
Subuh itu Kamelia terbangun dari mimpi indahnya semalam. Tubuhnya sedikit merasa sakit akibat terjangan yang mengesankan dari Kemil, suaminya.
Dia tersenyum mendapati tangan Kemil melingkar di pinggulnya yang kembali mulai ramping pasca melahirkan. Tubuhnya yang belum berbalut apa-apa membuat wajahnya memerah subuh itu.
Aku tau, semalam itu adalah pertama bagimu, sayang. Aku sungguh beruntung memiliki suami sepertimu.
Aku mencintaimu...
Terima kasih, Rabb... Kau izinkan aku memandang wajahnya ketika aku terbangun dari tidurku... Dan mengucapkan kata cinta setiap kali aku memandangi wajahnya...
Betapa aku takut pada-Mu, jika pemberian- Mu lebih aku cintai daripada mencintai-Mu...
Tuntun cinta kami, Rabb... Menuju keridhaan-Mu...
Kamelia bergeser sedikit ke tepi tempat tidurnya. Alangkah senangnya dia mendapati pakaiannya tergeletak di atas lantai yang tidak terlalu jauh dari tempat tidurnya itu.
Dia mencoba dengan susah payah menggapai pakaiannya. Dan pada akhirnya berhasil juga meski membuat dadanya sedikit sesak.
Meski sedikit ribut, namun tidak mampu membangunkan Kemil dari tidur lelapnya.
Setelah Kamelia memasang bajunya, Kamelia mengecup kening suaminya dan beranjak menuju ke kamar mandi ruangan itu.
Baru saja Kamelia selesai mandi dan memakai pakaiannya, alarm terbaiknya terdengar mendayu.
Kemil yang tertidur pulas ikut terbangun karenanya.
"Apa sudah subuh, sayang...?" Kemil mengerjapkan matanya dan mengucek matanya itu untuk mengusir rasa kantuknya.
Kemil menyingkap sedikit selimut yang melilit tubuhnya. Dia tersenyum mengenang moment mereka semalam.
"Hampir subuh, sayang... Apa kamu mau ke Masjid?" Kamelia menggendong Milka dan membawanya ke atas tempat tidur mereka.
"Hu'um..."Sahut Kemil mengiyakan. Dia berusaha bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
Kamelia menyodorkan handuk kepada Kemil untuk dipakainya ke kamar mandi. Dan juga langsung menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu.
"Terima kasih, sayang..." Ujarnya sambil meraih handuk yang disodorkan Kamelia. Kamelia menyahuti dengan senyum termanisnya.
Setelah Kemil turun dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi, Kamelia kembali mengurus Milka.
Dia mengganti popok Milka yang baru saja terlihat basah. Dan kemudian menyusukan bayi mungilnya itu sambil membelakangi arah kamar mandi.
Kamelia khawatir jika Kemil tiba-tiba saja keluar dari sana. Dan benar saja, belum Milka selesai menyusu, Kemil sudah keluar dari kamar mandi.
"Sayang..." Panggil Kemil yang baru saja keluar.
"Hmmm..." Sahut Kamelia bergumam.
"Sudah adzan, kah?" Tanya Kemil sambil memakai pakaiannya.
"Belum, sayang... Sebentar lagi mungkin. Waktu juga sudah hampir." Ujar Kamelia dari posisinya.
Kemil bergerak memutari tempat tidur itu untuk melihat wajah istrinya.
"Loh... Aku mau kecup Milka lah..." Sahut Kemil tanpa dosa.
"Nanti... Aku maluuuu..." Ujar Kamelia dengan wajah memerah.
Kemil tersenyum jahil mendapati reaksi istrinya.
"Kamu masih saja malu denganku, sayang...?" Kemil menggoda istrinya yang terlihat semakin merona karenanya.
"Iih, sayang... Sanaaa..." Rengut Kamelia.
"Nah tuh... Tuh... Sudah adzan, sayang..." Ujar Kamelia memberitahukan suaminya itu. Dia berharap Kemil tidak lagi menggodanya.
"Iya... Iya, sayang... Aku ke mesjid dulu ya... Assalamu'alaikum." Kemil keluar dari pintu kamar itu setelah mendapatkan jawaban salamnya dari istri cantiknya, Kamelia.
__ADS_1
Sepeninggal Kemil, Milka juga menyelesaikan menyusunya dan kembali tertidur disana. Kamelia pun langsung menunaikan ibadah shalat subuh di kamar itu.
Ketika Kamelia masih berada dalam sujudnya yang kedua rakaat, Kemil sudah kembali dari masjid.
Kemil duduk di samping Kamelia. Dia menunggui istrinya hingga salam.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..." Kamelia melirihkannya ketika menoleh ke kanan dan ke kirinya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..." Kemil tersenyum sambil menyodorkan tangannya kepada Kamelia.
Kamelia menyambut tangan suaminya itu dan kemudian mengecupnya. Kemil membalas dengan mengecup kening Kamelia.
Yaa Allah...
Jika hamba tau senikmat dan sedamai ini rasanya menikah karena mengharapkan ridha-Mu... Mungkin hamba akan memimpikannya sedari dulu...
Betapa baiknya Engkau mengamanahkan Kamelia untukku yaa Rabb...
"Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii 'alaa diinik..." Kemil mengecup tangan istrinya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aamiin yaa rabbal 'alamiin..." Tangan kiri Kamelia menyentuh pipi Kemil ketika suaminya itu mengecup tangan kanannya dengan lama.
Kemil menarik bahu istrinya, dan membenamkannya ke dalam dekapannya yang begitu hangat. "Terima kasih, sayang... Kamu sudah mau bersabar menghadapi sikapku yang buruk." ujar Kemil.
"Terima kasih juga, sayang... Untuk semua-semua kebahagiaan ini." Sahut Kamelia lirih dari dalam dekapan Kemil.
Mereka semakin saling menguatkan pelukan mereka untuk merasakan kedamaian lebih pada hati mereka masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
.
.