
Entah berapa lama mereka masih terdiam di ruangan itu. Namun tidak satu pun Idris memperlihatkan tanda-tanda kalau dia akan memulai pembicaraannya.
"Apa kita hanya akan diam saja disini, Pa? Kamel dan Kemil belum makan siang..." Tiba-tiba Kamelia membuka pembicaraan. Wajahnya berubah jengah menunggu papa dan papa mertuanya itu untuk bicara.
"Kalau begitu kita makan siang saja dulu..." Agung berusaha sedatar mungkin.
"Paaah?" Kamelia benar-benar jengah karena merasa dipermainkan oleh orang tua dan mertuanya.
"Tapi katanya tadi kamu lapar?" Ujar Agung kembali menutupi niat mereka.
"Kamel yakin bi Ina sudah memberitahu Papa, kan?" Kamelia mulai meninggikan suaranya.
Kemil meraih bahu Kamelia dan mengusap-usapnya dengan lembut. Dia tidak menyangka Kamelnya akan bersikap sampai seperti itu.
Semua mata menatapnya penuh pertanyaan. Mereka sama sekali tidak mengerti arti kejengahan Kamelia.
"Iya, memang... Tapi itu tidak ada urusannya sama kamu, nak." Sahut Idris.
"Iya... Perempuan dalam foto itu memang tidak ada urusannya sama Kamel. Lalu bagaimana dengan dia?" Jari telunjuk Kamelia mengarah pada Toni. Tidak hanya Toni, semua terkejut ketika jari telunjuk Kamelia mengarah pada lelaki yang menjadi papanya Milka.
"Kami, kan sudah bilang itu tidak ada urusannya sama kamu, Kamel..." Idris mulai meninggikan suaranya.
"Kalau begitu penjaragakan dia..." Kamel berdiri dari duduknya. Jari telunjuknya kembali mengarah kepada Toni. Suasana semakin memanas. Kemil menyusul istrinya berdiri dan merangkul bahu Kamelia.
Mata Agung terbelalak mendengar ucapan putrinya. Permintaan-permintaan terakhir Rianti kembali berbisik di telinganya.
__ADS_1
"Dia tidak hanya ingin membunuh Papa... Tapi dia juga telah memperkosa akuuu..." Kamelia terisak.
Toni terlihat pasrah ketika Kamelia memojokkannya saat itu. Tapi tidak satu pun di antara mereka yang menyahut.
Kemil membenamkan wajah istrinya dalam dekapannya.
"Cukup, Kamel... Iya... Rianti mamanya Toni adalah adik dari papa mertua kamu." Agung membuka satu rahasia dalam hidup sahabatnya yang tidak ingin dibukanya selama itu.
Mata Toni membulat, raut wajahnya menggambarkan ketidakpercayaan terhadap ucapan Agung barusan.
Rahmah dan Maya menutup matanya sesaat. Dia tidak menyangka bahwa yang dipersitegangkan Kamelia dan suaminya adalah tentang Rianti.
Sedangkan Ramdani dan Fitria cukup terkejut mendengar penuturan Agung.
Kamelia dan Kemil terhenyak mendengar pengakuan Agung. Air mata Kamelia semakin menderas.
"Kenapa kamu harus mengungkitnya?" Idris begitu kecewa saat itu. Sangat kecewa terhadap menantu yang sangat dibanggakannya selama itu.
"Karena aku kasihan sama tante Rianti, Pa... Lukisan itu memang sulit untuk dimengerti, tetapi tidak untuk orang-orang yang berjiwa seni.
Dari pertama aku melihatnya, jelas sekali terlihat kesedihan di dalamnya, Pa.
Apa yang membuat kalian menyembunyikannya? Dan kenapa semua orang di desa ini juga ikut menyembunyikannya?" Kamelia terduduk.
Idris mengatur dalam napasnya. Matanya yang berkaca-kaca mengeluarkan air bening dari dalamnya.
__ADS_1
"Rasa sayang papa dengan Rianti sama dengan rasa sayang Ramdani terhadap kamu, nak... Papa sangat menyayangi adik satu-satunya papa itu. Hingga pada akhirnya tibalah dimana dia diusir dan tidak diakui lagi oleh kakekmu. Dia melakukan kesalahan bersama Bram.
Bram, Papa dan papamu tiga sekawan dari masa kuliah dulu.
Papamu berasal dari desa seberang. Papa dari desa ini. Dan papanya Toni dari kota.
Kami berdua, Papa dan papa Toni dipertemukan di fakultas yang sama, yaitu pertanian. Tapi karena papa dan papamu telah bersahabat dari masa SMA. Akhirnya kami bertiga bersahabat meskipun papamu di fakultas peternakan. Papa seringkali membawa papamu jika hendak bertemu Bram, papanya Toni.
Bram berada di desa ini untuk melakukan riset di desa ini. Dia tinggal bersama kami karena Papa yang mengajaknya. Papa pikir dia hanya akan menganggap Rianti sebagai adiknya. Tetapi dia malah mencintai adik kesayangan papa dengan cara yang salah.
Dia memperkosa Rianti juga, sampai Rianti mengandung Toni.
Kakek Adipati, papanya Papa. Mengeluarkan ultimatum yang sama seperti papamu kala itu. Hanya saja dia tidak merestui pernikahan mereka."
Idris terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada kejadian dua puluh empat tahunan silam.
.
.
.
.
Maaf y teman2... Di part ini agak galau penceritaannya. Kalau merasa geli dengan jalan ceritanya silahkan koment y..
__ADS_1
lagi tidak enak badan juga.
sabar y teman2