
Suara tangis bayi terdengar memecah suasana yang begitu menegangkan di ruang tunggu. Hari itu Fitria melahirkan putra pertamanya bersama Ramdani, abungnya Kamelia.
"Ma... Pa... Putraku telah lahir." Serunya lirih ketika keluar dari ruang bersalin seraya memeluk erat tubuh Maya.
"Iya nak... Selamat ya sayang." Saut Maya dalam dekapan putranya itu.
Sudah lima bulan semenjak kepergian Toni ke tempat neneknya. Semua terlihat semakin baik-baik saja. Dan sudah dua kali pula Toni mengunjungi Milka ke desanya di kediaman kakeknya, Adipati Arayan yang sekarang ditunggui keluarga omnya.
Milka pun tidak lagi meminum asi dari Kamelia, meski usianya belum genap dua puluh bulan.
Hari itu Kemil kedatangan tamu dari kota, sehingga selepas Fitria lahiran mereka harus langsung pulang.
"Loh... Asraf..." Mata Kamelia membulat, wajahnya terlihat berbinar ketika mendapati lelaki yang merupakan tamunya Kemil.
"Kameeel... Yaa ampuuun, sudah lama ya!" Seru lelaki yang dipanggil Asraf ketika mendapati Kamelia baru turun dari mobil bersama Kemil di depan rumah tempat ia bertamu.
"Kalian sudah saling mengenal?" Kemil mengernyitkan dahinya, dia seakan tidak senang melihat keakraban Istrinya dengan lelaki yang menjadi tamunya itu.
"Iya sayang... Dia teman kuliahku semasa di kota. Tetapi Asraf Fakultas pertanian." Tutur Kamelia yang tidak mengerti raut wajah Kemil.
"Sayang?" Mata Asraf melirik ke arah Milka yang tertidur pulas di gendongan Kemil. "Apa tuan Kemil suaminya Kamel?" Tanyanya lagi dengan wajah sumringah.
"Iya... Kamelia istri saya." Sahutnya seperti tidak bersahabat.
"Wah... Berarti si cantik ini pasti anak kalian berdua." Ujarnya.
__ADS_1
"Iya benar... Milka anakku dan Kamel." Kamelia tersenyum lirih mendengar pengakuan Kemil.
"Apa Asraf adalah tamu yang kamu maksud, sayang?" Tanya Kamelia mencairkan suasana.
"Iya sayang..." Saut Kemil datar dan disahuti senyum tipis sekaligus anggukan kepala Asraf.
"Kalau begitu, ayo masuk... Bi Ina sudah menyiapkan kamar untukmu As." Ajak Kamelia mendahului suami dan temannya itu.
"Eiits... Tunggu, tunggu..." Kemil menghentikan langkah Kamelia yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Kenapa sayang?" Kamelia kembali menolehkan badannya dan menatap bingung lelaki yang tengah dihadapi kecemburuan itu.
"Siapa bilang Asraf akan menginap disini? Dia akan diantar pak Wisnu ke villa Toni." Ujarnya ketus.
"Loh sayang... Tapi kan villa itu..." Kamelia hendak protes.
Perasaan pak Kemil tidak seketus ini kemaren-kemaren. Dan bahkan dia sendiri yang minta agar aku menginap di rumahnya ini.
*Tapi kenapa sekarang dia jadi berbeda ya?
Apa dia ada masalah*?~ Batin Asraf.
Kemil merogoh kantong celananya dengan susah payah.
"Assalamu'alaikum..."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam..." Saut mereka hampir bersamaan.
"Ah kebetulan pak Wisnu datang... Pak Wisnu, tolong antar tuan Asraf ke villa. Dia pasti lelah datang dari kota." Pinta Kemil, kemudian dia kembali mengeluarkan tangannya dari kantong celananya.
"Tapi den... Bukannya..."
"Sudahlah pak Wisnu... Kasihan tamu saya kelelahan..." Pak Wisnu hendak protes, namun lagi-lagi dipotong Kemil.
"Baiklah den..." Saut pak Wisnu meski heran bercampur bingung.
"Terimakasih pak..." Ucapnya senang. "Sampai ketemu nanti tuan Asraf." Kamelia menatap bingung ke arah suaminya yang dirasanya sangat aneh saat itu.
"Kamel... Aku pamit dulu ya..." Ujar lelaki yang bernama Asraf.
Kemil kembali menatap tidak suka melihat reaksi Kamelia ketika menyahuti pamitan Asraf.
Teman? Teman kok seakrab itu...~ Kemil menggerutu tidak suka dan segera berlalu meninggalkan Kamelia yang masih saja sibuk berbincang-bincang dengan Asraf.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.