KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
TAK SENGAJA MENEPATI JANJI


__ADS_3

Semenjak selesai di USG, Kamelia terus saja tersenyum sambil mengelus perutnya yang sudah semakin membesar.


"Apa kamu begitu senang?" Kemil memerhatikan raut wajah Kamelia yang berseri.


"Aku sangat senang... Bahkan aku bahagia." Kamelia masuk ke dalam mobil lewat pintu yang telah dibukakan Kemil untuknya.


"Kebahagiaanku juga akan memengaruhi perkembangan neurologis dan psikologis bayiku, agar semakin besar pula kemungkinan bagiku untuk melahirkannya dengan sehat." Sambung Kamelia ketika Kemil sudah berada di dalam mobil bersamanya.


"Karena kamu begitu bahagia, aku akan membawamu sore ini ke pantai." Kemil melajukan mobilnya kembali ke arah desanya.


"Benarkah...?" Kamelia seakan tidak percaya dengan pendengarannya. Wajahnya terlihat berbinar karena senang.


"Ada syaratnya..." Ucap Kemil datar.


"Syarat?" Kamelia menautkan alis matanya. Senyumannya yang sempat merekah lenyap seketika. Dia seakan takut syarat yang akan diajukan Kemil kembali membuatnya terluka.


"Kamu keberatan?" Kemil mengerti arti raut wajah Kamelia.


"Memangnya... Apa syaratnya?" Kamelia bertanya dengan sedikit cemas.


"Sepanjang perjalanan kamu harus tidur..." Kemil sengaja mengajukan syarat seperti itu karena dia tidak ingin melihat Kamelia mengalami hal seperti tadi.


"Apa harus? Tadi aku kan sudah tidur..." Kamelia menatap wajah Kemil yang asik memerhatikan jalanan di depan mereka.


"Yaaa tergantung... Kalau kamu mau pergi kesana, kamu harus tidur." Kemil membuat Kamelia dilema karena pilihannya.


Bagaimana aku bisa tidur? Tadi aku kan sudah tidur....

__ADS_1


Hmmm.... Aku pura-pura tidur saja kali ya...~ Batin Kamelia.


"Baiklah... Aku akan tidur..." Sahut Kamelia kemudian.


Kemil menepikan mobilnya untuk membantu Kamelia menyetel sandaran kursi mobil yang diduduki Kamelia.


"Tidurlah..." Perintah Kemil dengan lembut.


Kamelia menurut, dia menaikkan kedua kakinya dan tidur menghadap ke kanan tempat Kemil menyetir. Kamelia memakai telapak tangan kanannya untuk menopang pipinya dan melingkarkan tangan kirinya ke perutnya yang buncit.


Kemil membuka sweater yang dikenakannya dan menyelimutinya ke sebahagian tubuh Kamelia. Kemil mengusap-usap kepala Kamelia hingga Kamelia tertidur karenanya.


Maaf karena pernah menyakiti hatimu dengan sengaja, Kamel...


Aku janji akan menebusnya kembali....


Ada apa dengan di pasar dan di padang ilalang itu sebenarnya?


Aku benar-benar tidak habis ikir dengan diamnya... Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?~ Kemil benar-benar bingung dengan Kamelia.


****


Sore itu di tepi pantai.


Kemil masih menatap wajah Kamelia yang begitu tenang dalam tidurnya. Dia sama sekali tidak ingin membangunkan istrinya itu. Bahkan sudah hampir setengah jam mobilnya terparkir di bawah pohon ketapang yang berada sedikit jauh dari pantai. Namun Kamelia masih saja enggan meninggalkan alam mimpinya.


Kemil sengaja membuka kaca mobilnya agar Kamelia dapat merasakan semilir angin yang sepoi-sepoi. Desiran ombak yang menghempas bebatuan karang malah menjadi musik pemulas tidurnya.

__ADS_1


Tak lama, Perlahan-lahan Kamelia membuka matanya.


Dia mendongakkan kepalanya sedikit untuk mengintip ke arah luar mobil. Kamelia mengucek matanya yang sedikit menyembab karena kebanyakan tidur sedari tadi.


"Pantaiiiiii..." Serunya kesenangan.


"Seperti tidak pernah ke pantai saja..." Ledek Kemil datar.


"Memang tidak pernah..." Ujarnya pelan.


"Tidak pernah?" Kemil melototkan matanya tidak percaya. "Seusia ini kamu tidak pernah ke pantai sama sekali?" Ulangnya masih tidak percaya.


"Seseorang pernah menjanjikan aku untuk mengajakku ke pantai... Dan aku menunggu itu sehingga aku enggan pergi jika tanpanya." Tutur Kamelia lirih.


Kemil tertegun mendengar penuturan Kamelia.


Apa tadi dia sedang menyindirku? Berarti kali ini aku tak sengaja memenuhi janji yang telah aku buat dulu padanya~Gumam Kemil. Dia malu menatap Kamelia setelah mengetahui alasan Kamelia begitu antusias ketika melihat pantai.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2