
Ramdani membawa Kemil menjauh dari adik dan mamanya. Awalnya Kemil sempat dibuat bingung juga oleh kakaknya Kamelia. Tetapi dia hanya perlu menurut, begitu pikirnya.
"Kemil... Apa kamu benar-benar mencintai Kamel?" Ramdani langsung mempertanyakan sendiri kepada Kemil. Sebenarnya dia tidak butuh kata-kata atau jawaban lagi dari Kemil. Dia bahkan sudah melihat sendiri bagaimana Kemil memperlakukan adiknya, dan bagaimana Kemil mampu menangis di depan keluarganya dan keluarga istrinya hanya karena Kamelia.
Tetapi sikap papanya membuat dia tetap harus memastikan sendiri bagaimana perasaan Kemil yang sebenarnya.
"Apa perasaan Kemil masih pantas untuk diragukan, Kak?" Benar saja. Kemil seakan tidak terima untuk ditanyai hal semacam itu lagi.
"Bukan begitu, Kemil..." Ramdani merasa bersalah terhadap adik iparnya itu.
"Lalu kenapa, kak? Ribuan kali pun orang-orang bertanya tentang perasaan Kemil terhadap Kamel... Perasaan Kemil tidak akan pernah berubah." Kemil begitu yakin dengan ucapannya.
"Di dalam rahim Kamelia, ada darah daging lelaki lain... Saat ini dia mungkin belum terlahir. Tapi jika kelak dia sudah hidup dan berkecimpung denganmu dan keluargamu, bagaimana?" Ramdani terus saja mencari celah keraguan Kemil terhadap adiknya hingga dia tahu bahwa memang tidak ada sedikitpun celah disana.
"Kemil tidak pernah peduli siapapun ayah dari bayi yang dikandung Kamelia. Kamelia adalah istrinya Kemil... Jadi, anak yang dikandung Kamelia jelas adalah anaknya Kemil juga." Tidak sedikitpun keraguan yang tersembunyi di balik kata-kata Kemil.
"Dan Kemil berjanji akan menutupi itu semua dari siapapun, kak... Kemil tau... Kakak bertanya karena Kakak sangat menyayangi Kamel. Tapi kakak tenang saja... Allah yang menjamin isi hati seseorang, Kak" Kemil semakin menutup keraguan Ramdani terhadapnya.
"Maafkan kak Adan, Kemil... Tadi pagi Kak Adan melihat Toni mengintip di depan pagar rumahmu, dan dia mengikuti kita sampai ke rumah ini. Kak Adan mohon sama kamu agar menjaga Kamelia darinya. Tidak ada yang bisa kak Adan harapkan selain dari kamu." Ramdani menepuk bahu Kemil dan menatapnya penuh harapan besar.
Kemil terlihat sedikit terguncang oleh pemberitahuan kakak iparnya itu.
"Kemil janji, kak... Kemil tidak akan membiarkan dia menganggu Kamelia kita lagi." Ujarnya kemudian.
"Baguslah kalau begitu... Pergilah sekarang... Kamelia sudah menunggumu." Pinta Ramdani setelah mendengar kepastian dari Kemil.
"Baiklah, kak... Kemil pamit." Ujar Kemil berpamitan dan meninggalkan Ramdani yang begitu terharu melihat keyakinannya.
****
Setelah mendapatkan Delman di depan rumahanya, Kamelia dan Kemil langsung berangkat ke pasar Tradisional di daerah itu. Kemil terus saja memerhatikan wajah cantik istrinya yang sedikit menyembab karena usia kehamilannya. Sesekali rambut nakal Kamelia menutupi sebagian wajahnya karena diterbangkan angin.
__ADS_1
"Kenapa melihatku begitu?" Kamelia sadar dilihati oleh suaminya sedari tadi.
"Hmmm tidak kenapa-kenapa... Kenapa kamu suka naik Delman?" Kemil mengalihkan pertanyaan Kamelia.
"Karena suara sepatu kudanya..." Jawab Kamelia asal. Kemil mengerinyitkan dahinya karena jawaban Kamelia.
"Memangnya kuda pakai sepatu?" Kamelia terkekeh melihat kebingungan di wajah Kemil.
"Ada, itu... Tik tak tik tuk tik tak tik tuuuk..." Ujar Kamelia sambil memainkan nada NAIK DELMAN ISTIMEWA dan menunjuk kearah kaki kuda yang berlenggak-lenggok di depan.
Kemil ikut terkekeh mendengar jawaban Kamelia.
Sebelumnya aku tidak pernah menangis kalau bukan karenamu, dan sebelumnya aku juga tidak pernah tertawa seperti saat bersamamu.
Kamu membawa perubahan besar dalam hidupku Kamel... Tapi aku suka perubahan itu~ Kemil menatap lekat wajah Kamelia. Dia seakan memiliki rasa takut di hatinya.
"Tadi kamu dan abung membicarakan apa sih? Sampai seserius itu kelihatannya." Kamelia akhirnya memberanikan diri untuk mempertanyakan kepenasarannya.
"Orang kepo itu rasa ingin taunya tinggi." Kamelia merengut.
"Iya... Memang itu artinya." Sahut Kemil menggoda Kamelia.
"Iya, itu kan bagus... Tandanya dia pintar." Rungut Kamelia.
"Kalau mau tau urusan orang tanda pintar juga?" Kemil semakin menggoda Kamelia.
"Iiih kamuuu... Susah ya berhadapan sama orang yang nggak mau kalah dan mengalah." Satu cubitan kecil mendarat di pinggang Kemil dan itu sukses membuat Kemil berteriak karena geli.
"Kasihan kudanya loh kalau kamu gerak-gerak gitu..." Kemil menakut-nakuti Kamelia. Dia tahu perempuan yang bersama dengannya itu memiliki perasaan iba yang begitu tinggi.
"Yaa Allah... Maaf kuda.." Benar saja. Kamelia langsung memasang wajah rasa bersalah yang membuat Kemil kesulitan menahan tawanya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, neng Kamel..." Ujar pak kusir itu.
"Oh iya, pak..." Kamelia menyahuti ucapan pak kusir dengan senang.
"Bapak kenal sama istri saya ini?" Kemil keheranan ketika pak kusir itu menyebut nama istrinya.
"Kenal atuh, den... Disini mah desa... Kita bisa mengenal satu sama lain. Berbeda dengan di kota. Siapa lo siapa gua... Apalagi dengan neng Kamel yang terkenal baik, peramah, cantik lagi." Tutur pak kusir menjelaskannya.
Kamelia dibuat tersipu oleh penuturan pak kusir yang memujinya di depan Kemil.
"Iya ya, pak... Berarti saya beruntung sekali mendapatkan Kamel..." Ujar Kemil membuat Kamelia semakin tersipu.
"Oh iya tentu..." Pak kusir mengacungkan kedua jempolnya kearah Kemil.
Kemil membayarnya dengan melebihkan ongkosnya karena permintaannya kepada pak kusir untuk tidak menambah sewa lagi di atas delmannya tadi.
"Wah banyak sekali ini mah, den..." Ujar pak kusir.
"Itu rezki bapak... Terima saja." Ujarnya dan berlalu hendak masuk ke pasar bersama Kamelia setelah pak kusir berterimakasih kepadanya.
"Ternyata membuat orang senang dan bersyukur karena pemberian kita itu jauh lebih ni'mat rasanya." Kamelia mengenggam tangan Kemil yang begitu terharu atas kebaikannya sendiri.
.
.
.
.
.
__ADS_1