KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
KEYAKINAN


__ADS_3

Sudah hampir menjelang Dzuhur, Kemil masih berkutat di depan layar laptopnya.


Sesekali Kamelia memerhatikannya dari sofa. Dia pun seakan enggan mengganggu kesibukan suaminya itu. Kamelia lebih memilih mengajak putrinya untuk mengobrol bersamanya. Mendengarkan ocehan Milka membuat dia lupa akan pemikiran-pemikiran buruknya.


Hanya gara-gara ucapan Misya dan ditambah lagi dengan perkataan dari pekerja, pikiran Kemil menjadi terganggu sedari tadi. Sehingga seharusnya pekerjaan itu telah selesai, tetapi malah semakin menumpuk jadinya.


Meski begitu, Kemil harus segera menyelesaikan pekerjaannya dalam dua hari itu.


"Alhamdulillah..." Kemil mengusap kasar wajahnya dan menghenyakkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya itu.


Kemil dengan segera membereskan mejanya dan menutup kembali laptopnya.


Dia bergerak kearah Kamelia dan Milka.


"Suntuk ya, sayang...?" Kemil menciumi pipi istrinya dengan manja.


"Tiiidak... Aku senang bisa melihatmu duduk disana sambil bekerja." Ujar Kamelia. "Kamu bahkan terlihat tampan..." Wajah Kamelia bersemu. Dia memuji suaminya dengan pelan sambil tersenyum malu.


"Apa? Kamu bilang aku apa tadi, sayang?" Kemil pura-pura tidak mendengarnya agar Kamelia mau mengucapkannya sekali lagi.


"Tiiidak... Aku tidak bilang apa-apa." Wajah Kamelia semakin memerah dibuatnya.


"Milka Aaayah... Si cantiknya Aayaah. Tadi ibu bilang ayah tampan lo, sayang." Kemil menciumi Milka yang berada di pangkuan istrinya.


"Itu kamu dengar..." Sungut Kamelia. Wajahnya semakin merona ketika Kemil mengulangi perkataannya.


"Iya, aku dengar... Tapi aku ingin kamu mengulanginya sekali lagi. Biar wajahmu semakin merah kayak udang direbus." Ujar Kemil sambil tertawa dan mencubit lembut pipi Kamelia.


"Iiih... Kamu apaan sih, sayang. Sakit tau..." Kamelia merengut. Bibir bawahnya mampu menutupi bibir atasnya yang tipis itu.


"Yok, sayang, kita pulang..." Ajak Kemil.


"Pekerjaanmu sudah selesai, kah?" Kamelia terheran-heran. Dia tahu betul banyaknya pekerjaan Kemil tadi. Ditambah hari kemarin dia juga tidak ke pabrik.


"Sudah dong, sayang. Aku ini, kan KEMIL IZDAN ARAYAN." Ucap Kemil membangga.


"Lalu? Apa hubungannya?" Kamelia menatap aneh dengan alis yang ditinggikannya kearah Kemil.

__ADS_1


"Biasa aja dong, sayang... Lobang hidungnya tidak perlu dibesarin seperti ini juga." Kemil mencubit hidung Kamelia dengan gemas.


"Aduuuh saakiit..." Rengut Kamelia.


"E eh.. Milka ketawa. Lihat sayang, Milka ketawa tuh... Lesung pipinya dalam sekali..." Kemil mengambil Milka dari tangan Kamelia dan menghujani bayi mungil itu dengan kecupan di wajahnya.


Milka menggeliat geli karena tingkah ayahnya. Berkali-kali dia mengusap hidungnya dengan jemarinya yang lembut. Bibir mungilnya yang terkatup sibuk berputar sedari tadi.


Sembari Milka bersama Kemil, Kamelia merapikan barang-barang Milka dan memasukkannya kembali ke dalam ranselnya.


"Sudah adzan, sayang..." Seru Kamelia ketika mendengar sayup-sayup suara Adzan yang berkumandangan.


"Iya, kah?" Kemil menajamkan pendengarannya. "Ya sudah... Kita shalat disini saja dulu ya, sayang. Habis itu baru kita pulang." Kamelia mengangguki ajakan suaminya itu.


Karena Milka tidak rewel saat itu, mereka melaksanakan Shalat Dzuhur berjamaah di ruang kerja Kemil yang cukup luas.


***


Kemil membelokkan mobilnya ke dalam pekarangan rumahnya.


"Sayang... Ternyata mereka sudah sampai." Kemil sedikit ragu untuk turun dari mobilnya. "Apa kamu yakin akan menanyakannya langsung?" Kemil semakin takut dengan rahasia-rahasia orang tua mereka.


"Aku yakin, sayang... Aku sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi." Sahut Kamelia penuh kepastian.


"Aku takut jika itu hanya akan menimbulkan masalah baru, sayang." Ucap Kemil lirih.


"Tapi aku juga merasa kasihan sama mamanya Toni, sayang... Aku seakan jahat jika berusaha untuk menguburnya. Walaupun sebenarnya juga takut untuk menggalinya." Kamelia kembali ke dalam keraguan.


"Oke... Apapun keputusan kamu, aku dukung. Tapi berjanjilah. Jangan pernah pergi dariku meski sesakit apapun kenyataan yang akan kita hadapi." Kemil menggenggam erat tangan Kamelia.


Kamelia menatap sendu kearah Kemil. Kemudian dia menganggukkan permintaan Kemil.


"Bagaimana mungkin aku bisa jauh dari kamu setelah kamu beri aku rasa ternyaman dalam hidupku sayang?" Ujar Kamelia lirih.


"Terima kasih, sayang... " Kemil mengecup tangan Kamelia yang sedari tadi belum dilepasnya.


Mereka turun setelah mengatur ekspresi wajah mereka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..." Kamelia dan Kemil masuk ke dalam rumah itu. Di ruang utama, keluarganya telah menunggu sedari tadi. Disana juga sudah duduk Toni bersama mereka.


Mereka menyahuti salam dari suami istri itu.


Idris dan Agung menatap tajam penuh arti kepada Kemil dan Kamelia.


Meskipun begitu, semua dari mereka tidak ada yang tahu arti dari tatapan dua orang sahabat itu kepada anak dan menantu mereka.


Bi Ina mendekati Kemil dan Kamelia yang masih berdiri kebingungan di ambang pintu.


"Sini non, nona kecilnya biar bibi yang pegangin." Tawar bi Ina sambil mengangkat kedua tangannya. Ada raut takut pada wanita paruh baya itu.


Kamelia yang tidak mengerti segera menurut. Dia memberikan Milka kepada bi Ina.


Bi Ina dengan segera masuk ke dalam membawa Milka bersamanya dan meninggalkan keluarga itu.


"Duduklah..." Perintah Idris dengan tenang dan dingin.


Wajahnya begitu datar dan tidak menampakkan raut bersahabat sama sekali.


Kamelia dan Kemil menurut. Mereka bergandengan tangan menuju ke sofa ruangan itu.


Meski hampir lima menit mereka bertanya-tanya di dalam hati, bamun Idris belum berniat untuk menjawab pertanyaan mereka.


Wajahnya berangsur-angsur sendu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2