
Di kediaman Effendi.
Apa kabar dengan Kameliaku? Aku sangat merindukannya~ Ramdani menatap sendu kearah pemandangan samping rumahnya.
"Adan... Ternyata kamu disini, nak?" Perempuan paruh baya yang tak lain adalah Maya, datang menghampirinya.
"Eh, Mama..." Ramdani sedikit menoleh kearah mamanya dengan tersenyum getir dan kembali memandang kearah semula.
"Kamu lagi ada masalah? Kenapa akhir-akhir ini Mama perhatikan kamu sering melamun?" Tanya Maya penuh perhatian.
" Tidak, Ma..." Jawab Ramdani datar.
"Kamu tidak usah bohong sama Mama..." Maya mengelus lembut punggung putranya itu.
"Tidak hanya akhir-akhir ini, Ma... Tapi semenjak Kamelia kembali dari kota beberapa bulan lalu." Tutur adan lirih.
"Kenapa kamu masih memikirkan Kamelia? Dia telah mempermalukan keluarga kita, nak." Maya memasang wajah kesal.
"Mama tidak usah pura-pura marah, Ma... Adan tau Mama dan papa juga sangat merindukan Kamelia, bukan? Adan tau setiap hari Mama menangis memikirkan Kamelia." Ramdani menggapai kedua tangan mamanya dan mengenggam tangan mamanya itu dengan erat.
Maya menarik paksa kedua tangannya dari genggaman Ramdani. Dia berjalan ke depan dan memunggungi putranya itu.
__ADS_1
"Tidak ada yang namanya mantan anak, mantan ibu, mantan ayah, mantan adik, mantan kakak, Adan... Kamelia tetap anak mama dan papa, dia tetap adik kamu satu-satunya, sayang. Hanya saja, Mama dan papa belum bisa memaafkan perbuatan Kamelia untuk sekarang ini." Maya mengatur napasnya yang mulai tersengal karena gejolak emosional yang muncul dari dalam dirinya.
"Benar Mama dan papa merindukan adikmu, tetapi tidak benar jika Mama dan papa membiarkan kesalahan adikmu begitu saja, nak..." Ujar Maya lagi sesenggukan.
Ramdani mendekati mamanya dan memeluk wanita paruh baya itu dari belakang.
"Maafin Adan, Ma... Hanya saja Adan sekarang ragu untuk tidak memercayai Kamelia. Adiknya Adan tidak seperti itu, Ma... Adiknya Adan gadis baik-baik." Tutur Ramdani penuh keyakinan.
"Tapi, nak..."
"Permisi, Nyonya... Den Adan.." Tiba-tiba pelayan rumahnya datang menyela ucapan Maya yang hendak memprotes Ramdani.
" Iya... Kenapa, bik?" Ramdani dan Maya segera menoleh kearahnya.
"Fitria?" Ramdani bergumam. Dia mencoba mengingat-ingat teman Kamelia yang bernama Fitria.
"Oh... Iya, bik... Suruh masuk saja ya, bik. Trus suguhin minuman sama cemilan. Nanti akan saya temui." Maya menyahuti karena dia ingat betul gadis yang sering dibawa anaknya itu untuk menemaninya setiap pulang ke desa waktu Kamelia masih tinggal di kota.
"Baik, nyonya..." Pelayan itu segera berlalu dari hadapan mereka.
"Maksudnya, Fitria yang sering diajak Kamelia nginap disini waktu itu bukan, Ma?" Tanya Ramdani masih kebingungan.
__ADS_1
"Iya, nak... Masa kamu tidak ingat. Kalau Kamelia minta diajak keliling, dia pasti juga akan ikut bersama kalian kala itu..." Saut Maya.
"Anaknya yang banyak bicara itu kan, Ma? Periang dan suka tertawa." Timpal Ramdani yang mulai mengingat sahabat Kamel.
"Tapi kamu suka kan, nak?" Ujar Maya menggoda putranya yang terlalu berambisi menceritakan tentang sahabat Kamelia itu.
"Dia hampir mirip Kamelnya Adan, Ma... Tapi tidak ada yang seperti Kamelia Sipria Effendi, adik Adan satu-satunya." Tutur Ramdani membanggakan adik semata wayangnya itu. Senyumnya kembali getir mengingat adik manjanya yang dulu periang.
"Ayo, kita temui Fitria, nak..." Maya mengalihkan perasaan Ramdani lagi. Dia tahu semuanya percuma saja. Ramdani tidak akan berhenti memikirkan Kamelia walaupun sedetik. Karena Ramdani sangat menyayangi adiknya itu.
Ramdani menurut. Dia mengikuti langkah mamanya menuju ruang tamu tempat Fitria diminta untuk menunggu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.