
Kamelia terus saja memandangi wajah bayinya yang masih memerah di dalam gendongannya itu. Meski ada luka dan kekecewaan di hatinya, namun tidak bisa dipungkirinya bahwa dia sangat menyayangi bayinya itu.
"Miilkaaa... Milkanya ibuuu." Kamelia mengeja nama anaknya yang diberikan oleh Kemil. "Cantiknya anak ibuuu..." Kamelia terus saja mengajak bayinya itu mengobrol.
"Kaameeell..." Seseorang masuk ke dalam ruangannya.
"Fitriaaa.." Sahut Kamelia sambil tersenyum lebar mendapati sahabatnya itu.
"Yaa ampuuun... Cantiknya ponakan Aunty..." Fitria mengambil bayi milka dari dalam gendongan Kamelia. "Siapa namamu, nak...?" Fitria dengan gemes dan tidak henti-hentinya mendaratkan ciumannya ke wajah mungil Milka.
"Milka Khumairah, Aunty..." Kamelia menyahuti seolah menggantikan putrinya.
"Milka? Kemil-Kamel dong... Hehehe..." Fitria tertawa menyeringai mendengar nama bayinya Kamelia.
"Iyakah?" Kamelia selama ini tidak ngeh dengan nama bayinya yang diberi Kemil. "Pantas saja dia bilang biarkan Kemil dan Kamel menyatu dalam diri Milka." Kamelia mengingat kembali ucapan Kemil kala itu.
"Jadi yang memberi nama Milka adalah Kemil?" Fitria begitu antusias mendengar penuturan sahabatnya itu.
Kamelia mengangguk sambil tersenyum malu.
"Cieee yang romantis..." Fitria malah menggoda sahabatnya itu.
"Iih Fitria... Kamu nih ada-ada saja. Oh ya... Kamu tau dari mana aku lahiran?" Kamelia menanyai sahabatnya yang begitu tiba-tiba mengunjunginya lagi.
"Aku dijemput kak Adan..." Sahutnya santai.
"Benarkah?" Kamelia membulatkan matanya seakan tak percaya.
"Iya, benar..." Belum sempat Fitria mengangguk, Ramdani telah datang menyahutinya dari pintu ruangan itu.
__ADS_1
"Abuuung.." Kamelia merentangkan tangannya kearah kakaknya itu. Dan dengan segera Ramdani memeluk Kamelia.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?" Ramdani meninggalkan kecupan di kepala adiknya itu.
"Alhamdulillah, Abung... Kamel sudah lumayan baik." Ujar Kamelia melepaskan dekapan kakaknya.
Ramdani meraih bayi Milka dari gendongan Fitria.
"Ponaan Paman yang cantik... Secantik ibu dan neneknya ya... Iya... Cantik..." Fitria dan Kamelia begitu terharu melihat Ramdani yang begitu lihai menggendong bayi Milka.
"Kamel.... Menurut kamu Fitria cocok tidak jadi kakak ipar kamu?" Ramdani bertanya namun tidak berani menatap kearah Fitria maupun Kamelia.
Fitria terbelalak mendengar pertanyaan kakak sahabatnya itu. Lebih-lebih Kamelia. Dia tidak menyangka kalau kakaknya itu akan terjebak cinta dengan sahabatnya sendiri.
"Abung... Abung tidak bercanda, kan?" Kamelia menutup mulutnya yang sempat ternganga.
"Tidak, sayang... Abung sedang tidak bercanda." Ramdani begitu berharap dengan jawaban dari adiknya itu. Sedangkan Fitria menundukkan kepalanya karena tersipu.
"Kamu bagaimana, Fit?" Kamelia menatap penuh harap kepada sahabatnya itu.
"Ada syaratnya." Fitria membuat Kamelia dan Ramdani melirik kearahnya dengan begitu tajam.
"Apa syaratnya?" Kamelia begitu penasaran dengan syarat yang akan diajukan sahabatnya itu.
"Kamu harus memanggil aku dengan kakak ipar ya..." Fitria menyeringai seraya memeluk sahabatnya itu.
Kalau tidak mengingat dia sedang menggendong ponakannya yang baru lahir. Mungkin dia akan jingkrak-jingkrak saking kesenangan.
"Assalamu'alaikum..." Kemil masuk dengan membawa beberapa kantong makanan yang sengaja dibelinya dari pasar tradisional.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam..." Mereka menjawab dengan bersamaan dan menghentikan gelak tawa mereka sedari tadi.
Kemil mengedipkan matanya mengisyaratkan sesuatu kepada Ramdani. Dan Ramdani yang mengerti isyarat adik iparnya itu segera mengambil posisi yang sedikit jauh dari Kamelia seraya mengajak Fitria duduk di dekatnya.
"Sayang... Ini aku bawain jajanan pasar kesukaan kamu." Kemil duduk di samping istrinya yang masih terlihat lemah.
"Jajanan pasar? Oh iya... Hari Rabu ada pasar tradisional ya, sayang." Kamelia begitu senang atas perhatian suaminya itu.
"Kemil melebihkan perhatiannya kala itu kepada Kamelia. Mulai dari menyuapinya, membelainya dan itu semua berlebihan menurut Kamelia.
"Sayang..." Kemil mengenggam tangan Kamelia dengan erat.
"Iya, sayang..." Kamelia menatap heran kearah Kemil.
"Apa kamu sudah siap untuk melakukan trauma healing?" Kemil begitu berhati-hati mempertanyakan hal yang sebelumnya pernah mereka bahas.
"Aku rasa sudah tidak perlu, sayang..." Ramdani dan Fitria yang berada di ruangan itu ikut melirik kearah Kamelia.
"Kenapa, sayang? Aku akan temani kamu." Bujuk Kemil.
"Trauma healing bisa dilakukan lewat keseharian, keluarga dan hal-hal lainnya, sayang. Dan betul kata kamu. Dengan tidak menghindari hal yang membuat jiwa aku pernah tergoncang." Kamelia meyakinkan suaminya itu.
"Lagian, Milka sudah menjadi obat untukku, sayang. Dan juga pernyataan Misya sudah membuat aku mengerti dimana letak salah aku." Kamelia tersenyum lirih berusaha membenarkan ucapannya sendiri meski dia tidak tahu kenyataannya seperti apa nantinya.
.
.
.
__ADS_1
.