KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
BERPAMITAN


__ADS_3

"Assalamu'alaikum..." Suara Toni yang menggelegar terdengar dari pintu utama kediaman Arayan. Tangannya yang kekar mendorong kursi roda yang diduduki neneknya, mamanya Bram.


"Wa'alaikumussalam..." Jawaban hampir serentak terdengar dari dalam rumah.


Sudah lebih dari setahun kepergian Bram dalam hidup mereka. Semua telah banyak yang berubah, kecuali sikap Kamelia yang masih dingin terhadap Toni.


Milka tertatih-tatih menghampiri Toni ke pintu utama rumah itu.


"Pap-paaah..." Suaranya yang nyaring terdengar menambah hiruk-pikuk kediaman Arayan. Kedua orang tua Kamelia beserta kakak dan kakak iparnya juga kebetulan berada disana untuk sekedar bertamu.


Fitria terlihat senang melihat keceriaan Milka, perutnya yang membuncit terus saja dielusnya ketika matanya dengan liar memandangi Milka kecil yang sudah pandai berjalan dan berbicara sedikit demi sedikit.


Agung dan Idris beserta semuanya segera menyambut kedatangan nenek Toni yang sudah dianggap orang tua mereka.


"Wah... Langkah baik bagi Toni om." Ujar Toni sembari memposisikan neneknya ke samping tempat yang akan didudukinya.


"Iya Ton... Kebetulan kami berkunjung... Fitria katanya sangat merindukan Milka dan Kamelia." Saut Agung ramah.


Percakapan yang terjadi diantara mereka tidak lain hanyalah basa-basi keluarga. Sedangkan Milka sibuk berbincang riang dengan nenek papanya.

__ADS_1


Tatapan mata Toni menandakan keberatan dengan apa yang ada dalam pikirannya saat itu.


"Om Agung... Om Idris... Tante Maya... Tante Rahmah..." Toni menitipkan nafasnya yang berat pada setiap nama yang dipanggilnya. Semua mereka menatap heran ke arah Toni. Tetapi mereka juga menunggu apa yang akan diutarakan oleh pemuda itu.


"Toni mau minta maaf lagi kepada kalian semua, terutama Kamelia. Toni tau... Toni tidak akan bisa menebus semua kesalahan Toni.


Tapi hal yang paling jujur dan buruk pada diri Toni, Toni bersyukur atas kehadiran Milka. Dan Toni berterimakasih kepada Kemil telah menjaga Milka dan mengizinkan Toni menjadi papanya juga.


Setelah lebih dari setahun ini, Toni benar-benar mantap memutuskan untuk ikut bersama nenek. Toni harus memenuhi permintaan terakhir papa... Disini Toni juga tidak melakukan apa-apa yang sangat berarti. Toni hanya menghabiskan apa yang ada saja.


Toni diminta nenek mengurus perusahaan almarhum kakek bersama om Bobi, suaminya tante Chellin." Ujar Toni lirih. Matanya berkaca-kaca melontarkan niatnya itu.


"Iya Ton... Jika kamu butuh sesuatu, kamu wajib menghubungi kami." Timpal Idris.


"Kemil... Kamel..." Toni menatap sendu ke arah Kemil dan Kamelia. "Bolehkah aku mengunjungi Milka nantinya?" Tanyanya lirih.


Kemil terdiam sesaat. "Kami bahkan tidak punya hak melarang mu menemui Milka Ton..." Ujar Kemil seraya menggenggam Kamelia yang berada di sampingnya. Kamelia tersenyum tipis sembari mengangguk pelan.


"Dan rumah ini adalah rumahmu juga Ton... Kamu wajib menyilau-nya setiap saat." Tambah Idris kemudian.

__ADS_1


"Terimakasih Kemil... Kamel... Aku dan nenek akan berangkat siang ini juga." Ujar Toni lagi sambil melirik ke arah neneknya yang masih bermain bersama Milka kecilnya.


"Apa harus siang ini?" Mata Maya berkaca-kaca mendengar keputusan lelaki yang sudah dianggapnya sebagai anak.


"Iya Tante... Toni besok sudah mulai mengurus perusahaan. Toni juga berniat membangun villa di tanah kosong kakek Adipati yang sudah om serahkan kepada Toni waktu lalu. Apa om dan Kemil tidak keberatan untuk itu?" Tatapan matanya yang sayu mengarah kepada Idris penuh harap.


"Tentu nak... Om dan kemil tidak keberatan. Om malah bangga sama kamu untuk itu. Kami semua menantikan pengerjaannya." Idris melirik Kemil seolah minta persetujuan dari kata-katanya.


"Iya Ton... Aku sama berharapnya sama papa... Kalau dibolehkan, kami akan mampir ke tempatmu jika ada peninjauan konsumen disana" Saut Kemil dan diangguki oleh Kamelia.


"Dengan senang hati Kemil... Aku sangat senang untuk itu." Raut wajah Toni tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang begitu riang mendengar penuturan Kemil.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2