KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
KEMARAHAN


__ADS_3

Setelah melewati malam yang begitu panjang di rumah besan sahabatnya, Agung. Idris begitu bersemangat kembali ke desa mereka.


Semalam dia ingin pulang bersama anak menantunya, namun tidak diperbolehkan oleh mereka.


Hendak menyusul bersama kerabat Agung dan Maya, tetapi akan sulit pula untuk mendapatkan tumpangan jika hendak ke desanya dari perbatasan.


Dengan berat hati Idris dan Rahmah menunggu pagi bersama keluarga Agung.


Setelah berpamitan haru kepada keluarga Fitria, mereka akhirnya berangkat membawa istri Ramdani itu sekalian.


Selain untuk mengantarkan mertua adiknya, Ramdani berniat untuk membuat perhitungan kepada Toni.


Mereka berenam menumpangi satu mobil yang sama ke desa. Ramdani sendiri yang menyupiri mobil itu.


Sepanjang perjalanan, tidak terlalu banyak suara yang mereka ciptakan. Fitria yang biasanya pemilik suara paling banyak, kali itu tampak diam saja. Dia masih merasa malu dengan kakak sahabatnya yang telah berubah status menjadi suaminya itu.


Hampir lima jam perjalanan, mereka sampai di kediaman Arayan.


Mereka tidak mendapati Kamelia di rumah saat itu. Bi Ina memberitahukan kepada mereka bahwa Kemil mengajak Kamelia beserta Milka ikut dengannya ke pabrik tadi pagi.


Ramdani bergegas meminjam ponsel papanya untuk menelpon Toni. Karena dia tidak memiliki nomor lekaki itu.


Dengan garang, Ramdani meminta Toni untuk segera datang ke kediaman Arayan.


Tak lama, bi Ina datang dengan tergopoh-gopoh dari dapur membawa minuman untuk tamu tuannya.


"Tuan... Bisakah bibik bicara sebentar?" Pinta bi Ina kepada Idris setelah menyuguhi minuman yang dibawanya kepada semua tamu di rumah itu.


Kala itu Idris baru saja menghenyakkan pantatnya di sofa ruang utama itu beserta keluarga sahabat yang sekaligus menjadi besannya itu.

__ADS_1


Semua mata menatap heran kearah bi Ina. Namun tidak satupun yang berani untuk bertanya.


"Baiklah, bik... Mari ikut saya..." Perintah Idris menuju ke ruangan lain.


Disana bik Ina menceritakan semua yang dipertanyakan oleh Kamelia kepadanya pagi tadi. Bahkan ketika Kamelia melihat foto di kamarnya bersama Rianti. Bik Ina juga menceritakan bahwa Kamelia menemukan foto Rianti bersama papanya di kamar yang pernah dihuni Kamelia sebelumnya. Bik Ina juga tidak lupa menceritakan Kamelia telah mengetahui bahwa Rianti itu adalah mamanya Toni.


Idris begitu terkejut mendengar penuturan bi Ina.


"Lalu bik Ina menjawab apa?" Tanya Idris sedikit keras karena masih berada dalam keterkejutannya.


"Bibik tidak menjawab apa-apa, tuan... Sepertinya non Kamelia tidak akan menyerah untuk mencari tahu yang sebenarnya, tuan..." Ujar Bik Ina dengan raut wajah yang gelisah.


"Ya sudah, bik... Terima kasih bibik sudah memberitahukan kepada saya dan juga bibik sudah tutup mulut untuk hal ini." Ujar Idris.


"Sama-sama, tuan..." Sahut bik Ina.


Idris kembali ke ruang utama untuk memanggil Agung.


Idris menceritakan apa yang diceritakan bi Ina kepadanya barusan.


"Mungkin sudah sepatutnya mereka mengetahuinya, Id..." Sahut Agung.


"Aku hanya takut Kamelia tidak bisa menerima kenyataannya nanti, Gung..." Ujar Idris bingung.


"Aku bahkan sampai tidak berpikir kesana, Id..." Ujar Agung mulai mengkhawatirkan putrinya.


"Aku tau itu, Gung... Rasa bersalah yang seharusnya tidak kamu miliki membuatmu begitu kasihan kepada anak itu. Percayalah Gung, ini bukan salahmu." Idris mencoba menghapus sebuah bayangan masa lalu yang menghantui sahabatnya itu.


"Tapi tetap saja aku yang salah, Id..." Ujar Agung lirih.

__ADS_1


Di saat mereka berbincang, tiba-tiba mereka mendengar keributan dari arah ruang utama.


Dengan segera mereka berlarian ke ruangan itu.


"Adaaannn..." Seru Agung lantang.


Ramdani yang mengepalkan tinjunya hendak melayangkannya ke wajah Toni, dengan segera menurunkan paksa tangannya lagi ketika mendengar teriakan papanya.


Kaum perempuan begitu histeris melihat kemarahan Ramdani terhadap Toni yang baru saja datang.


"Kamu apa-apaan, Adan?" Hardik Agung seraya menghampiri putranya itu.


"Terus... Terus saja papa pertahankan kesalahannya. Sampai Adan bingung... Kamelia itu putri kandung Papa atau tidak." Ujarnya memanas.


Agung mengangkat tangannya hendak menampar Ramdani. Dengan cepat Toni menahannya.


"Jangan, om... Wajar kak Adan marah kok, om... Toni maklum itu." Ujarnya.


"Ciihh..." Ramdani seakan jijik mendengar ucapan Toni.


"Sudah... Sudah... Duduklah... Mereka sudah datang." Idris menengahi mereka.


Mereka yang melihat mobil Kemil memasuki pekarangan rumah itu, dengan cepat mengatur posisi duduk mereka.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2