungnya saat itu.
Kamelia bagai dilema dan galau dengan perasaannya yang membunuh.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.